Writer’s Block, Bagian 2: Lubang Cacing

+ Writer’s Block Bagian 1: Jalan Belukar

Dalam menyikapi writer’s block, saya selalu merujuk kepada sebuah pepatah lama: sedia payung sebelum hujan. Ya, menurut saya, cara terbaik untuk menghindari writer’s block adalah persiapan yang memadai. Jika payung kita anggapkan sebagai perkakas menghindari hujan; dalam bayangan saya, tentu ada juga perkakas yang dibutuhkan seorang penulis ketika hendak menulis. Perkakas inilah yang saya pikir barangkali bisa membebaskan diri kita dari writer’s block.

Pertama-tama, setelah beberapa kali menderita writer’s block ini, saya selalu menghindari diri menulis saat saya belum tahu apa atau bagaimana saya akan menulis. Bagi saya jauh lebih mudah untuk duduk dan memikirkan gagasan tulisan sebelum menghadapi layar komputer. Jika otak saya tidak cukup memadai (karena lelah, misalnya) untuk membayangkan apa yang akan saya tulis, saya ambil kertas dan membuat catatan.

Paling tidak ada tiga hal yang selalu harus saya ketahui sebelum menulis: permasalahan yang hendak ditulis, perkembangan permasalahan tersebut, dan tentu saja, bagaimana menyelesaikan permasalahan itu. Ketiga resep itu berlaku untuk tulisan apa pun. Cerita pendek, novel, makalah, bahkan mungkin sekadar tulisan di blog. Tiga hal ini saya anggapkan sebagai perkakas dasar untuk saya bawa ketika menulis. Kalau sudah mengetahui hal ini, saya percaya, delapan puluh persen tak akan ada writer’s block.

Meskipun begitu, tentu selalu ada dua puluh persen yang tak terduga! Tak jarang terjadi, penulis yang paling siap pun, tiba-tiba macet di tengah perjalanan. Terjebak di tengah keruwetan yang diciptakannya sendiri, dan satu-satunya cara untuk membebaskan diri, hanyalah menciptakan sejenis lubang cacing yang bisa membawa kita keluar dari sana.

Sejauh yang saya alami, ada beberapa titik dimana saya terjebak tak bisa melangkah lebih jauh:

1. Paragraf Pertama

Benar, paragraf pertama selalu merupakan sandungan pertama yang serius. Jika mengibaratkan tulisan kita sebagai toko, maka paragraf pertama adalah senyum sang pelayan. Senyum itu harus begitu tulus, tidak dibuat-buat, dan tentu saja tidak murahan. Karena demikian banyak tuntutan, ya, akhirnya sulit pula untuk dikerjakan. Saya punya kebiasaan menengok sepuluh atau dua puluh buku, hanya untuk meneliti paragraf pertamanya, dan mencoba memahami mengapa paragraf mereka begitu menarik, begitu membuat saya ingin membaca lanjutannya. Kadang-kadang saya berhasil mencontek salah satu dari mereka, mengubahnya sedikit, dan jadilah paragraf pertama saya yang tampak orisinil. Saya pikir ini trik yang sangat halal.

2. Klise

Sering terjadi, saya sudah menulis belasan halaman, atau bahkan puluhan halaman, dan tiba-tiba kehilangan semangat untuk melanjutkannya. Hmm, jika itu terjadi, biasanya saya langsung curiga bahwa saya telah menulis sesuatu yang membosankan. Sebelum pembaca merasa bosan dengan sebuah tulisan, pada dasarnya rasa bosan itu dengan mudah bisa dirasakan terlebih dahulu oleh seorang penulis. Namun ya, hanya sedikit penulis yang mau mengakui tulisannya membosankan. Bagi saya, jika saya merasa apa yang saya tulis sudah mulai membosankan, kecurigaan saya berlanjut dengan kewaspadaan adanya klise.

3. Tercerabut dari Tulisan

Karena satu atau banyak hal, sering seorang penulis harus meninggalkan sebuah tulisan di tengah jalan. Ketika ia kembali lagi ke tulisan itu, ia malah bingung dengan apa yang sedang ditulisnya. Writer’s block sering muncul pula karena hal ini. Bagi saya, itu ibarat kita tercerabut dari sebuah tulisan, dan kita kehilangan sentuhan baik dengan atmosfirnya, maupun dengan karakter-karakter di dalamnya (jika itu karya fiksi). Satu-satunya cara yang biasa saya lakukan, saya mencetak seluruh yang sudah saya tulis. Lalu membacanya berkali-kali, kadang-kadang sambil mengoreksinya, sampai saya mulai masuk kembali ke atmosfir tulisan tersebut. Biasanya menjadi lebih mudah kalau saya meninggalkan catatan apa yang belum sempat saya tulis, sebelum sebuah tulisan saya tinggalkan untuk sementara. Semacam remah yang kita tinggalkan untuk jalan pulang …

4. Tersesat

Dan adakalanya, meskipun saya sudah memiliki rancangan mengenai apa yang akan saya tulis, di tengah jalan tiba-tiba saya menemukan sejenis jalan yang lebih asyik. Saya meninggalkan jalan raya yang telah saya kenali, untuk tersesat di sebuah jalan yang elok namun tak menentu. Jika ini terjadi, ada dua kemungkinan yang bisa saya lakukan. Pertama, kembali ke jalan semula. Kedua, mencoba membuat peta baru, dalam arti, membangun rancangan tulisan baru yang didasarkan atas penjelajahan yang baru itu. Tentu saja ini hanya mungkin jika saya tahu bahwa saya sudah tersesat!

Sejauh ini, itulah yang sering terjadi pada saya. Ke depan, saya yakin banyak perkara lain yang bisa membuat seorang penulis terjebak di dalam writer’s block. Sejauh yang saya pahami, writer’s block dalam berbagai bentuk dan penyebabnya, hanya bisa diatasi oleh kesadaran bahwa kita tengah mengalami writer’s block dan bersiap-siap untuk mengakui bahwa kesalahan pertama-tama datang dari diri sendiri.

Selebihnya? Saya ingin mengutip pernyataan William Faulkner, “I only write when I am inspired. Fortunately I am inspired at 9 o’clock every morning.” Artinya? Ya, jangan maksa. Kalau sedang tak ingin menulis, tak perlu menulis. Itu saja.

11 comments on “Writer’s Block, Bagian 2: Lubang Cacing

  1. roslan jomel says:

    Salam.

    Setelah mencetak cerpen La Cage Aux Folles, langsung aje saya membacanya.

    Membaca tajuknya, saya fikir, “Aduh! Ditulis dalam bahasa Inggeris?”

    Rupa-rupanya tajuk saja.

    P/S: Di depan pintu utama Pusat Dokumentasi Melayu, Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur, terpamer (dipajang) buku saudara yang berbicara tentang sastera realisme kepengarangan Bapa Pram. Oleh kerana buku itu tidak dibenarkan untuk dipinjam, maka saya membaca sepintas lalu sahaja.

    roslan:
    sayang sekali ya, buku itu tidak bisa dipinjam. kalau tertarik, ada satu tulisan di blog ini yang saya ambil dari bab pertama edisi revisi buku tersebut (edisi yg diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, 2006). Sila membacanya. Judulnya: Realisme Pramoedya Ananta Toer (terdiri dari 2 halaman).
    (ekakurniawan)

  2. Armiza Nila says:

    Salam,

    Saya usai membaca La Cage Aux Folles.

    Saya terfikir apa benar seperti ceritanya itu… Tragis..memang Tragis…

    Mas Eka, saya tidak bisa mengulasnya tapi saya enak selaku pembacanya. Pengalaman baru -semacam di rantau orang gamaknya.

  3. sarastia yudith kusuma says:

    mas eka, menurutku, emang cuma kamu dan ugoran prasad yang bisa diharapkan. he3. jangan geer ya. tapi serius kok. semua cerpenmu, novelmu, esaymu, menggambarkan kerja yang tegang dan sungguh-sungguh hidup di dalam teks. untukmu, aku pingin membaca satu saja cerpen yang sederhana (atau barangkali udah ada, tapi terlewat olehku). maksudku adalah cerpen yang plotnya sederhana saja tapi touching gitu loh. asyik sih membaca cerita2mu yang selalu bermain2 dengan apa aja yang mungkin itu, tetapi kadang aku mengharapkan yang sederhana, sesederhana let it be yang dinyanyiin peserta american idol semalem, diantara hebohnya chikizee dan kegagalan archuleta, aku jadi benar-bener kebayang seluruh cerpenmu tu seperti peserta idol smalam menyikapi beatles, dan serentak aku kangen kamu, menuliskan sesuatu dengan plot yang simpel tapi uhhhhhhhhh gitu. kayak tu marquez di si cantik di pesawat terbang. eka dan ugo, emang kereeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!. kalo webnya ugo di mana sih?. kertas kosong dan enam tu benar2 cerpen indonesia YANG LAIN dechhhhhhhhhhhhhhh….KERENNNNNNNNN!!!!!!!!!!!!. salam buat istri tercinta, aku baca 2 novelmu mbak. suka. tapi cerpen2mu. sory, aku gak gitu suka. he3

    sarastia:
    yang sederhana selalu menjadi obsesi saya. semakin saya mencobanya, semakin saya sadar, yang sederhana merupakan yang paling sulit. sebagaimana haiku merupakan puisi yang paling berat dibikin. saya pikir, saya masihlah tertatih-tatih soal kesederhanaan ini :(
    (ekakurniawwan)

  4. sarastia yudith kusuma says:

    hei, halooo lagi. blogmu sekarang jadi favoritke dech, kapan aku ada waktu buat browsing. banyak pengetahuan penting diantara bodohnya para penulis lain. swear, penulis2 tu ternyata banyak yang bdodoh juga ya. suka ribut hal yang gak penting banget.capek dechhhhhh.
    Oh iya, emang sih, begitu aku baca lagi cerpen2 awalmu, yang sederhana dalam tema: surau, trus khotbah jumat, tu emang kacau ya. he3. surau, atau apa ya judulnya?yg lupa bacaan sholat tu, aku seneng banget temanya, aku kan anggota irmasta(ikatan remaja masjid attaqwa)tapi ahhh….

  5. sarastia yudith kusuma says:

    khotbah jumat tu bentuk awal belajar bentuk ya.parah juga ya ternyata. he3. tapi sekarang cerpen2mu emang bisa kuharapkan dech.La Cage Aux Folles, caronang, kasih tak sampai, kutukan dapur,penafsir kebahagiaan, tu super keren!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!. benar2 mpe cegukan dah bacanya!!!!tapi, ada banyak celah di beberapa cerpen yg membuatku sebel minta ampun, tu bibir itu merah jendral,masak sih 3 tahun kawin suaminya gak bisa negosiasikan soal keberatannya tentang gincu itu?. kamu cuma memberi alasan:nanti menyinggung marni, mengingatkan yg dulu2, padahal kan mereka aja sanggup mengusir bayangan2 persetubuhan pasangannya dengan orang lain KOK(yg menurutku :AKU GAK AKAN MUNGKIN BISA MNERIMA LAKI2 YANG GAK PERJAKA!GAK KEBAYANG DECHHHHHH.jijik!MUAK!skrg aja nulis mau muntah). trus yang paling bikin sebel tu GERIMIS YANG SEDERHANA, cuma mau bercanda soal kelakuan laki2 menyembunyikan cincin kawinnya kalau ketemu cewek lain kok susah amat sih.he3. menurutku, ne cerpenmu hari ini yang gagal.

  6. sarastia yudith kusuma says:

    oh, enggak belajar bentuk ya khotbah jumat tu. aku lupa. tapi pokoknya ribet banget tu cerpen. he3. oh ya, aku juga curiga jangan2 emang setelah suaru tu, kamu emang gak pernah sholat ya?. sayang dong kak….sholat kan cuma 5 menit. kalau gak hapal, tu beli bukunya syeh albani.jangan yang indonesia ya.gak sahih kebanyakan hadistnya. kecurigaanku, makin besar setelah cerpen2 amerikamu itu. kamu cerita kelakuan buruk mahasiswa indonesia di sana, cerita gay, kenapa sih waktu di LA gak nyari cerita2 yang islami.maksudku, soal2 bgm minoritas muslim di sana. temenku ada yang di sana, kerja di starbuck, dia banyak cerita tentang dirinya sbg minoritas muslim skaligus ilegal.

  7. sarastia yudith kusuma says:

    atau ne penyakit para penulis sih. hidup kosmopolit, lalu tema2nya juga kosmopolit. tapi ugo bisa buat ripin yang keren kok. maksudku, baca enam dan kertas kosong, kan gak kebayang dia buat ripin. palagi, tmnku bilang, ugo kacau gitu kan, gaya dan ampun dech.tau deh, intinya aku pingin di cerpen tu, ada penulis hebat yang mempunyai tema bgm identitas keberagamaan bertarung dengan identitas2 lain. tuh!!!!!kalau gak ada yang buat!terpaksa aku turun tangan yaaaa….awas ntar, takrebut seluruh penghargaannya.he3.tu, si dewi utari bikin sebel kan cerpen new yorknya tu, sinai judulnya.giliran ada agamanya, eeeeee ditampilkan sebagai penganut sekte sesat.sebel!.emang perjuangan identitas tu cuma hombreng pa, cuma kebebasan sex, cuma emansipasi?. juga termasuk identitasku memakai jilbab besar kan, identitasku untuk gak bergaul dengan laki2 yang merokok, identitasku yang merdeka dengan menahan diri.huuuuuuhhhh…!
    Soalnya mas, aku gak mungkin harapkan tema2 itu yang nulis anak2 annida, atau ayat2 cinta, atau yang udik2 itulah!.karena muslim is my choice an must be smart and cool!!!!!!!!!!!!!. borges aja nyesel gak bisa baca quran kok.ya kan?.tapi baca borges, serasa gak perlu baca apa2 lagi dah, juga gak perlu baca quran kayaknya.he3. segalanya dan bukan apa2.

  8. sarastia yudith kusuma says:

    titp komentar buat ugo: ripin tu fim banget ya….akan .lebih enak ditonton daripada dibaca kayaknya.

  9. ekakurniawan says:

    hai (lagi) sarastia,

    di antara draf2 cerpen tentang LA, saya juga nulis tentang orang2 muslim pasca WTC. tapi karena saat itu (ini) saya hanya butuh 5 cerita pendek untuk sebuah proyek bersama berjudul LA Underlover, yang jadi 5 cerita lain :) (saya sering terpaksa menyimpan draf2 cerita, karena kalau sudah terlalu banyak — 5 cerpen dalam 6 bulan buat saya banyak sekali — saya merasa kacau, hehe…)

    sebagai seorang muslim, tentu saya sangat tertarik dengan tema-tema keislaman (“Surau”, “Jumat ini Tak Ada Khotbah” — barangkali hanya sebuah usaha awal). tapi tentu saja saya juga pengin yang “smart and cool” gitu, lah. bukan sekadar karya dengan cuplikan hadis di sana-sini dengan karakter yang kalau tidak putih, hitam total.

    novel ketiga saya, yang saya tulis sejak 2004 (dan belum kelar), berkisah mengenai perkembangan islam di indonesia. sejauh ini, itu novel paling berat. meskipun ingin terbit tahun ini, saya belum terlalu yakin :)

    soal ugo,
    sejauh ini rasanya ia enggak punya blog. kalau ketemu (sudah lama enggak ketemu: kalau tidak salah, saat ini ia lagi di New York, semacam residensi teater mungkin), saya juga pengin membujuknya bikin blog, hehe…

  10. sarastia yudith kusuma says:

    YES!!!!!!kutunggu ya novel tentang islamnya. yang seru ya!awas!!!!!.eh, eku belum tau mau sms milih la cage atau yang mana. aku belum baca semua. yang dah kubaca dan pasti kusingkirkan : seorang yang mati pagi tadi, paragraf terakhir,tiurmaida, sepotong tangan,sebelum ke takao-paling sebel-,perahu cadik dan la cage kandidat kuatku. gus tf lumayan sih, tapi bosenin. hikayat kura2 juga bosenin, terlalu puanjang rentang waktu ceritanya, bertele2, capek. yg pasti juga aku gak mungkin dukung seno dong, dah kaya dia kan.he3.
    sukses dan sehat selalu untuk pasangan penulis muda favoritku: E & R Love Forever.

  11. sarastia yudith kusuma says:

    oh ya kak, aku belum baca novelmu.he3. sengaja kok. soalnya temen2ku baca semua, dah pada bilang bagus. aku kalau ke gramed dah gak tahan sih pingin beli. palagi lelaki haimau. dulu aku suka baca novel indonesia dari harimau2. guruku sma, ibu irine susida, aku ingat bener, tu keren dah,membuatku mencintai novel “sastra”. karna sebelumnya aku bener2 gak ngerti. agatha christie sih punya banyak, dari kakak. juga novel2 terjemahan lain yang ukuran bukunya selebar agatha gitu.
    kalau dah di gramed, aku mpe jalan memutar kok, menghindari lelaki harimau.swear. boong dosa dah. aku jarang sempet baca novel, cerpen minggu selalu baca dah, dan diantara semuanya, aku menemukan dan berharap sesuatu darimu dan ugo.makanya, aku takut lelaki harimau gak bisa memuaskanku. dilanda kecemasan yang lebih hebat karena aku harus bener2 meluangkan waktu utk novel kan.hari gini gitu loh. banyak PR, banyak masalah sehari2.tai pasti kubaca!!!!!!!!!!!!!dan aku menutup telinga utk semua komentar teman2ku. karna aku yang lebih dulu menemukanmu utk mereka.he3.

Comments are closed.