Writer’s Block, Bagian 1: Jalan Belukar

+ Writer’s Block Bagian 2: Lubang Cacing

Dalam memoarnya, A Movable Feast, Ernest Hemingway menyinggung soal writer’s block dengan mengenang apa yang biasa ia lakukan jika penyakit itu datang. Ia biasanya berdiri dan memandang atap-atap bangunan kota Paris sambil berpikir, “Jangan cemas. Kamu selalu menulis sebelumnya, dan kamu akan menulis sekarang. Yang harus kamu lakukan hanyalah menulis satu kalimat yang sebenarnya, dan terus menulis dari sana.”

Dulu saya tak percaya dengan yang namanya writer’s block. Maklumlah, sebagai seorang penulis pemula, saya sedang semangat-semangatnya menulis. Saya menulis dari pagi hingga malam. Segala hal bisa menjadi bahan tulisan. Seandainya di satu titik seorang penulis terbentur dinding dimana ia tak bisa lagi menulis, saya percaya itu ada penjelasannya. Dan penjelasan itu pastinya tak ada hubungannya dengan tulis-menulis.

Salah satu penjelasan barangkali: malas atau kurangnya motivasi. Barangkali ini alasan yang lain: kesehatan yang buruk, atau sebaliknya, terlalu kenyang makan. Bisa juga ditambahkan kondisi lingkungan yang tak kondusif, misalnya keluarga yang tidak mendukung, tetangga yang berisik. Bagaimanapun, alasan-alasan serupa itu saya pikir masih berlaku. Yang baru saya sadari, writer’s block bisa menyerang siapa pun yang pada dasarnya tak memiliki masalah non-tulis-menulis serupa itu, dan adakalanya memang berhubungan dengan disiplin tulis-menulis.

Ya, akhirnya, saya juga sering mengalami wraiter’s block ini. Pertama kali datang, rasanya seperti dikelilingi setan. Namun lama-kelamaan, bersama dengan datangnya penyelesaian-penyelesaian, saya mulai mencoba mengakrabkan diri dengan makhluk ini. Dan lama-kelamaan, saya juga mulai mencoba menyusun daftar-daftar trik dan tips untuk menghindarinya. Trik-trik ini mungkin tidak selalu berguna dan harus dimodifikasi setiap kali kasus writer’s block baru muncul, tapi cukuplah untuk membantu saya mengurangi hambatan-hambatan penulisan.

Saya selalu membayangkan laku penulisan sebagai sebuah usaha mencari jalan di sebuah belukar. Di dalam sastra, atau kesenian secara umum, sangatlah sulit untuk mengatakan bahwa apa yang kita lakukan adalah untuk menjadi “lebih baik” dari penulis terdahulu (paling tidak buat saya). Yang kita lakukan lebih tepatnya barangkali adalah: mencoba mencari satu jalan baru yang belum ditempuh.

Jalan itu bisa jadi harus kita buat di tengah belukar tak terjamah. Artinya, belum pernah ada penulis lain yang melewati ruang tersebut. Kita datang tanpa panduan, tanpa jejak, tanpa bandingan. Mungkin kitalah yang justru harus membuat panduan, untuk kita maupun untuk orang lain kelak, serta meninggalkan jejak yang siapa tahu berguna untuk penjelajah yang akan datang. Di tengah belukar seperti ini penyakit bisa muncul: kita mungkin tak tahu bagaimana harus membabat belukar rimbun sehingga kita malah terjebak di dalamnya. Atau kita bisa membabat tapi tak tahu harus membuat setapak ke arah mana. Atau kita tahu mau membuat setapak ke arah mana, tapi tak punya alat untuk membabat belukar. Saat itulah, saya pikir, wraiter’s block bisa muncul.

Tak selamanya penulis ingin membuka jalan di belukar yang belum dijamah. Adakalanya penulis ingin menelusuri setapak lama, yang sering dilalui para penulis pendahulu. Di sini barangkali telah banyak setapak dibuat, dan telah banyak pula jejak ditinggalkan. Begitu banyaknya, mungkin pada dasarnya setapak-setapak ini dengan caranya sendiri menciptakan belukar baru. Dalam situasi seperti ini, seperti seandainya kita masuk ke sebuah perumahan dengan begitu banyak jalan semrawut bersilangan, sangat mungkin seorang penulis terjebak di dalamnya, tersesat, dan menemukan writer’s block-nya.

Saya menemukan sejenis penjelasan yang rada-rada berbau psikologis dari Wikipedia mengenai feomena ini: Writer’s block merupakan fenomena menyangkut hilangnya kemampuan untuk memulai atau meneruskan tulisan, biasanya dikarenakan kurangnya inspirasi atau kreativitas.

Para psikolog menambah-nambahi dengan agak menyeramkan: bahwa writer’s block ini ada hubungannya dengan depresi serta kelainan refleks spontan di dalam otak. Ah, soal ini terserah mereka, lah. Kalau urusannya psikologis, saya pikir seorang penulis tak hanya akan kehilangan kemampuan memulai atau melanjutkan tulisan; barangkali ia juga akan kehilangan sentuhan dengan lebih banyak hal. Bukankah begitu?

Saya lebih suka mendefinisikannya secara lebih sederhana, dan dengan cara melihatnya secara sederhana, juga akan lebih sederhana untuk mencari penyelesaian-penyelesainnya. Kembali lagi: bagi saya fenomena writer’s block serupa seorang pejalan yang terjebak di tengah belukar. Belukar itu bisa merupakan rumpun yang belum terjamah, bisa pula merupakan belantara jalan raya yang tanpa petunjuk. Satu-satunya penyelesaian jika terjebak di dalam belukar semacam itu hanyalah dengan memahami, mengapa kita bisa masuk ke sana, dan bagaimana kita membebaskan diri dari sana.

Itu berarti saya harus tahu mengapa saya masuk ke belukar tersebut: mengapa saya menulis sesuatu. Saya juga harus tahu apa yang harus saya bawa untuk membabat belukar, saya harus tahu segala yang diperlukan untuk menuliskannya. Dan saya tak akan terjebak selamanya di dalam belukar, jika saya tahu kemana arah yang hendak saya tuju: kemana saya ingin membawa tulisan saya.

Atau lihat sisi baiknya: kadang-kadang terjebak di tengah belukar tanpa tahu mau pergi kemana, dan tak tahu mengapa berada di sana, bukankah juga mengasyikan? Terutama jika masih tersisa hasrat untuk bertualang. Begitu, bukan?

7 comments on “Writer’s Block, Bagian 1: Jalan Belukar

  1. merahitam says:

    Boleh juga analoginya mas. terjebak dalam belukar. Masalahnya, tiap kali saya ngalamin writer’s block, saya merasa kosong sekosong-kosongnya, tak bisa membayangkan atau memikirkan apapun. Biasanya kalau sudah begini, saya bolak-balik masuk ke kamar mandi. Entah kenapa, cara ini selalu berhasil. kamar mandi membuat saya ‘terisi’ kembali. Hehehe…

  2. roslan jomel says:

    Salam.

    Apa gejala sebegitu bukan dipanggil labirin?

    Ketika penulis mula menulis di atas meja yang ditumpuk buku-buku sasterawan terdahulu, maka penulis pemula, harus mencipta labirin fiksyennya sendiri, mencipta dunia baharu yang membawa perpekstif berbeza atau terperangkap di dalam labirinnya sendiri.

    p/s: Terima kasih kerana menayangkan secara percuma sedutan video Monolog Cantik Itu Luka.

  3. ekakurniawan says:

    merahitam;
    saya sendiri punya cara yang rada personal untuk mengisi lagi kekosongan: tidur. seperti ke kamar mandi, saya yakin sulit juga untuk menjelaskannya :)

    roslan jomel:
    benar, saya membayangkan dunia (ini atau dunia ide) semacam labirin. labirin bisa menjadi tempat bertualang yang menyenangkan … tapi juga bisa menjadi teror menakutkan. penulis yg siap bakal mengatasinya dengan hebat, yg tidak siap barangkali terjebak selamanya di sana. ini sekadar analogi saja, mungkin begitu.

  4. refanidea says:

    Logika mas Eka, menulis = bertualang, mirip tulisan Tia Setiadi “Petualangan Menjadi Manusia”.

    Kalau Tia, membaca = bertualang.

    Pernah baca juga di Kompas kan mas esainya Tia..?

    http://64.203.71.11/kompas-cetak/0710/06/humaniora/3894625.htm

  5. deni oktora says:

    apakah writer’s block juga berlaku kepada penulis lagu??, penulis puisi?? atau penulis script??

    karena masing-masing membutuhkan daya kreatifitas yang sangat tinggi

    salam kenal ya??

    saya juga ingin menjadi penulis

  6. Kalau saya sih kalau terjebak dalam belukar, gampang saja: bikin tenda. Nggak perlu tenda2 yang harganya 500 ribu yang biasa dijual di trotoar UGM yg sudah ditutup untuk kendaraan umum. Cukup buat sarang kayak burung. Om Eka, saya taruh di web iboekoe tips ini ya buat anggota Syarekat Buku baca….

    1. ekakurniawan says:

      @Muhiddin
      Silakan, Gus.

Comments are closed.