Wikileaks, Rahasia Negara, dan Suami yang Selingkuh

Negara, sebagai kontrak bersama, tak semestinya menyembunyikan sesuatu. Apa yang disebut “rahasia negara”, seringkali tak lebih dari “rahasia pemerintah”. Karena negara ini milik bersama, segala sesuatu mestilah terang-benderang: anggaran belanja, persenjataan, undang-undang, rencana jangka panjang, rencana jangka pendek, perjanjian, dan lain-lain.

Saya ingin membuat perbandingan. Katakanlah hidup bernegara bagaikan hidup berkeluarga. Andaikan si suami diam-diam memiliki istri simpanan, tentu saja si suami akan merahasiakan istri simpanan dari istri resminya. Itu rahasia. Pada dasarnya ia sudah beritikad tidak baik dengan mengabaikan transparansi keluarga. Tapi kita bisa memahaminya, kenapa ia memilih menyimpan rahasia itu. Sampai di sini serasa tak ada masalah, selama si istri belum tahu. Tapi apa yang terjadi jika rahasia itu bocor? Siapa yang salah, yang membocorkan rahasia atau si pemilik rahasia? Bagi saya sudah jelas: si pembocor rahasia tak bersalah, ia mengungkapkan kebenaran. Si pemilik rahasia salah dua kali. Yang pertama salah karena telah mengkhianati ikrar pernikahan, yang kedua salah karena menyimpan rahasia. Dan si pemilik rahasia juga dungu: membiarkan rahasianya bocor.

Oh ya, omongan ini tentu saja ada hubungannya dengan berita aktual akhir-akhir ini: Wikileaks. Tentu saja bocornya kabel diplomatik ini memang urusan Amerika, meskipun pada dasarnya juga urusan semua negara. Banyak fakta-fakta mencengangkan. Kita belum melihat data apa yang bakal bocor mengenai Indonesia-Amerika . Tapi yang mencengangkan adalah dahsyatnya sambutan Amerika dan perusahaan-perusahaan besar atas Wikileaks. Mereka bagaikan suami yang ketahuan selingkuh: mengamuk orang yang membocorkannya, tak sadar dengan kedunguannya sendiri.


Paulo Coelho, penulis “The Alchemist” menanggapi penangkapan Julian Assange (juru bicara Wikileaks) di Twitter sebagai berikut: “Since the dawn of times: when the news were bad, the messenger was killed.”

Saya kuatir jika Amerika berhasil membungkam kebebasan berbicara sebagaimana kasus terhadap Wikileaks, dengan mudah akan ditiru oleh negara-negara lain. Indonesia paling mungkin menirunya: di hadapan kita ada Rancangan Undang-undang Kerahasiaan Negara, yang kemungkinan besar bertabrakan dengan hak masyarakat memperoleh informasi. Memangnya apa yang mau dirahasiakan? Jumlah berapa senjata yang dimiliki negara, agar jangan sampai diketahui musuh? Yang telah terjadi selama ini, senjata-senjata itu lebih sering tertodong ke rakyatnya sendiri.

Apa yang terjadi jika negara menyembunyikan rahasia dari rakyatnya sendiri? Saya membayangkan sesuatu dimana negara mengawasi rakyatnya, sementara rakyat tak tahu apa-apa tentang negaranya. Horor novel “1984” barangkali bakal jadi kenyataan (dan tampaknya di dunia dimana Amerika sebagai polisi ini, sedang mengarah ke sana jika melihat Wikileaks coba dihancurkan dari sana-sini): “We are watching you!”

Seperti suami peselingkuh yang mengurung istrinya di rumah tanpa tahu apa-apa, sementara ia mengganas di mana-mana tanpa diketahui ….

NB. Oh ya, baru saja meluncur situs http://indoleaks.org. Saya tidak tahu siapa yang membuat, tapi mari kita sambut.