V dan Novel Grafis Gelap

Masih ingat novel terkenal karya George Orwell berjudul 1984 (Nineteen Eighty Four)? Novel itu berkisah mengenai rezim fasis di mana seluruh aktivitas warga negaranya dikontrol oleh penguasa. Tak ada tindakan yang tak terlihat, dan tak ada ucapan yang tak terdengar. Orwell merupakan penulis Inggris, dan negeri yang ditulis di novelnya itu juga mengacu kepada Inggris.

Tahun 1984 sudah berlalu, dan apa yang diramalkan novel itu tak terbukti (paling tidak, tak terbukti seluruhnya). Akan tetapi ada suasana Inggris yang ditangkap oleh Alan Moore sebagaimana kemudian ditulisnya, “Sekarang tahun 1988. Margaret Thatcher memasuki jabatannya yang ketiga dan mengungkapkan keyakinannya atas kepemimpinan kubu Konservatif tanpa henti sampai abad mendatang. Putri bungsuku sekarang tujuh tahun dan pers tabloid membahas ide kamp konsentrasi bagi orang-orang penderita AIDS.”

Di sinilah Alan Moore menulis novel grafis V for Vendetta, dengan setting Inggris yang fasis, tak ramah kepada kaum minoritas, serta segala tindakan warga negara dipantau oleh penguasa. Jadi, fiksi ini kurang lebih hidup di alam pasca 1984 George Orwell, dengan situasi yang sama. Perbedaannya, di V for Vendetta muncul tokoh hero khas novel grafis, bahkan khas komik pada umumnya, meskipun kita juga harus membedakannya pula dengan jenis-jenis hero dalam komik lainnya. Perbedaan yang paling nyata adalah munculnya bobot ideologis serta tema yang kompleks dalam V for Vendetta.

Ini pula yang biasanya dipergunakan untuk membedakan komik dengan novel grafis secara sederhana. Dalam V for Vendetta, selain mengenai fasisme negara, ia juga membicarakan mengenai hak-hak kaum minoritas (ada kisah mengenai seorang lesbian, misalnya), identitas (siapa V di dalam maskot yang selalu tersenyum bagaikan seorang Joker?), serta tawaran mencengangkan dari penulis akan ide mengenai anarkisme. Dalam komik umumnya, karakter cenderung hitam-putih. Ada antagonis yang jahat di satu sisi, dan pahlawan kebajikan di sisi lain. Tak pernah terungkap ideologi kebenaran apa yang melatarbelakangi karakter-karakter tersebut.

Dalam novel grafis, unsur kompleksitas lebih terasa, sebagaimana kita bisa memperolehnya jika membaca novel sastra. Maka dalam V for Vendetta, kita bagaikan menghadapi pertarungan gagasan mengenai fasisme dan anarkisme. Fasisme diwakili oleh pemerintah, dengan Suara Takdir sebagai corongnya dan anarkisme diwakili oleh V. Pembaca umumnya mungkin tak akan kesulitan untuk mengidentifikasikan karakter fasis, mengingat gambaran-gambaran stereotif mengenai ideologi ini sudah umum dikenali: kamera pengintai, patron kharismatik yang tak bisa dibantah, birokrasi yang terstruktur rapat, serta tentu saja kamp pembersihan.

Dalam menggambarkan karakter anarkis, V for Vendetta menampilkan kecerdasannya. Ide itu tak hanya muncul dari pembicaraan atau monolog karakternya, tapi bahkan diimplementasikan ke dalam cerita. Anarkisme, yang pada dasarnya ditopang oleh keyakinan individualisme dan kontrak sosial (Anda memiliki kebebasan penuh, dan satu-satunya batas kebebasan Anda adalah kebebasan orang lain), diterjemahkan Alan Moore melalui karakter yang penyendiri dan bahkan nyaris tanpa identitas. Selain itu, juga digambarkan oleh V yang selalu membuat perjanjian dengan rekannya dalam melakukan aksi. Selain itu tentu ada satu lagi karakter kuat dalam gagasan ini: adanya keperluan untuk menghancurkan apa yang buruk, untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Kita bisa membicarakan perdebatan antara ide-ide ini maupun dengan ide-ide besar lainnya, yang kita tahu pernah dan masih hidup di dunia kita. Pembicaraan seperti itu sering kita temui dalam esai-esai filsafat maupun sastra. Yang mengagumkan, kini hal semacam itu pun bahkan bisa kita temui dalam buku komik, tanpa harus menghilangkan karakter komik sebagai media yang sejak awal mengajak kita bertualang dan mencari hiburan. Novel grafis seperti V for Vendetta telah memberi jalan, peluang, untuk mengeksplorasi berbagai gagasan dalam bentuk komik.

Lantas apa kelebihannya dari sastra yang kita tahu telah berumur lebuh tua dan memiliki eksplorasi yang telah lebih luas? Di sini perbedaannya sangat jelas: novel grafis mempergunakan gambar berpanel (sebagaimana komik umumnya) sebagai “bahasa”. Dalam novel grafis, selain mempertaruhkan unsur-unsur sastrawi seperti cerita, karakter, tema, pada dasarnya ia juga mempertaruhkan unsur-unsur seni rupa dan grafis. Membicarakan atau menikmati novel grafis dari sudut seni rupa pun akan membuka banyak ruang interpretasi tak terbatas.

V for Vendetta, berhubungan dengan temanya, mengusung karakter grafis yang cenderung gelap. Seperti novel grafis karya Frank Miller Sin City, grafisnya sangat terpengaruh oleh gaya film noir dari Prancis yang cenderung didominasi kontras hitam dan putih. Memang gaya ini lebih konsisten dilakukan Frank Miller dalam Sin City, dengan grafis kontras membentuk siluet hitam-putih. Dalam V for Vendetta, grafisnya dikerjakan oleh David Lloyd, karakter siluet kontras itu pun muncul, namun diiringi aksen warna lain. Meskipun begitu, pilihan warna ini tidak membuat komik menjadi “ceria” bagaikan komik-komik superhero, sebab warna-warna ini justru membuat grafisnya semakin kelam. Itu terjadi karena pilihan-pilihan warna yang cenderung kelabu: biru, ungu, serta sefia.

Telah lama memang, komik sebagai kesenian mulai merambah ke eksplorasi yang lebih menantang. Ia, yang sejak awalnya memang lahir bersamaan dengan teknologi grafis, dan karenanya sangat terikat dengan industri, mulai memperoleh apresiasi yang lebih serius daripada sekadar media hiburan, sebagaimana film juga mulai memperoleh apresiasi yang memadai. Pada komik dan novel grafis, kesan itu memang tampak terlambat sekali. Meskipun begitu, tema-tema menantang seperti yang ditampilkan V for Vendetta tampaknya membuka peluang kesetaraan dengan bentuk seni lain yang telah lama diterima.

Selain V for Vendetta, juga Sin City yang telah saya sebut, masih banyak novel grafis atau komik yang layak untuk memperoleh apresiasi. Beberapa di antaranya bisa disebut, misalnya A History of Violence (telah diangkat ke layar lebar), Lone Wolf and Cub sebuah manga karya Kazuo Koike dan Goseki Kojima peraih Eisner Award, atau Budha karya Osamu Tezuka (barangkali tidak lupa, ia penulis manga Astro Boy). Jika kita lihat, komik-komik dengan tema dan grafis yang lebih serius ini, yang kemudian dikenal sebagai novel grafis, tak hanya muncul di Amerika, namun merebak ke seluruh dunia, termasuk Jepang yang kuat dengan karakter manganya. Atau menginginkan tema-tema yang lebih keseharian? Cobalah membaca novel grafis Marjane Satrapi (Persipolis, dan Embroideries).

Maka, selamat datang V for Vendetta dan selamat datang novel grafis. Untuk siapakah novel grafis ini diperuntukkan? “Cerita ini diperuntukkan bagi mereka yang tidak mematikan televisi saat acara berita,” kata David Lloyd. Tapi jangan khawatir, novel grafis tetap dihadirkan juga untuk menghibur Anda, meskipun setelahnya mengajak Anda untuk sejenak merenung.

6 comments on “V dan Novel Grafis Gelap

  1. merahitam says:

    Jadi novel grafis itu komik dengan cerita yang lebih dalam dan kompleks, gitu mas?

  2. merahitam says:

    Eh, lupa, aku dulu pernah baca komik yang dibuat SGA kalau gak salah, karena aku juga lupa judulnya, apa itu juga termasuk novel grafis?

  3. ekakurniawan says:

    “Jadi novel grafis itu komik dengan cerita yang lebih dalam dan kompleks, gitu mas?”

    definisi ini sebenarnya agak kasar dan cenderung mempermudah saja. secara liberal, saya lebih suka menganggap semua komik (cerita) adalah novel grafis. mungkin lebih tepat kalau dikatakan, novel grafis=novel yang disampaikan dengan bahasa grafis (di sini bisa bercampur antara gambar dan teks).

    ya, punya Seno mestinya juga novel grafis.

  4. asfan says:

    novel grafis setahu saya ceritanya jarang yang mengangkat tema superhero……dan biasanya novel grafis dibikin satu buku tamat, kalo gak salah sich….:)

    1. ekakurniawan says:

      @asfan: tergantung definisi kamu sendiri. saya lbh suka definisi yg sederhana. novel grafis=novel yg ditulis dg grafis. itu berarti meliputi seluruh tradisi apa yg kita kenal sbg “komik” (kalau kita mau kritis, istilah komik ini juga rancu, sebab awalnya, komik=gambar yg lucu). soal satu buku selesai, itu hanyalah masalah produksi. novel biasa pun bnyk yg dipecah2. dmikian jg soal tema, bisa apa saja.

  5. asfan says:

    novel grafis yang pernah aku baca antara lain revolusi iran karya marjane satrapi,
    hictory of violence pembuatnya aku lupa, palestina karya joe sacco, gambarnya menarik denan goresan garis dan shape hitam putih yang kelam dan artistik…..

Comments are closed.