Umberto Eco (1932-2016): “Saya Takut Mati Kehilangan Rasa Humor”

Dua penulis favoritnya merupakan penulis-penulis yang gemar “bermain-main”: James Joyce dan Jorge Luis Borges. Jika yang pertama bermain-main dengan elemen penting dalam kesusastraan, yakni bahasa; yang kedua bermain-main dengan elemen yang tak kalah pentingnya juga, yakni gagasan. Umberto Eco melangkah lebih jauh dari keduanya, bermain-main dengan bentuk (atau nama) lain dari bahasa dan gagasan: simbol.

Novel pertamanya, The Name of the Rose, merupakan misteri Abad Pertengahan. Novel bergaya detektif di mana untuk memecahkan teka-tekinya, mempergunakan perangkat analisis semiotik simbol-simbol, pengetahuan kitab suci, dan bahkan teori sastra. Tak ada pembahasan mengenai “mawar” di novel tersebut, dan untuk itu, sekali lagi, Eco bermain-main dengan simbol.
Aslinya, ia memang seorang filsuf. Profesor semiotik di Universitas Bologna (juga beberapa universitas lain). Sebelum terkenal sebagai novelis, ia menulis begitu banyak naskah akademik, juga esai-esai kritik sastra, serta spekulasi-spekulasi filsafat.

Meskipun dalam naskah-naskah akademiknya ia terbiasa mempergunakan cara naratif, Eco baru benar-benar menulis novel ketika berumur empat puluh delapan tahun. Bahkan sampai akhir khayatnya (19 Februari 2016), ia masih menganggap menulis novel sebagai “kerja sampingan”, yang hanya dilakukannya di akhir pekan dan terutama di musim panas (ketika libur mengajar).

Umberto Eco lahir 5 Januari 1932 di kota Alessandria, Italia. Kota yang sebagaimana kata-katanya, kembali merujuk kepada sesuatu yang simbolis, “Terkenal karena topi Borsalino-nya.” Seperti sebagian besar penulis, semuanya berawal dari kegemarannya membaca. Ketika ia kecil, ia sering disuruh mengambil sesuatu ke loteng rumah, dan ketika ia menemukan peti penuh buku peninggalan kakeknya, ia menjadi lebih sering pergi ke loteng tanpa diminta, menghabiskan waktu dengan membaca.

Membaca novel-novelnya, bahkan mungkin tanpa perlu membaca kajian-kajian akademisnya mengenai semiotika, kita akan merasakan betapa kuatnya pengaruh simbol-simbol dalam kehidupan manusia. Manusia adalah makhluk yang hidup dengan simbol-simbol. Dengan simbol, mereka tak hanya mencoba mengekalkan peristiwa atau ingatan, tapi juga, seperti pernah diungkapkan Eco dalam satu wawancara, membuat manusia berbohong.

Kita menyaksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Agama tampil dalam bentuk simbol. Masyarakat ribut karena menemukan terompet tahun baru terbuat dari kertas bekas sampul Al-Quran, juga ribut menemukan motif alas sepatu yang menyerupai lafal Allah. Pada saat yang bersamaan, orang berkomunikasi tak lagi mempergunakan kalimat lengkap yang bisa dimengerti dengan mudah, tapi berbentuk stiker atau emoticon, juga dengan peluang untuk diinterpretasi.

Segala hasil kebudayaan manusia pada dasarnya bisa disederhanakan sebagai sekumpulan simbol-simbol yang bisa dibaca oleh siapa pun, baik dari lingkungan kebudayaan tersebut berasal maupun bukan, atau dari generasi simbol-simbol itu diciptakan, atau jauh setelahnya. Di sinilah benturan-benturan bisa terjadi: ada yang membaca simbol-simbol sebagaimana apa adanya, tapi juga ada yang menginterpretasikannya sesuai dengan keadaan yang berbeda-beda.

Dalam salah satu novelnya, The Mysterious Flame of Queen Loana, kita bisa melihat bahwa artefak budaya (dalam hal ini komik, majalah, buku, rekaman, dan koran), meskipun itu memiliki sifat sosial dan dalam tingkat tertentu menggambarkan suatu generasi, pada saat yang sama juga bersifat personal. Apa pun, ketika “dibaca”, pada akhirnya menjadi sesuatu yang subyektif.

Bisa dibilang novel tersebut memperlihatkan “main-main” Eco yang paling nakal mengenai simbol dan kebudayaan. Bercerita tentang lelaki tua yang terkena stroke dan kehilangan sebagian ingatannya (tepatnya: ingatan episodik, kenangan-kenangan peristiwa yang bersifat personal). Untuk menyembuhkan ingatannya, ia kembali ke masa kecilnya melalui komik yang pernah dibacanya, rekaman yang pernah didengarnya, majalah dan koran yang pernah dilihatnya. Dalam rangka itulah, si tokoh utama kembali harus menjelajahi dunia pembacaan.

“Dalam rangka memahami pesan misterius yang terdapat di dalam buku, kita perlu mencari ilham di luar apa yang dikatakan manusia,” kata si tokoh. Dan dalam hal ini, sudah jelas bagaimana dia membaca karya-karya itu di masa lalu, telah berbeda dengan saat ia membacanya bertahun-tahun kemudian, bahkan meskipun benda yang dihadapinya (artefak kebudayaan, simbol) merupakan benda yang sama.

Kita bersitegang tentang bagaimana hidup ini harus dijalani, dan bersitegang mengenai tafsir apa yang akan terjadi setelah kita mati. Semuanya berawal dari simbol-simbol yang diciptakan, baik simbol-simbol agama, ras, seksualitas, maupun lainnya.

“Satu-satunya yang saya takuti jika mati adalah, takut kehilangan rasa humor,” kata Eco dalam satu wawancara. Dunia yang tegang ini barangkali telah kehilangan rasa humor, tapi setidaknya Umberto Eco meninggalkan dunia ini dengan warisan-warisan karya yang, jika kita mau terbuka melihatnya, sangat jenaka.

Obituari ini diterbitkan di Jawa Pos, edisi Selasa, 23 Februari 2016.