Tukang Tidur

Death’s brother, Sleep.
– Virgil

Saya kok yakin, semua orang pingin bisa menghasilkan banyak duit hanya dengan tidur. Tapi mungkin cuma anggota dewan yang malas dan pelor (nempel langsung molor) waktu sidang bisa benar-benar sukses melakukannya. Meskipun begitu, mari kita optimis sedikit.

Nyatanya teman saya, Si Markum yang bodoh itu, kadang-kadang bisa juga lho menghasilkan duit hanya dengan tidur. Bagaimana caranya?

Tunggu. Mungkin kamu akan tanya, “Bukankah pelacur menghasilkan uang dengan tidur?” Dengan penuh rasa hormat kepada mereka, saya tidak yakin demikian. Mereka tak akan menghasilkan uang jika benar-benar tidur. Mereka justru harus bangun, bukan? Di sini, bisa saya bilang (saya yakin Markum juga setuju), bahasa telah menyelewengkan makna “tidur”. Menambah-nambahi sesuatu yang enggak perlu.

Akhir-akhir ini saya harus banyak tidur. Sudah sejak lima hari lalu saya jatuh sakit. Awalnya saya pikir masuk angin, ternyata tidak mempan dengan semua penyembuhan orang masuk angin, termasuk dikerok. Ada kemungkinan gejala typus. Apa pun itu, saya memutuskan untuk beristirahat saja. Lagipula malas pergi ke rumah sakit. Sejak itu saya mulai sering tidur. Siang tidur, malam tidur. Hanya melek waktu makan, dan waktu nonton bola.

Saat itulah terpikir oleh saya, enak ya kalau tidur bisa jadi pekerjaan? Tidur lelap, sementara orang membayar kita untuk tidur.

Ngomong-ngomong, benarkan tidur seenak itu? Ya, kalau sedang ngantuk, lalu menemukan kasur empuk, tidur pasti enak sekali. Tapi pasti enggak enak kalo harus tidur ditemani orang ngorok yang suka nendang kesana-kemari. Juga mana enak tidur di ruang sidang disorot televisi? (Buat saya enggak enak, mungkin buat mereka enak kali, ya?) Apalagi kalau tidur sampai membayangkan semua boneka mainan menjadi hidup begitu mata kita terpejam.

Bagaimanapun, saya doyan tidur. Saya merasa bisa berpikir saat tidur. Kadang-kadang pernah juga saya membayangkan sebagai salah satu dari “tujuh manusia tidur”. Eh, tahu tujuh manusia tidur, kan? Ceritanya ada di Al-Kitab maupun Al-Quran. Tentang tujuh orang beriman yang lari dari penguasa lalim, lalu masuk gua dan tidur. Ternyata mereka tidur lama sekali, sehingga ketika bangun rejim sudah berganti. Enak, kan? Coba bayangkan hari ini tidur, terus terbangun ketika Indonesia sudah damai tentram dan sejahtera? (Ah, mungkin tidak seindah itu, karena pada saat yang bersamaan mungkin kita sudah kehilangan orang-orang tercinta).

Baiklah, saya suka tidur. Tapi belum ingin tidur yang lama sekali, apalagi lama banget enggak bangun-bangun. Ada waktunya untuk itu, bukan? Lagipula kita tahu tidak mungkin terus-menerus tidur. Buat saya sendiri, saya harus bangun kalau mau cari duit.

Jadi pertanyaannya, bisakah menghasilkan duit sebagai tukang tidur? Marilah berandai-andai:

Satu. Tukang tidur ini mungkin pemimpi yang keren. Hanya kalau dia tidur ia bisa bermimpi. Dan orang-orang mau membayar dia untuk menceritakan mimpinya.

Dua. Tukang tidur ini mungkin menampilkan gejala-gejala unik jika dia tidur (hmmm, katakanlah dia tidur malah menghasilkan energi setara untuk menyalakan lampu satu rumah), maka para ilmuwan akan menyuruhnya tidur dan membayar dia untuk tidurnya.

Tiga. Ini mungkin paling absurd. Tukang tidur ini kalau tidak tidur, sangat mengganggu sehingga orang-orang membayarnya agar tidur. “Itu gue banget,” kata Markum. Benar. Waktu kecil dia sering disogok ibunya agar tidur. Semakin sering dia tidur, semakin banyak dia ngaislin duit. Maklum, kalau enggak tidur, dia gelendot terus ke tetek ibunya, sehingga si ibu bahkan enggak bisa berdiri.

Empat? Isi sendiri …

Yang jelas, adik saya ketagihan permainan PlayStation. Di masa lalu, jika saya menghabiskan banyak waktu untuk main game, ibu saya akan menghardik saya, “Main terus? Emang kamu bisa makan dengan main game?” Anak sekarang tak akan takut dengan pertanyaan macam begitu. Nyatanya memang banyak pemain game menghasilkan uang sebagai pemain game profesional.

Nah, apa salahnya jadi tukang tidur profesional?

Maaf kalau pertanyaannya rada aneh. Maklum sedang sakit, dan masih belum selesai loading dari tidur. Bagaimanapun, seperti kata orang bijak, selalu ada jalan buat yang mau berusaha. Nah, dengan penuh simpati pada pengidap insomnia akut, bisa saya katakan, tidur juga sebuah usaha. Ya, kan? Zzzzzz ….

One comment on “Tukang Tidur

  1. ganyabubrown says:

    hahahahaha, kereeen,,,
    tp rasanya pernah baca disuatu artikel *lupa dimana*
    orang dibayar bwt tidur , they are bed tester,
    jadi mereka yang ngetes seberapa empuk dan nyaman kasur tsb
    n how fast they got sleep on it :D

    enak juga ya,
    ikut tidur aah klo gitu..

Comments are closed.