Tidore: Melipir ke Desa Topo

Di tempat yang baru, biasanya saya mengandalkan peta untuk orientasi ruang. Sayang sekali hingga hari kedua, saya tak juga menemukan peta kota Ternate. Lobi hotel bersih-bersih saja dari benda semacam itu. Maka andalan kedua bisa diambil, ngelayap tanpa tahu tujuan, hanya mengandalkan rasa iseng menangkap pesan-pesan di sekeliling.

Berdua dengan Hilmar Farid, kami memutuskan untuk menyelinap ke Tidore. Seperti kita tahu, Tidore merupakan pulau tetangga Ternate. Hubungan kedua pulau itu dari dulu pasang-surut. Bersaing dan bersahabat. Jika kita perhatikan gambar uang kertas seribu rupiah, gunung besar di latar belakang adalah Tidore, yang kecil di latar depan adalah Mestara, dan kemungkinan besar gambar tersebut diambil dari Ternate.

Setelah tersesat naik angkutan kota (sekali lagi, kota ini kecil saja, angkutan kota tak memiliki trayek tertulis di bagian depannya, jadi harus rajin bertanya ke sopir), kami berhasil kembali ke hotel dari tempat seminar. Dari hotel kami naik ojek (bayar 5000 rupiah) ke Bastiong. Itu pelabuhan penyeberangan ke Ternate. Karena sudah tanya-tanya dulu, ada dua pilihan harga untung menyeberang. Pertama, kapal fery kecil reguler kapasitas 16 penumpang dengan tarif 8000 rupiah (nunggu penumpang penuh, tapi biasanya tak lama); atau memakai speed boat dengan sewa 40 ribuan rupiah (di lokasi kami ditawari tarif 50 ribu rupiah). Tentu saja kami memilih yang murah saja.

Ada hal yang menarik tentang orang-orang Ternate. Saya menganggap mereka tipe yang tak malu-malu mengungkapkan pendapat atau protes jika ada sesuatu yang salah. Dua kejadian memperlihatkan itu. Pertama di angkutan kota. Seorang ibu marah-marah karena minta berhenti tapi mobil jalan terus. Sopir berdalih ia tidak mendengar. Si ibu mendebat, “Itu karena kamu putar musik kencang sekali.” Dalam hal ini si ibu benar, dan si sopir menyadari kesalahan ada padanya, tertawa kecut. Kejadian kedua terjadi di ferry yang menyeberangkan kami ke Tidore. Ada indikasi si pengemudi kapal akan melebihi muatan. Seorang bapak marah kepada pengemudi, bahwa itu tidak benar. Tapi alasannya lucu juga. Ia tidak bicara soal keselamatan pelayaran, tapi, “Lihat kita sedang ada tamu (maksudnya aku dan Hilmar), jangan mempermalukan diri sendiri!”

Sejujurnya kami belum tahu mau kemana atau berbuat apa di Tidore. Kami tak punya peta dan niatnya memang cuma melipir-melipir sekadar orientasi ruang. Maka ketika tukang ojek merekomendasikan untuk naik ke Desa Topo (awalnya saya salah dengar sehingga harus bertanya-tanya lagi), ya desa itulah kemudian jadi sekadar tujuan kami. Maka ketika kami sampai di Brum (mudah-mudahan saya tidak salah tulis), pelabuhan di bagian Tidore, kami langsung bertanya bagaimana caranya ke Desa Topo.

Seorang polisi dan dua orang ibu membantu kami. Kami naik angkutan umum ke Swasio. Perjalanan darat ini semacam menelusuri satu sisi pulau, dengan Pulai Mestara jadi pemandangan di laut dan Ternate di bagian belakangnya. Seorang pemuda yang duduk di samping saya, dengan semangat membanggakan Pulau Mestara, sebagai pulai yang dicetak di uang seribu. Betapa menyenangkannya ngobrol-ngobrol dengan orang setempat yang ramah ini. Kami belum sampai ke Swasio ketika si ibu yang duduk di depan memberitahu untuk ke Desa Topo, lebih baik turun di situ dan ganti angkutan.

Desa Topo memang bisa dibilang berada di puncak bukit. Perjalanan ke sana melalui jalan terjal yang kemiringannya nyaris 45 derajat. Saya sih tampaknya tak memiliki keberanian sekiranya harus menyetir di tanjakan seperti itu. Tapi sopir angkutan kami santai sekali, itu makanan sehari-harinya. Setelah sekitar seperempat jam, kamis ampai di ujung desa. Kalau mau lanjut, harus jalan kaki.

Desanya unik. Rumah-rumah bertumpuk hampir vertikal. Saya bayangkan, anak-anak di sini pasti sehat, karena untuk main ke tetangga saja mereka harus jalan kaki naik dan turun. Desanya juga sepi, tipikal desa umumnya. Hanya ada beberapa orang sedang mengerjakan satu bangunan, dan warung kecil yang tampaknya hanya menjual jajanan anak-anak. Yang bisa kamu lakukan cuma hal yang memang hendak kami lakukan ketika naik ke desa itu: melihat laut dari ketinggian.

Dari Desa Topo ini kita memang bisa melihat laut, juga pulau-pulau kecil, dan tentu saja melihat Pulau Halmahera. Saya sempat mengambil foto. Tapi selebihnya tak ada yang bisa dilakukan. Akhirnya dengan angkutan yang sama (sopirnya mau menunggui kami), kami memutuskan jalan ke Swasio saja. Siapa tahu ada yang bisa dilihat. Paling tidak mencari segelas kopi.

Swasio kota kecil yang tenang, jauh lebih tenang dari Ternate. Angkutan kota berseliweran dengan musik yang keluar dari sound system mereka. Bising, tapi karena tidak banyak, tak terlalu mengganggu. Malah relatif unik. Angkutan dalam kota lainnya yang beroperasi adalah becak yang didorong oleh sepeda motor. Seperti kota-kota lainnya di Jawa, saya sempat melihat ada distro, sejenis toko pakaian yang menjual t-shirt semacam Quiksilver, Monster, Billabong dan sejenisnya. Saya tak tahu apakah produk asli atau bajakan, tapi siapa yang peduli?

Setelah mencari-cari, akhirnya kami menemukan warung soto. Tapi kami tak bisa memesan soto karena kata si penjual: “Belum belanja daging ke Ternate.” Jadi banyak kebutuhan sehari-hari kota ini, diimpor dari Ternate (dan Ternate sendiri mendatangkannya dari tempat lain, biasanya Makassar atau bahkan dari Jawa). Akhirnya kami makan ayam goreng dan minum kopi. Pemilik warung bukan orang setempat, tapi pendatang dari Jawa Timur (suami) dan Jawa Barat (istri). Hebat juga mereka datang ke “ujung dunia” begini untuk mencari penghasilan.

Tiba-tiba waktu sudah pukul 6. Berbeda dengan Jakarta, di sini pada jam seperti itu langit masih terang. Kami memutuskan untuk kembali ke Ternate.

Sebelum tidur, kami sempat mampir ke sebuah desa bernama Tubo bersama rombongan sastrawan. Itu merupakan desa tempat Sultan Ternate beristirahat. Ada sebuah mata air alami di sana (karena tengah malam, saya tak sempat memeriksanya). Masyarakat sekitar secara swadaya membangun semacam pendopo sederhana untuk sultan beristirahat. Di sana, seperti umumnya acara yang melibatkan pejabat daerah, kami disuguhi tari-tarian daerah. Saya tak terlalu menikmati tarian itu. Perjalanan melipir ke Tidore membuat saya lelah dan … ngantuk. Sudah saatnya kembali ke Amara, hotel tempat kami menginap.

One comment on “Tidore: Melipir ke Desa Topo

  1. Rushdy says:

    saya kagum anda bsa berkunjung ke kampung halam saya.. cuma mau koreksi, topo bukan desa tapi kelurahan topo.. soalnya masuk ke teritorial kota tidore kepulauan.. syukur dofu..

Comments are closed.