Politik itu Kitsch

Estetika di mana kotoran (tai) diabaikan dan dianggap tak ada merupakan estetika kitsch, kata Milan Kundera di bagian akhir novel The Unbearable Lightness of Being. Jika saya tak salah ingat, berkali-kali ia membicarakan hal yang sama di novel yang lain. Mungkin di The Joke atau di Life is Elsewhere. Yang jelas, gagasan (atau kemuakan) atas kitsch barangkali merupakan salah satu yang penting dalam novel-novelnya.

Dan tentu saja kitsch yang paling tak disukainya adalah kitsch gaya estetika Komunis Rusia. Sudah menjadi rahasia umum, Kundera membenci hampir segala hal mengenai Rusia. Bahkan tak jarang ia menolak wawancara jika diketahuinya wartawan tertentu berasal dari Rusia. Sebagaimana umum diketahui, ia harus meninggalkan negerinya (Ceko) tak lama setelah negeri itu diinvasi tentara Rusia, dan tinggal di Paris sampai hari ini. Tema mengenai invasi itu, bahkan sudah muncul sejak novel pertamanya, The Joke.

Estetika kitsch meniadakan segala hal yang tak dikehendaki. Dalam kaca mata Kundera, estetika Komunis Rusia tak lain adalah kitsch: mereka meniadakan segala yang tak dikehendaki (oleh mereka). Tapi buru-buru Kundera mengingatkan: Kitsch merupakan estetika ideal untuk semua politikus dari berbagai partai politik maupun gerakan. Jika Anda melihat seorang politikus di depan kamera televisi dan buru-buru mendekati seorang anak, lalu mencium pipinya, itulah kitsch.

Membaca novel ini saya jadi ingat dengan apa yang diperbuat calon presiden dan wakil presiden kita belakangan hari. Susilo Bambang Yudoyono dan calon wakilnya, Boediono, mendeklarasikan pencalonan mereka dalam suasana megah di Sasana Budaya Ganesha, Bandung. Deklarasi itu, semua orang tahu, meniru-niru penetapan pencalonan Obama-Biden akhir tahun lalu. Warna biru memenuhi ruangan (ya, itu warna Partai Demokrat), dengan selingan warna merah dan putih (itu warna bendera kita). Tepuk tangan tertata. Iringan lagu dari paduan suara. Poster-poster didesain mengilap. Semua itu apa lagi jika bukan kitsch?

Calon lain, Jusuf Kalla dan Wiranto, mendeklarasikan diri mereka di tugu proklamasi. Ini kitsch yang lain: mereka ingin mengambil ideal dari gambaran mengenai Soekarno dan Hatta, para proklamator itu, seolah-olah mereka mewarisi semangat tersebut. Bahkan kalimat terkenal dari naskah proklamasi, “dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”, mereka adopsi. Ketika citra ideal dan yang tak dikehendaki ditutupi, itulah kitsch.

Setelah melihat deklarasi dua pasangan calon sebelumnya, pasangan lain, Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto, membuat gebrakan mengejutkan. Mereka mendeklarasikan pencalonan mereka di tempat paling kotor di seputaran Jakarta: tempat pembuangan sampah Bantar Gebang. Apakah mereka sedang menunjukkan sejenis estetika anti-kitsch?

Tunggu dulu. Megawati dan Prabowo tidak sedang mempertunjukan sampah. Mereka bahkan menutupi sampah itu dengan pasir, kerikil dan konblok. Dan bukit sampah ditutup dengan bendera merah-putih raksasa yang konon memecahkan rekor sebagai bendera terbesar versi Muri. Bahkan seandainya tidak mereka tutupi, tetap saja yang ingin mereka perlihatkan bukan sampah itu. Inilah yang dengan tegas ingin mereka sampaikan: kepedulian kepada rakyat jelata, nasionalisme (mereka menyanyikan lagu-lagu perjuangan dari awal hingga akhir acara) sekaligus patriotisme, dan jelas itu semua bukan sampah.

Benarlah kata Kundera, kitsch tak mengenal ideologi dan partai politik.

***

Saya ingat di sekitar tahun 1998, sekelompok demonstran mengenakan ikat kepala yang sama, bertuliskan nama komite mereka. Laki-laki dan perempuan. Tentu saja ikat kepala semacam itu tak ada hubungannya dengan apa pun yang mereka perjuangkan. Keseragaman itu hanya sejenis pertanda eksplisit mengenai sejenis ikatan persaudaraan di antara mereka, hal lumrah di semua gerakan politik. Pada dasarnya mereka sedang merayakan estetika kitsch ini, terutama aspeknya yang paling penting: sentimentalitas.

Ikat kepala dan persaudaraan yang terbentuk olehnya membuat mereka merasa sentimentil. Nostalgia.

Perkaranya juga sama dengan sekelompok demonstran lain yang selalu mengacungkan tangan kiri yang terkepal, bukan tangan kanan. Sebagaimana ikat kepala, tangan kiri yang terkepal mestinya tak ada hubungan apa-apa dengan politik kiri (yang mereka yakini). Ideologi seolah-olah ditentukan apakah Anda mengepal dengan tangan kiri atau tangan kanan. Estetika kitsch menunjukkan bahwa apa yang berada di permukaan, jauh lebih penting daripada apa yang mengendap di dalam.

“Identitas kitsch tak datang dari suatu strategi politik, melainkan dari citra, metafor dan kosakata,” demikian Kundera menambahkan, masih di novel The Unbearable Lightness of Being.

Tak perlulah kita membicarakan mengenai pencitraan partai politik atau kandidat melalui iklan di televisi maupun surat kabar. Tanpa itu pun, mereka (sadar tidak sadar) sudah mempergunakan estetika kistch secara tepat guna untuk mendulang suara. Demikianlah mengapa partai politik, misalnya, merasa harus memiliki warna dominan partai, di luar lambang, nama dan anggaran dasar. Lebih dari itu, Partai Demokrat menciptakan bahasa tubuh berupa jempol dan telunjuk yang terbuka dan digabungkan antara tangan kanan dan kiri, membentuk segitiga. Dengan kata lain, cukup lakukan hal itu untuk menunjukkan Anda simpatisan Partai Demokrat. Cukup membuat isyarat jari membentuk moncong banteng, untuk memperlihatkan Anda simpatisan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (dan ya, pakailah jas warna merah).

Dan cukup mengatakan “lebih cepat lebih baik”, untuk menunjukkan simpati Anda kepada Jusuf Kalla dan Wiranto. Juga cukup mengatakan kata “neoliberal”, untuk membuat sepasang calon bagai kebakaran jenggot, sekaligus ampuh untuk menjadi peluru. “Neoliberal” menjadi sejenis kotoran di negara miskin seperti Indonesia dalam parade kitsch politik mereka.

Anda tak perlu menjadi komunis untuk membuat polisi marah, cukup mengenakan kaus oblong dengan gambar palu dan arit.

Pada dasarnya kita semua korban kitsch. Kita marah ketika lagu “Rasa Sayange”, kesenian reog, batik, diaku negara lain, sebab kita merasa hal-hal itulah yang membuat kita menjadi Indonesia. Ya, negara pun membutuhkan kitsch. Negara membutuhkan lambang-lambang itu, lagu-lagu perjuangan itu, untuk menciptakan rasa haru. Sentimentil. Nostalgia. Ketika Indonesia dimasukkan sebagai salah satu negara paling korup, kita berusaha menampiknya, meskipun faktanya korupsi dimana-mana. Mengapa? Sebab korupsi adalah kotoran. Ia tak cocok untuk parade, tak menimbulkan haru. Begitulah kitsch dalam politik bekerja dan dipekerjakan.

Beruntunglah kita hidup di negara dengan keragaman tendensi politik, meskipun jauh dari sempurna. Dalam situasi semacam itu, novel Milan Kundera yang saya sebut di atas mengindikasikan bahwa, “(kita) kurang-lebih dapat membebaskan diri dari inquisisi kitsch: individu bisa menjalani individualitasnya, seniman bisa menciptakan karya yang tak biasa.” Semoga memang benar begitu.

Tapi bisakah politik keluar dari kitsch? Selama politik adalah mengumpulkan massa, dengan parade dan arak-arakan dan lambang-lambang, sejujurnya saya meragukan itu akan terjadi. Bukankah tidak ada individualitas dalam politik semacam itu? Sebaliknya, mereka merayakan kebersamaan, persaudaraan, bahkan keseragaman. “Kitsch merupakan pemberhentian di antara keberadaan (being) dan ketidaksadaran (oblivion),” kembali ditegaskan Kundera dalam novelnya. Dan bukankah di titik itu pada dasarnya politik berada?

One comment on “Politik itu Kitsch

  1. Berto Tukan says:

    yang saya suka dari milan kundera adalah cara berceritanya yang menyenangkan dan mencampuradukkan beragam gaya. kalo ‘kekekalan’, dari awal sudah terlihat bermain-mainnya si tokoh aku (yg sy pahami sebagai kundera). dan jelaslah bahwa seluruh isi novel ini adalah sebuah permainan. tapi seperti kata si aku tentang averous (kalo ga salah mengeja) bahwa ketika dunia dianggapnya tak penting, maka bermain-mainlah siasatnya uuntuk memahami dan bertahan di dunia ini.meskipun dia tahu, dengan permainan itu tak seorang pun tertawa…

    maka mari kita bermain main
    hehehe

Comments are closed.