The Shadow of the Wind

Beberapa waktu lalu, saya menghabiskan waktu luang dengan membaca novel Carlos Ruiz Zafon, The Shadow of the Wind. Jika kamu suka membaca buku petualangan, menyibak misteri, dengan tokoh anak belasan tahun terlibat dalam roman percintaan, buku ini akan saya rekomendasikan. Sejujurnya, buku semacam itulah yang saya baca untuk menghibur diri. Tak jauh berbeda dengan buku-buku yang saya baca belasan tahun lalu.

Sebagaimana kebanyakan novel yang baik: bab-bab pertama buku ini dibuka langsung oleh permasalah yang misterius. Daniel, anak seorang penjual buku antik, menemukan sebuah novel karya Julian Carax berjudul The Shadow of the Wind di Kuburan Buku. Itu semacam perpustakaan tersembunyi dimana buku-buku disimpan. Dalam sekali baca, ia segera menyukai novel tersebut, dan tentu saja berusaha untuk menemukan karya lain dari penulis yang sama.

Di sinilah kemudian misteri itu muncul: ia tak menemukan novel lain karya penulis tersebut dimana-mana, meskipun jelas penulis tersebut menulis banyak novel. Informasi selanjutnya, Daniel segera tahu bahwa ternyata ada seseorang, selama bertahun-tahun, juga memburu novel-novel karya Carax. Untuk apa? Untuk dibakar dan dihancurkan. Seluruh isi novel tebal ini kemudian adalah petualangan Daniel untuk mencari tahu, siapa orang misterius yang menghancurkan karya-karya Carax, dan apa motivasinya?

The New York Times Book Review menyebut Zafon sebagai, “Gabriel Garcia Marquez meets Umberto Eco meets Jorge Luis Borges for a sprawling magic show, exasperatingly tricky, and mostly wonderful …” Jujur saja, menurut saya agak berlebihan. Novel ini sesederhana karya detektif, dengan Daniel dan teman-temannya berperan sebagai detektif amatir. Kecuali barangkali sama-sama ditulis dalam bahasa Spanyol, saya tak tahu dimana kesamaannya, baik secara teknis maupun tema, dengan novel-novel Marquez.

Tentu saja, novel ini penuh trik-trik yang menipu, dengan putaran-putaran tak terduga di dalam plotnya. Sesuatu yang sekilas akan mengingatkan kita kepada Borges. Apalagi tema cerita berkisar di sekitar buku, yang merupakan tema kebanyakan cerpen Borges. Dan kita juga tahu, Borges banyak mempergunakan trik-trik cerita detektif dalam cerpen-cerpennya. Tapi perbedaan mendasar: trik-trik tipuan dalam cerpen-cerpen Borges, sebagian besar merupakan lelucon filsafat. Di novel ini, itu tak lebih merupakan kebutuhan plot.

Baiklah, itu hanya pandangan saya. Di luar itu, novel ini tetap asyik dibaca. Ia mencampurkan kisah percintaan, petualangan, politik, dalam sebuah tragedi keluarga. Dan semuanya dilacak dari seorang penulis yang buku-bukunya menghilang secara misterius, dengan setting kota Barcelona tahun 1945. Jika ada waktu luang, saya tak akan keberatan membaca novel berikutnya dari Zafon, yang tampaknya merupakan skuel dari novel ini, yakni The Angel’s Game.