Tetralogi Buru dan Novel ‘Modern’

Tetralogi Buru bisa dibilang merupakan satu upaya Pramoedya Ananta Toer untuk menjawab apa itu menjadi Indonesia. Di akhir tahun 50an, ketika perkara menjadi Indonesia sedang hangat, jika tak bisa dikatakan panas, ia mulai memikirkan satu seri novel yang bisa mencari dan melacak jejak-jejak nasionalisme Indonesia.

Jawaban Pramoedya adalah kembali ke akhir abad 19 hingga awal abad 20. Itulah memang masa subur benih-benih nasionalisme Indonesia mulai disemai dan bertunas. Dalam hal ini, Pramoedya berhasil menemukan tokoh ideal anak kandung semangat ini: Tirto Adhi Soerjo. Bukan politikus yang kelak menjadi presiden pertama semacam Soekarno, atau aktivis kiri yang bergerak tanpa batas geografis semacam Tan Malaka, tapi seorang wartawan sekaligus penulis roman.

Tirto Adhi Soerjo (Blora, 1880-1918) merupakan perintis suratkabar dan kewartawanan nasional. Melalui Tirto, Pramoedya bisa mencomot simbol-simbol nasionalisme Indonesia. Terutama karena Tirto merupakan pendiri suratkabar pertama berbahasa Melayu, Medan Prijaji. Tirto ini pula yang mengerti fungsi organisasi sebagai motor gerakan nasional, dengan membentuk Sarekat Dagang Islam.

Begitulah Pramoedya kemudian mempergunakan Tirto sebagai model untuk tokoh Minke dalam tetralogi Buru. Karya ini terdiri dari empat rangkaian novel, yang saling bersambung sekaligus masing-masing bisa dianggap karya terpisah: Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988).

Sekaligus melalui karya tersebut, Pramoedya memperlihatkan betapa nasionalisme Indonesia pada dasarnya merupakan anak kandung yang sah dari modernisme (sekali lagi modern-isme) Indonesia. Barangkali bahkan bisa dikatakan, tetralogi Buru sebagai sebuah karya modern dalam makna yang sesungguhnya: di sana lah “identitas” menjadi penting dan manusia serta kemanusiaan menjadi perkara utama di atas segalanya. Dengan kata lain, modernisme merupakan tema pokok karya ini dan dari sanalah bagaimana nasionalisme Indonesia dibentuk.

Digambarkan Minke merupakan protagonis dengan latar belakang anak priyayi, feodal Jawa. Itu menjadi latar belakang yang kontras karena kemudian Minke bicara mengenai pencerahan, revolusi Prancis, serta kesetaraan (misalnya dikisahkan bagaimana ia lebih suka memilih bahasa Melayu yang tak mengenal strata daripada bahasa Jawa yang berjenjang-jenjang).

Tokoh ini bukan tanpa karakter tragik sama sekali: di satu sisi ia mencoba membebaskan diri dari kungkungan feodalisme, di sisi lain ia demikian terpukau oleh modernisme yang dibawa oleh orang Eropa; keterpukauan yang kadang harus diingatkan oleh teman-teman Eropanya juga. Di satu sisi ia belajar dari orang-orang Eropa untuk membebaskan diri dari belenggu tradisinya, namun sekali lagi, di sisi lain ia harus melawan orang-orang Eropa ini demi merebut kembali tafsir akan kepribumiannya. Jangan dilupakan pula: ia jatuh cinta kepada gadis Indo, gadis Cina, dan puteri Maluku. Di sini ada sejenis kritik tersembunyi: semuanya dilihat dari kepala orang Jawa (Minke), dan menjadi “modern” seolah-olah sekadar menjadi “tidak Jawa” (atau menikah dengan bukan orang Jawa).

“Modern” tak hanya layak dimateraikan kepada novel-novel ini menyangkut temanya, melainkan juga atas bagaimana karya ini ditulis Pramoedya. Ditulis dalam bentuk sejenis memoar, tetralogi Buru memperlihatkan karakter utama dari apa yang disebut modern: segala sesuatu dipersonifikasikan ke dalam diri, subyek. Begitulah bagaimana Indonesia, tepatnya sejarah Indonesia yang sedang bergerak di pergantian abad itu, dilihat dari cara pandang Minke. Meskipun begitu, di beberapa tempat kita bisa menemukan bagaimana subyek ini bergerak dari tokoh satu ke tokoh lain (misalnya Nyai Ontosoroh), hanya untuk menemukan semesta tetap dilihat dengan cara dipersonifikasi.

Secara mengejutkan, di novel keempat, Rumah Kaca, kita menemukan apa yang selama ini menjadi subyek, tak lebih dari obyek. Hanya dengan cara mengetahui apa itu “modern” bisa mengerti permainan ini.

Di novel ini, tafsir mengenai ke-indonesia-an jelas bukan sesuatu proyek gemilang yang berakhir bahagia. Minke meninggal di masa ketika kebanyakan orang justru mulai melupakannya, sendirian dan terasing. Demikian pula penafsiran ini tak juga kunjung gemilang ketika novel tersebut mulai dipikirkan pengarangnya. Barangkali Pramoedya tak akan pernah menuliskan tetralogi Buru seandainya apa yang disebut Indonesia telah terang-benderang dan tak ada masalah. Kenyataannya di awal tahun 60an keadaan demikian gawat: persaingan antara Partai Komunis dan militer nyata terlihat; Soekarno memimpin dengan demokrasi yang “terpimpin”; perang dingin merongrong di luar dan di dalam perbatasan. Tetralogi Buru bisa dikatakan merupakan usaha lebih lanjut Pramoedya dari apa yang telah dilakukan Tirto Adhi Soerjo setengah abad sebelumnya.

Novel ini seolah melengkapi nasib tragik untuk menemukan tafsir menjadi Indonesia yang diangankannya. Meskipun telah direncanakan sejak akhir tahun 50an, tetralogi Buru baru ditulis sekitar dua belas tahun kemudian, di dalam tahanan.

Inilah yang diperoleh Indonesia dalam usahanya menjadi “modern” di tahun 65. Pemberontakan yang gagal oleh segerombolan orang yang kemudian dikenal sebagai Gerakan 30 September, menjadi awal perburuan orang-orang Komunis dan simpatisannya. Pramoedya yang dikenal sebagai salah satu ketua Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organ kebudayaan Partai Komunis Indonesia, menjadi salah satu yang kemudian ditangkap oleh tentara. Itu kali ketiga ia masuk tahanan: pertama kali dijebloskan ke penjara oleh Belanda di masa agresi militer karena ketahuan membawa selebaran gelap, kedua ditahan A.H. Nasution di masa Soekarno karena menerbitkan buku Hoa Kiau di Indonesia, yang membela keberadaan etnis Cina.

Ia sempat ditahan di penjara Salemba, kemudian dipindahkan ke Nusakambangan. Pada tanggal 16 Agustus 1969, Pramoedya memulai hari-hari pembuangannya yang terentang hingga 10 tahun di Pulau Buru, sebuah pulau di bagian selatan Maluku. Bersama ribuan tahanan politik lainnya, ia menebang kayu, membuka lahan, berternak ayam, dan dilarang menulis. Izin untuk menulis baru ia terima empat tahun kemudian, dan dari sanalah ia menulis beberapa karya penting, di antaranya empat serangkai novel yang kemudian lebih banyak dikenal sebagai Karya Buru, mengacu ke tempat novel-novel itu ditulis dan pengarangnya ditahan.

Novel pertama, Bumi Manusia, terbit setahun setelah Pramoedya dibebaskan tahun 1979, melalui penerbitan yang didirikannya bersama teman sesama veteran Pulau Buru, Hasta Mitra. Disusul novel kedua, Anak Semua Bangsa enam bulan kemudian. Meskipun memperoleh sambutan penuh antusias dari pembaca, kedua novel ini ditanggapi dengan sinis oleh pemerintah: dibreidel. Seorang mahasiswa bahkan harus masuk penjara karena menjual novel ini. Melalui Hasta Mitra, dengan gigih Pramoedya terus menerbitkan karya-karya burunya, dan dengan gigih pula, Kejaksaan Agung terus membreidelnya.

Inilah harga yang harus dibayar novel “modern” di Indonesia yang konon “modern”.

Artikel ini pernah dimuat di majalah Tempo, Edisi Khusus Kebangkitan Nasional 1908-2008: “Indonesia yang Kuimpikan, 100 catatan yang merekam perjalanan sebuah negeri”, 19-25 Mei 2008.

6 comments on “Tetralogi Buru dan Novel ‘Modern’

  1. antok says:

    mas eka, KONON tetralogi buru diceritakan secara lisan sebelum dituliskan waktu dipenjara. benar ato tidak? punya data ttg hal ini?

    kok sampai skrg pihak kejaksaan agung belum mencabut larangan itu ya?

    antok

  2. ekakurniawan says:

    ya, itu didongengkan dulu. barangkali itu metode pram untuk tetap mengingat detail cerita, sebab novel2 tersebut sudah direncanakannya jauh sebelum ia dibuang ke pulau buru. barangkali juga untuk menguji ceritanya, sekaligus memperoleh respon-balik. kan yang dibuang ke pulau buru banyak juga kaum intelektual seperti pram, yang ngerti sejarah dll. soal ini, kan ada catatan di akhir novel2 Tetralogi Buru itu, yang menyebut mereka dilisankan sebelumnya.

  3. Tomy says:

    Lho, Pak Pram kan tidak meniatkan karya-karyanya sebagai suatu ‘karya modern’. Tapi kehendak yang mendasari penulisan novel-novelnya mendekati apa yang diyakininya sebagai soekarnoisme. Soekarnoisme, dalam budaya, adalah tentang berkepribadian.

    Itu sebabnya, yang diperjuangkan Pak Pram bukan pembatalan terhadap tradisi Jawa, melainkan pembongkaran tradisi Jawa dan membangunnya kembali dalam rangka membangun tradisi Indonesia. Itu pula yang menjadi landasan sikap Bung Karno. Membangun karakter manusia melalui mengangkat sejarah manusia, membangun bangsa melalui mengangkat sejarah bangsa-bangsa. Itulah berkeperibadian.

    Dalam novel-novel besar Pak Pram ( entah itu tetralogi Pulau Buru, Arus Balik, Arok Dedes) pembaca akan mendapati suatu semangat ‘menggali yang terbaik dari tradisi’ dan bukan ‘pengingkaran atau pembatalan terhadap tradisi’.

    Kritik Pak Pram terhadap budaya Jawa harus dibaca sebagai kritik terhadap budaya yang sudah dikorupsi, yaitu mental priyayi yang korup. Dengan cara yang sama pula Pak Pram menyerang budaya Barat yang menurutnya juga sudah korup, yaitu penjajahan, yang jauh dari semangat penghormatan hak azasi manusia. Entah itu manusia sebagai individu maupun sebagai bangsa. Itulah berkepribadian.

    Tujuan Pak Pram, pembaca menjadi berani. Berani menjadi dirinya sendiri. Berani menunjukkan kepribadiannya. Itu proyek besar, proyek seorang penulis yang tahu beda ‘jajahan’ dan ‘merdeka’, baik dalam pikiran maupun tindakan. Tapi bukan individualisme. Istilah itu kurang tepat. Yang tepat adalah berkepribadian.

    Dan menurut saya, Pak Pram adalah orang Indonesia kedua yang paling depan membangun karakter berkepribadian anak-anak muda di jamannya. Setelah Bung Karno.

  4. dedy says:

    Karya-karya Pram dilarang orde-baru karena ditengarai menyimpan ajaran-ajaran Leninisme-marxisme di dalamnya. Saya belum berani berkomentar tentang hal ini. Namun, karya-karya Pram (dalam hal ini tetralogi buru) memang mengandung ajaran Marxisme. Ada bagian ketika ia menjelaskan tentang teori kerja, kapital dengan Nyai Ontosoroh. Bukankah hal itu memang uraian-uraian dalam marxisme?
    Saya pribadi mengatakan memang Tetralogi Buru ada unsur ajaran Marxisme. Tapi, apa yang salah dengan marxisme? Ia adalah salah-satu perangkat wacana untuk menjelaskan dunia ini. Saya ingin membaca artikel atau buku yang khusus mengupas Tetralogi Buru hubungannya dengan marxisme. Ulasan dari sudut pandang teori sastra itu kan sudah banyak.
    Bagaimana tanggapan Mas Eka?

    dedy:
    saya nulis buku “Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis”. Kajian sastra dan filsafat atas novel2 Pram dari sudut teori Marxis.
    (ekakurniawan)

  5. umi nadziroh says:

    saya sangat menggemari karya-karya pak Pram, terutama tetralogi nya itu lho, tapi saya juga masih penasaran sama terjemahan-terjemahannya, terutama dalam bahasa inggris, saya sudah mencarinya di toko-toko buku, tapi belum menemukannya, saya penasaran kerena saya ingin tahu bagaimana orang liar negeri menerjemah karya-karya pak Pram yang begitu indah. kira-kira buku terjemahan tersebut ada nggak ya di indonesia?

    umi:
    terjemahan buku2 pram dalam bahasa inggris banyak kok dijual di indonesia. tapi tentu saja di toko buku import (bukan di gramedia). coba kamu ke kinokuniya, periplus atau aksara. setahuku toko2 itu selalu menjualnya, malah selalu dikasih rak khusus. enggak cuma tetralogi, tapi ada juga the fugitive (perburuan), the girl from the coast (gadis pantai), all that is gone (cerita dari blora), it is not a nightfair (bukan pasarmalam). yang terbaru, arok the java (dari arok dedes).

  6. aji says:

    Saya pernah mengajar IB Diploma Bahasa Indonesia A1. Saat itu saya menggunakan teks novel Bumi Manusia sebagai acuan tkes untuk ujian lisan. Saya lihat uraiannya ringan-ringan saja seperti cara pandang orang Indonesia yang susah menangkap detail. Hingar bingar kata – kata but nothing. Saya rasa hanya itu.

    Aji

Comments are closed.