Ternate: Ujung Dunia

Ini gara-gara percakapan saya dengan sopir taksi yang mengantar ke bandara. Ketika ia tahu jam penerbangan saya pukul setengah satu malam, komentarnya adalah: “Terbang ke ujung, ya?” Ternyata yang ia maksud sebagai “ujung” adalah kota-kota seperti Manado, Ternate, Sorong, Jayapura. Kota-kota itu terdapat di “ujung” timur dan utara Indonesia, bentangan jaraknya barangkali memang yang paling jauh dari Jakarta. Karena memang saya mau ke Ternate, saya mengiyakan.

Mungkin juga gara-gara beberapa minggu terakhir di meja saya tergeletak tiga novel yang bagian judulnya memiliki frasa “The End of the World” (karya Antonio Lobo Antunes, Haruki Murakami dan Mario Vargas Llosa), secara semena-mena saya langsung mengingat “ujung dunia”. Tapi jujur saja, meskipun pernah lama tinggal di pinggir pantai (Pangandaran), pada dasarnya saya “anak darat”. Anak yang lebih sering melakukan perjalanan darat. Maka ketika mendarat pertama kali di Ternate, yang hanya pulau kecil dengan satu gunung menjulang dan kota di kakinya, perasaan berada di “ujung dunia” itu benar-benar saya rasakan. Maksudnya, saya merasa tak bisa pergi kemana-mana lagi.

Saya pergi ke Ternate atas undangan Temu Sastra Indonesia keempat. Begitu tahu tempatnya di Ternate, saya langsung mengiyakan. Secara berseloroh saya bilang, “Portugis saja sudah datang ke pulau itu ratusan tahun lalu (mereka datang untuk mencari rempah-rempah), masa saya tak berkesempatan mengunjunginya.” Saya lumayan banyak membaca tentang Ternate dan Tidore, dan sekali ada kesempatan datang ke sini dengan akomodasi gratis, pantang untuk dilewatkan tentu saja.

Jika pernah melihat uang kertas seribu rupiah bergambar dua gunung, itulah Ternate dan Tidore. Kenyataannya, seperti akan kamu lihat dari jendela pesawat, ada lebih dari dua gunung seperti itu, besar dan kecil, mencuat dari permukaan laut di sekitar Ternate dan Tidore. Pemandangannya (bagi saya yang “anak darat”), benar-benar membuat bengong. Hamparan permukaan laut dengan hiasan gunung-gunung itu serasa kolam hiasan depan rumah saja. Barangkali Tuhan sedang membuat taman bermain ketika kepulauan Ternate-Tidore diciptakan. Siapa tahu?

Dan begitu mendarat di bandara Sultan Baabullah (saya pikir di sini bukan tempatnya untuk mengulas sejarah kesultanan Ternate dan Tidore yang termasyhur tersebut, tapi baiklah sedikit memperkenalkan: ia salah satu sultan Ternate yang sangat terkenal), rasa bengong saya atas “ujung dunia” ini semakin bertambah-tambah. Pulau ini tak lebih dari puncak gunung besar. Gunung Gamalama. Bandara Baabullah persis berada di kakinya. Dan keluar dari bandara, kami langsung menemui kota Ternate yang tak lebih merupakan permukiman di setengah lingkaran kaki Gunung Gamalama.

Jadi pergi kemana pun di kota itu, di satu sisi kamu melihat gunung menjulang, di sisi lain kamu melihat laut terhampar dengan gunung-gunung lain menghiasinya. Percayalah, tak ada yang seperti ini di sekitar tempat saya lahir dan tinggal. Dan kota Ternate kecil saja, rasanya bisa dijelajahi hanya dalam satu-dua jam saja. Ada angkutan kota yang mengelilingi kota, dan menurut teman yang pernah mencoba, angkutan kota bisa disuruh mengantar ke tempat yang dituju layaknya taksi. Tapi jangan kuatir, saya kira segala kebutuhan sebuah kota ada di sini. Saya melihat ada konter California Fred Chicken. Meskipun belum lihat, saya diberitahu juga ada toko buku Gramedia (penting untuk penulis). Ada ATM. Ada mal (saya tak berminat mengunjunginya). Ada juga yang membuat saya takjub tak percaya: beberapa mobil bagus memiliki plat nomor B (Jakarta). Saya yakin itu bukan mobil pelancong (gila kan membawa mobil sejauh itu), tapi orang lokal yang sengaja membeli mobil di Jakarta dan mempertahankan plat nomornya entah dengan maksud apa.

Baiklah, lupakan dulu soal itu. Malam ini kami menghabiskan waktu di alun-alun kota, di sebuah taman bernama Taman Dodoku Kapita Lau Ali. Di sana kami mendengarkan pentas grup akustik dan pembacaan puisi. Seorang gadis mencoba tampil ke panggung, dan petugas polisi pamong praja menangkapnya. Sepanjang acara, terjadi kucing-kucingan antara si gadis dan polisi pamong praja. Saya membayangkan, di kota kecil ini barangkali pertentangan antara si gadis dan polisi pamong praja sudah menjadi legenda serupa Tom dan Jerry.

Acara kami hari itu selesai tengah malam, setelah tiga sesi seminar sepanjang siang dan sore (saya membawakan makalah “Komitmen Sosial dalam Kesusastraan Indonesia Hari Ini”). Bahkan kota ini terus hidup selewat jam 12. Ketika pulang dari alun-alun ke hotel, dari jendela bis antaran, saya masih melihat penjual sayur di pasar, pedagang martabak berderet di pinggir jalan, dan bahkan ada satu pertunjukan musik lain di pinggir jalan yang lain. Sempat terpikir oleh saya, jangan-jangan seluruh kota ini saling mengenal satu sama lain (barangkali saya perlu tanya Nukila Amal, penulis yang berasal dari Ternate, dan bertanya apakah ia mengenal seluruh penduduk kota?). Apa boleh buat, dengan kehidupan dikelilingi lautan membentang dan daratan dihabiskan oleh gunung gemuk menjulang (berapi dan masih aktif), bukankah pilihan terbaik adalah beirnteraksi satu sama lain dan menghidupkan kota kecil ini, siang dan malam? Setidaknya itulah yang saya pikirkan.

Saya baru satu hari di sini. Lelah dan belum tidur. Belum melihat banyak tempat ini (ada rencana menyeberang ke Tidore). Meskipun begitu, sudah terpikir oleh saya, kelak ingin kembali ke sini. Dan sungguh, saya menganjurkan siapa pun, jika berkesempatan, tengoklah “ujung dunia” ini. Rasakan denyut kota kecil di mana kamu merasa tak bisa pergi kemana-mana lagi, kecuali berputar-putar di kaki Gunung Gamalama, dan coba pula merasakan hidup layaknya di sebuah kota dalam sebuah novel.

3 comments on “Ternate: Ujung Dunia

  1. Adie Riyanto says:

    hehehe tulisan ini mengesankan kalau Mas Eka itu bukan seorang yang suka/hobi jalan-jalan.

    Btw, saya ternyata pernah ke kampung halamannya Mas Eka di Pangandaran, ini kisahnya http://kisahhantulaut.blogspot.com/2011/04/cukang-taneuh-is-better-than-green.html

    hehehe ;-)

    1. ekakurniawan says:

      @Adie
      Terima kasih lho sudah promosikan kampungku :-)

  2. Caly says:

    Tulisannya saya tersanjung… Saya bersyukur penulis ternama seperti bapak masih mau kunjungi Ternate lagi dan mau menyarankan orang untuk ke Ternate…

Comments are closed.