Terjemahan Melayu “Cantik itu Luka”

Buat yang penasaran seperti apa novel “Cantik itu Luka” diterjemahkan ke bahasa Melayu (Malaysia), ini contoh dari pembukaan bab pertama:

Petang pada hujung bulan Mac, Dewi Ayu bangkit semula dari kubur setelah 21 tahun kematiannya. Seorang budak gembala terjaga dari tidur siang di bawah pohon kemboja, kencing di seluar pendek sebelum memekik dan keempat-empat ekor kambingnya lari antara batu dengan kayu nisan tanpa arah bagaikan dikejar seekor harimau. Semuanya bermula dari kubur tua, dengan nisan tanpa nama dan rumput setinggi lutut. Semua orang mengenalinya sebagai kubur Dewi Ayu. Ia mati pada umur 52 tahun, hidup lagi setelah 21 tahun mati dan kini hingga seterusnya tak ada orang yang tahu bagaimana menghitung umurnya.

6 comments on “Terjemahan Melayu “Cantik itu Luka”

  1. Imam says:

    bahkan dalam versi bahasa melayu, paragraf awal ini tetap keren. :)

    sering saya dengar, bahwa paragraf (dan juga kalimat) pertama dalam sebuah karya adalah bagian yang lumayan rumit. bisa mas eka bercerita bagaimana mas eka membuat paragraf pertama cantik itu luka? atau bahkan jika tak berkeberatan, paragraf/kalimat pertama di karya-karya lainnya.

    1. ekakurniawan says:

      @imam
      Buatku, paragraf pertama sangatlah penting, dan biasanya merupakan yg paling susah. Kadang2 ada cerpen yg berawal dr kalimat/paragraf pertama, kadang2 harus dicari dan diedit berkali2. Aku sendiri tentu punya standar mengenai paragraf pembuka (bisa pakai salah satu, atau kalau bisa semuanya):
      – paragraf pertama itu seperti etalasi atau pintu masuk. sebisa mungkin menarik minat orang untuk masuk ke dalam cerita. saya sering mengambil salah satu aspek di cerita yang paling memancing rasa ingin tahu pembaca.
      – paragraf pertama, juga kalau bisa, merupakan titik pijak/pusat masalah cerita. sehingga ketika orang membaca, ia pada dasarnya langsung tahu sedang menghadapi novel apa/cerita apa.
      – paragraf pertama sebisa mungkin merepresentasikan keseluruhan novel, baik style, atmosfir, maupun “ideologi” cerita.
      – paragraf pertama, kalau mungkin, saking bagusnya, seolah-olah bisa berdiri sendiri. Ketika paragraf itu dipenggal dan berdiri sendiri, orang bisa berkelana dengan cerita sendiri di kepala mereka.
      Tentu saja itu standar yang “ideal” buatku. Aku sendiri nggak tahu mencapainya atau tidak. Yang jelas, jika pembaca/editor/penerbit sudah malas dengan paragraf pembuka, mungkin mereka tak akan menyelesaikan membaca cerita kita. :-)

      1. Imam says:

        oh iya, selain cantik itu luka, dan juga seratus tahun kesunyian (tentu saja), saya suka paragraf merahnya merah iwan simatupang:

        Sebelum revolusi, dia calon rahib. Selama revolusi, dia komandan kompi. Di akhir revolusi, dia algojo pemancung kepala pengkhianat-pengkhianat tertangkap. Sesudah revolusi, dia masuk rumah sakit jiwa.

        terima kasih untuk berbagi kriteria paragraf pertama, mas.

  2. Hafiz Hamzah says:

    Eka,

    Saya Hafiz Hamzah, dari Kuala Lumpur. Ada beberapa perkara tentang Pak Pramoedya yang mahu saya bicarakan dengan kamu. Harap dapat berikan alamat emel @ FB (sudah saya Add kamu – Hafiz Jelir). Sambung bicara di sana nanti.

    Terima kasih.
    HH

    1. ekakurniawan says:

      @Hafiz
      Kontak saya sila email ke ekakurniawan (at) yahoo.com

  3. irwan bajang says:

    mantap! dalam bahasa melayu pun kekuatan paragraf awal sungguh dahsyat!
    ini buku realisme magis yang membuat saya mimpi berkali2 ketemu dewi ayu! sial! halimunda halimunda, macondo macondo! aha, novel ini sama hebatnya dengan hundred year of solitude. mana novel barunya mas men bro eka?

Comments are closed.