Beberapa Hal yang Saya Pikirkan Tentang Buku dan Buku-e

Ebook

Meskipun sampai saat ini saya masih lebih suka membaca buku konvensional (terbuat dari kertas dan dijilid rapi), dan masih sangat jarang membaca buku dalam format digital (buku-e — terjemahan suka-suka saya dari e-book, seperti surat-e), saya melihat bahwa kehadiran buku-e merupakan keniscayaan. Ia telah datang, di beberapa laporan toko buku daring, penjualannya terus meningkat (sementara penjualan buku konvensional terus menurun); dan ia akan terus menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Di masa depan, tampaknya buku-e bakalan merupakan format buku yang utama (sampai ditemukan format baru lagi, yang saya belum tahu).

Ini beberapa hal yang saya pikirkan tentang buku (konvensional):

  1. Buku dalam format kertas dan dijilid akan tetap ada, tapi jumlahnya akan menurun sangat drastis. Barangkali hanya buku-buku tertentu diterbitkan dalam format seperti ini: buku dengan asumsi penjualan tinggi, kitab suci, buku manual. Atau sebaliknya: buku yang tak banyak dibaca, diterbitkan terbatas hanya untuk segelintir peminat. Intinya, menerbitkan buku konvensional akan merupakan kegiatan yang mahal. Hanya buku yang diminati orang, atau buku yang bisa dijual mahal (meskipun sedikit), menjadi masuk akal secara bisnis untuk diterbitkan.
  2. Bisnis buku bekas akan lebih mengasyikan. Bahkan mulai terasa sejak sekarang. Buku-buku lama (kecuali yang domain publik, karena dianggap murah) sudah jarang dicetak ulang, sehingga perlu ke toko buku bekas untuk mencarinya. Saya sendiri penggemar toko online abebooks.com, yang menyediakan begitu banyak buku bekas, untuk memburu buku-buku lama yang tak lagi diterbitkan.
  3. POD (print-on-demand) akan menjadi pilihan menarik bagi para pembaca yang tetap menginginkan buku konvensional di era digital. Sementara buku-buku telah beralih ke format digital, kita masih bisa memperoleh buku konvensional dengan mencetaknya secara satuan. Harganya akan lebih mahal daripada umumnya buku sekarang. Toko buku barangkali akan menurun drastis. Mereka barangkali akan berubah menjadi kios-kios pencetak buku POD.

Dan ini beberapa hal yang saya pikirkan tentang e-book:

  1. Para penyedia buku-e harus mulai memikirkan standar format. Bayangan saya seperti .mp3 (atau .m4a) untuk musik. Bahkan meskipun ada banyak format musik, masih jauh lebih mudah memutar file musik yang sama di beberapa perangkat yang berbeda. Dalam perkara buku-e, tampaknya masih ada pertarungan sengit antara para penyedia. Penerbit harus membuat beberapa format yang berbeda agar buku bisa dibaca di Apple iPad dan Amazon Kindle, misalnya. Buku yang dibuat untuk format perangkat tertentu, dibuat susah dibaca di format lain. Ini bisa bikin frustasi pembeli buku-e. Tapi mari kita lihat, cepat atau lambat barangkali akan menuju ke sana.
  2. Selain soal daya tampung dan bobot (bisa membawa ribuan buku dalam satu perangkat tipis), buat saya hal paling menarik dari buku-e adalah “bisa diakses mesin pencari”. Saya membaca buku tak sekadar untuk “membaca”, tapi kadang melakukan penelitian. Buku-e memungkinkan saya mencari bagian-bagian tertentu yang saya inginkan dengan cepat. Saya bisa langsung masuk ke entri tertentu di kamus atau ensiklopedia. Jika saya lupa di bagian mana penulis tertentu menulis hal tertentu, saya tinggal mencari dengan kata kunci tertentu.
  3. Di zaman buku konvensioanal, menerbitkan buku sendiri tentu saja bisa dilakukan. Tapi di zaman digital, hal ini akan semakin menjadi-jadi karena faktor ini: murah. Penulis yang ingin menerbitkan bukunya sendiri dalam format buku-e, tak perlu mengeluarkan ongkos cetak. Dan akan lebih banyak hal bisa diterabas juga. Selain menerbitkan bukunya sendiri, penulis bisa menjualnya sendiri juga. Fenomenanya kurang lebih akan seperti blog: menulis sendiri, menerbitkan sendiri, dan menjualnya sendiri.

Tentu saja bahasan mengenai pertarungan buku konvensional dan buku-e jauh lebih rumit dari itu, tapi sementara itulah hal-hal yang menarik perhatian saya. Dan apa yang akan saya lakukan jika era buku-e ini benar-benar telah datang (di negara yang lebih maju, era ini telah datang, tapi di Indonesia barangkali kita perlu beberapa tahun ke depan lagi):

Saya akan membaca buku-buku dalam format digital, terutama saya ingin menyimpan buku-buku referensi (kamus, ensiklopedia, buku-buku klasik, buku-buku pengetahuan, katalog, kronik) dalam bentuk digital. Untuk buku-buku yang saya suka, terutama novel, barangkali saya akan mencetaknya dalam bentuk POD. Dan sebagai penulis, saya mestinya tak perlu kuatir dengan perubahan format apa pun. Tugas penulis adalam menulis. Tulisannya bisa hadir dalam format apa pun. Bukankah begitu?

 

2 comments on “Beberapa Hal yang Saya Pikirkan Tentang Buku dan Buku-e

  1. Ali Label says:

    menarik… aku sedang merencanakan membuat penerbit ebook, belum sempat waktunya.. metode yg ingin aku gunakan adalah para pembeli sebelum membeli ebook mendapatkan setidaknya 10-25% isi ebook yg akan dibelinya. Jika memang buku yg hendak dibelinya sesuai dengan harapannya, maka pembeli akan membeli dalam bentuk ebook yg dipasword. Idealnya si pembeli harus menjaga etika dengan tdk memberikan ebook ini kepada orang lain yg tertarik atau membaca buku yg dibeli si pembeli. Jika temannya ingin membaca ebook yg telah dibeli si Pembeli maka ia harus melakukan hal yg sama dengan si Pembeli.

    Sedang dalam banyak pertimbangan, sayang, waktuku terbatas…

  2. Buku Bekas says:

    Bagiku kertas atau pdf sama saja kok

Comments are closed.