Sudut Pandang Allah dan Manusia

Setelah Snow dan The Museum of Innocence, akhirnya saya memutuskan untuk membaca My Name is Red. Meskipun saya masih lebih menikmati The Museum of Innocence, saya pikir ada hal menarik dari novel ini untuk diperbincangkan. Terutama satu hal yang jelas tampak sejak bab-bab pertama: novel ini pada dasarnya merupakan esai panjang mengenai seni. Yang diperbincangkan memang khususnya seni miniatur (menghias buku) dan ilustrasi, tapi saya pikir bisa diterapkan ke semua genre kesenian.

Dengan cerdik, Orham Pamuk membungkus perbincangan panjang mengenai seni ini dalam balutan kisah misterius pembunuhan seorang miniaturis, serta kisah cinta yang ruwet antara Black dan Shekure. Sementara kita diajak untuk mencari tahu siapa pembunuh sang miniaturis, kita dipaparkan oleh bukti-bukti, motif-motif, yang semuanya justru mengacu ke perdebatan mengenai seni. Utamanya, perdebatan mengenai seni barat dan seni timur. Pemisahan seni barat dan seni timur ini tentunya sulit ditarik garis tegas, meskipun bolehlah dalam versi novel ini disederhanakan dengan cara: seni timur mengacu kepada “apa yang dilihat Allah”, sementara seni barat mengacu kepada “apa yang dilihat manusia’.

Apa yang dilihat oleh Allah, pada dasarnya penjelasan filosofis atas “idealisme”. Seniman melukis kuda atau pohon sebagai “ide mengenai kuda” atau “ide mengenai pohon”. Sementara apa yang dilihat oleh manusia, bisalah kita rujuk kepada “materialisme”. Seniman melukis kuda atau pohon, sebagaimana “mereka melihat kuda” atau “mereka melihat pohon.” Salah satu yang paling menonjol dalam perbedaan ini tentu saja: sudut panang dan keunikan setiap obyek.

Sekali lagi, membedakan barat sebagai “materialis” dan timur sebagai “idealis”, tentu terlalu menyederhanakan. Dalam hal ini, Pamuk akhirnya mengeluarkan kutipan singkat, yang malah jadi sejenis olok-olok untuk para seniman yang tengah berdebat hingga saling bunuh itu, bahwa “Kepunyaan Allah apa yang di barat dan di timur.” Kita tahu, itu kutipan dari Al-Quran, Al-Baqoroh 115.

Oh ya, stuktur novel ini ditulis dari berbagai sudut pandang tokoh-tokohnya. Termasuk dari sudut pandang orang mati dan seekor anjing. Ah, ini sih tidak istimewa. Saya pikir William Faulkner melakukannya lebih keren di novel As I Lay Dying. Tapi barangkali ada maksudnya juga Orhan Pamuk melakukan ini: ia ingin bicara tentang sudut pandang. Sebab memang itulah tema besar dalam diskusi seni di novel ini.

Ceritanya, sang sultan ingin dilukis dengan cara orang-orang barat dilukis: mirip, detail, dan terutama: bagaikan dilihat oleh manusia. Sehingga ketika orang melihatnya, serasa mereka melihat sang sultan sendiri. Nah, melukis dengan sudut pandang manusia inilah yang dianggap subversif, mengancam sudut pandang Allah. Tak hanya subversif, tapi mungkin sudah penistaan. Itulah awal mula motif pembunuhan ini.

Di luar itu, tentu lebih banyak detail mengenai kedua mazhab idealis dan materialis ini. Sebagian besar Pamuk ceritakan melakui fabel-fabel, atau kisah para miniaturis terdahulu. Saya ingin mengutip salah satunya, mengenai “style” dan “signature”. Atau “gaya” dan “tandatangan”. Melalui tiga parabel mengenai hal itu, disimpulkan bahwa pertama, “gaya” merupakan “ketidaksempurnaan”. Kedua, lukisan yang “sempurna” tak memerlukan “tandatangan”. Maka, ketiga, “tandatangan” dan “gaya” tak lebih merupakan perayaan “ketidaksempurnaan”.

Baiklah, seperti pengulas yang baik pada umumnya, saya tak perlu membocorkan terlalu banyak isi buku ini. Sekadar info, novel ini sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan judul “Namaku Merah Kirmizi” (jika saya tak salah ingat, ya). Saya membaca versi Inggris, jadi saya tak tahu bagaimana kualitas terjemahan Bahasa Indonesianya. Mudah-mudahan saja bagus. Selamat membaca.