Slash dan Konser Obat Sakit Hati

Saya bertemu seorang teman di depan pintu masuk pertunjukan “Slash World Tour, Featuring Myles Kennedy”. Teman saya tampak berseri-seri, membawa serta sekitar 50 orang temannya, sambil berkomentar, “Kita menunggu ini selama 15 tahun!”

Mungkin dia ada benarnya. Kalau mau dihitung lebih tepat, saya sudah ingin melihat Slash (lebih tepatnya seluruh personil Guns N’ Roses) sejak dua puluh tahun lalu. Tapi hasrat itu sejujurnya memudar (dengan perasaan seperti ditinggal pacar) saat mereka bubar (lebih tepatnya, sejak Guns N’ Roses hanya menyisakan Axl Rose seorang diri). Harapan itu semakin memudar dari tahun ke tahun, bersama dengan selera musik saya yang berkembang dan berganti-ganti.

Tapi rupanya sihir itu tak lenyap begitu saja. Ketika Axl merilis album atas nama Guns N’ Roses, Chinese Democracy, saya tetap membeli dan mendengarkannya. Ketika Slash meluncurkan album R & R, saya juga membeli dan mendengarkannya. Puncaknya ketika Slash akhirnya datang untuk konser bersama Myles Kennedy di Istora Senayan, 3 Agustus 2010 kemarin, saya memutuskan untuk membeli tiket dan menontonnya. Dengan itu, saya mencoba berdamai kembali dengan masa remaja saya.

Pada tahun 1989, saya masih berumur 14 tahun. Untuk ukuran anak yang tinggal di kota kecil (Pangandaran) yang tak memiliki toko kaset, toko buku maupun bioskop (pernah ada bioskop, tapi kemudian ditutup kembali), saya mungkin anomali: saya suka membaca (yay, hingga akhirnya menjadi seorang penulis novel), saya suka menonton film (saya menulis ratusan episode film tv), dan saya suka mendengarkan musik (hanya karena tahu diri saja, saya tidak jadi anak band).

Perkenalan saya dengan musik terjadi melalui seorang oom, yang kemudian tinggal bersama kami. Dia memperkenalkan saya dengan Genesis, Toto, REM. Juga musik-musik populer saat itu: New Kids on the Block, Jason Donovan, Madonna, Roxette. Tapi dengan cepat saya memperoleh selera sendiri: musik hardrock. Saya mulai mendengarkan Guns N’ Roses, Metallica, Motley Crue, Nirvana, Pearl Jam, Skid Row.

Guns N’ Roses memperoleh tempat tersendiri di masa remaja saya. Pertama kali mendengar lagu mereka melalui Knockin’ on Heaven’s Door di album OST Days of Thunder. Tahun 1991, ketika Use Your Illusions I & II keluar, saya mungkin salah satu anak remaja pertama yang memiliki album itu di Pangandaran. Setahun kemudian saya sudah memiliki album Appetite for Destruction dan GN’R Lies. Personil favorit saya sebenarnya bukan Axl Rose maupun Slash, tapi Izzy Stradlin’. Saya suka dengan penampilan kalemnya, dan terutama, kemampuannya menciptakan lagu dan lirik.

Lirik-lirik lagu yang diciptakan Izzy bagi saya membuat GN’R berkarakter. Lirik-liriknya lebih kasar, penuh kritik dan sindiran, sekaligus penuh metafora mengejutkan. Axl memang penulis lirik lagu juga, tapi lirik Axl terasa lebih manis buat saya. Saat-saat itu pula, saya mulai sering mengurung diri di kamar, memainkan gitar dan menulis lagu. Jika tak salah ingat, mungkin puluhan lagu saya bikin saat itu. Karena tak percaya diri, saya hanya menyimpan sendiri lagu-lagu tersebut hingga hilang tak karuan.

Seperti anak-anak lainnya, tentu saja saya pernah bermimpi jadi anak band. Tentu saya pernah mengalami pergi ke studio musik bersama teman-teman, dan ngeband. Tapi segera saya sadar, menjadi penulis lebih cocok buat saya. Meskipun begitu, kecintaan saya terhadap musik tak juga hilang. Juga terhadap Guns N’ Roses.

Hingga akhirnya mereka bubar. Lebih tepatnya, personilnya dipecat semua hingga hanya menyisakan seorang Axl Rose. Masa-masa itu bersamaan dengan bunuh dirinya Kurt Cobain, dan berakhir pula legenda singkat Nirvana. Si anak remaja yang baru lulus SMA, merasa tak yakin lagi, apakah ia harus menyukai musik kembali? Band-band yang disukainya tak lagi ada. Harapan untuk melihat konser mereka sirna. Bahkan harapan untuk mendengar lagu-lagu baru mereka juga punah.

Itu masa-masa yang tidak enak buat saya. Kalau dipikir saat ini, rasanya aneh sekali, betapa besar pengaruh kedua band itu (GN’R dan Nirvana) kepada saya, sampai saya malas mendengarkan musik lagi. Selama beberapa tahun, saya nyaris tak tahu band-band baru, lagu-lagu baru. Bisa dibilang saya tak lagi membeli album siapa pun. Tapi sisi baiknya: saat-saat itu saya mulai banyak membaca buku, pergi menonton film lebih sering.

Baru di tahun-tahun terakhir, terutama setelah saya lulus kuliah, saya berdamai kembali dengan musik. Kembali mendengarkan lagu-lagu GN’R atau Nirvana rada menyakitkan hati untuk saya saat itu. Tapi mendengarkan band-band baru juga terasa aneh. Saat itulah saya mencoba mendengarkan lagu-lagu lama, dan awal petualangan saya dengan musik Rolling Stones (yay, sebenarnya GN’R pula yang memperkenalkan saya dengan mereka jauh hari melalui lagi “Sympathy for the Devil”, “Dead Flowers” dan “Salt of the Earth”), Queen (lewat GN’R juga, saya melihat video Tribute to Freddy Mercury, Axl menyanyikan “Bohemian Rhapsody” bersama Elton John, dan “We Will Rock You”).

Tapi itu berhasil membuat saya mendengarkan kembali musik. Terutama sebenarnya musik barat. Bagusnya, mungin karena umur, selera saya juga bertambah. Saya mendengarkan kembali Genesis, REM yang sudah saya kenal sebelumnya. Saya juga kembali mendengarkan band-band 90an, meskipun tak langsung mendengarkan GN’R dan Nirvana: melalui Pearl Jam. Saya juga mulai mendengarkan beberapa musik hiphop.

Sebenarnya baru ketika Axl mengeluarkan Chinese Democracy saya mulai mendengarkan kembali lagu-lagu mereka. Saya membeli kembali album-album mereka, video konser di Tokyo, video Welcome to the Video.

Hingga Slash datang ke Jakarta.

Awalnya saya tak ingin menontonnya. Sejujurnya saya masih sakit hati kenapa mereka bubar. Istri saya menyuruh saya menonton, tahu pasti saya menginginkannya. Tapi dia tidak mengerti rasa kecewa saya, yang saya simpan bertahun-tahun. Tentu saja saya tidak bisa menyalahkan mereka: personil band masuk dan keluar, band berdiri dan bubar, itu hal biasa. Selama bertahun-tahun saya menyalahkan diri saya sendiri: kenapa mencintai musik mereka sedemikian rupa.

Tapi berkali-kali saya meyakinkan diri sendiri: musik mereka memang penting mengisi masa remaja saya, dan sampai saat ini harus saya akui, musik mereka masih tetap hebat. Tapi saya juga harus sadar, saya sudah mendengarkan lebih banyak musik, dan banyak yang lebih hebat dari yang pernah mereka buat. Lagipula, hidup saya masih baik-baik saja, bahkan mungkin jauh lebih baik, ketika mereka tak lagi menciptakan musik. Saya sudah berhasil melewati masa-masa sulit kehidupan remaja saya.

Begitulah, di dua hari terakhir, saya pergi ke penjualan tiket dan memperoleh satu tiket.

Meskipun begitu, tetap saja saya lebih berharap mendengarkan lagu-lagu GN’R di konser Slash. Saya pikir demikian pula penonton lain di Istora Senayan malam tadi. Saya hanya mendengar sambil lalu lagu-lagunya bersama Velvet Revolver. Lagu-lagu solonya yang baru beredar, belum cukup lama untuk akrab di telinga. Saya hanya mendengar lagu “Starlight” yang dibawakan Myles Kennedy secara berulang-ulang. Selebihnya, saya ingin menonton Slash membawakan lagu-lagu GN’R.

Pertunjukan Slash dibuka dengan lagu “Ghost” dari album solonya. Lagu itu aslinya dinyanyikan oleh Ian Astbury. Tapi Myles Kennedy mampu mencengangkan saya. Dia penyanyi hebat yang tampaknya bisa membawakan lagu apa saja. Dan memang begitu. Dan tebakan saya soal penonton yang ingin mendengarkan lagu-lagu GN’R benar adanya. Ketika intro lagu “Nightrain” terdengar, penonton segera berdiri dan berteriak histeris. Demikian pula ketika Myles bilang ia akan membawakan lagu “Civil War”. Penonton kembali histeris dan ikut menyanyikan lagu tersebut.

Momen yang paling mengharukan untuk saya sebenarnya adalah ketika Slash membawakan solo gitar. Selama bertahun-tahun, jika saya ingin mendengar musik mereka, saya sering memutar video konser mereka di Tokyo. Bagian yang paling saya suka adalah ketika Slash membawakan solo gitar, membawakan lagu “Love Story” dari OST film Godfather. Saking sukanya bagian itu, saya sering mencoba menirukannya setiap kali saya memegang gitar. Sungguh saya tak mengira, Slash membawakan lagu itu secara solo, persis sebagaimana saya sering melihatnya di video.

Apalagi selepas solo itu, persis seperti dugaan saya, Slash menyambungnya dengan intro “Sweet Child O’ Mine”. Semua penonton mengetahui lagu itu dan serempak kembali bernyanyi. Selain lagu-lagu itu, Slash juga membawakan lagu GN’R dari Appetite, “Rocket Queen”.

Tebakan saya kembali benar. Konser ini akan ditutup dengan lagu GN’R lain: “Paradise City”. Hits lama dari album pertama mereka. Di album solonya, Slash menggandeng Fergie (penyanyi The Black Eyed Peas) untuk menyanyikan lagu ini, dan menurut saya, vokal Fergie sungguh keren menyanyikan lagu “Paradise City”. Apalagi ditambah vokal rapper Cyperss Hill. Di konser ini, Myles kembali menunjukkan kapasitasnya sebagai penyanyi papan atas. Saya berani bilang, selain Slash, Myles memang bintang pertunjukan ini.

Pertunjukan sudah usai. Dua puluh tahun sudah berlalu sejak saya pertama kali mendengar musik GN’R. Saya berharap dengan ini, saya bisa sedikit membebaskan diri dari harapan-harapan anak remaja yang kecewa. Personil band datang dan pergi. Band baru datang, band lama bubar. Itu hal lumrah terjadi di setiap zaman dan di setiap tempat. GN’R dan Slash mungkin representasi harapan-harapan saya yang tak terjadi. Saya harus menerima, kekecewaan juga hal paling lumrah dalam hidup sehari-hari.

Semoga bisa berjumpa kembali, Slash!

4 comments on “Slash dan Konser Obat Sakit Hati

  1. litle jarod says:

    sbar ja sles , sya akan mendukung bend mu , smpai diriku mati , aku sngat bangga sma guns n roses

    i love you guns n roses

    my name is litle jarod

    ok thenk kyu

  2. litle jarod says:

    hay guns n roses ?
    i love you guns n roses

  3. kiki says:

    cerita nya hampir mirip sama saya,, saya sperti km yang sangat cinta terhadap g’n’r,,poko nya G’N’R pahlawan musik kita

  4. kiki says:

    I Love rock’N’RolL “Guns’N’Roses 1984?

Comments are closed.