Silang Budaya

Seperti apakah Jawa? Seperti apakah Indonesia? Identitas kultural selalu merupakan medan di mana kehendak untuk mendefinisikan dan kehendak untuk melonggarkan batas-batasnya, selalu bertemu, jika tak bisa dikatakan bertarung. Denys Lombard sendiri, dalam Nusa Jawa: Silang Budaya, memperlihatkan betapa apa yang kita sebut sebagai Jawa tak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang tunggal. Demikian pula Benedict Anderson dalam Imaginary Community, melihat bahwa identitas kultural hanyalah sebuah rekaan yang direka.

Tapi kita juga sangat sulit untuk menapikan keberadaan identitas kultural semacam ini. Betapapun kaburnya sebuah definisi, seseorang barangkali masih bisa membayangkan seperti apa identitas kultural tertentu. Katakanlah, orang Madura dengan karapan sapi. Katakanlah orang Jawa dengan keris. Memang benar, menghubungkan identitas kultural dengan gambaran kasar tertentu tak lebih dari sebuah stereotif, tapi bahwa stereotif itu ada, tak bisa dipungkiri.

Ataukah bisa dikatakan, kajian mengenai kebudayaan, tak lebih merupakan kajian mengenai stereotif? Bukan kajian mengenai obyek tertentu, tetapi mengenai subyek-subyek?

Indonesia, atau jika kita ingin lebih menyempitkannya, bahasa dan sastra Indonesia, pun jelas bukan sesuatu yang tunggal. Meskipun begitu, tentu itu bukan menjadi alasan untuk tidak mengenal dan menjadikannya satu titik perhatian. Sebagai sebuah medium di mana silang budaya menemukan pembaurannya yang masif, kita bisa melihat dalam sastra Indonesia, percampurbauran itu nyata ada.

Kita tahu, sastra Indonesia sebagian besar, jika bukan semuanya, ditulis oleh para penulis yang hidup dalam identitas budaya tertentu. Dengan beragam kebudayaan di dalam komunitas ini, tentu kita berhabar adanya suatu persilangan budaya yang tak hanya subur, namun juga sehat. Kita telah menemukan banyak karya dengan warna lokal yang kuat, dari Aceh hingga kepulauan Indonesia di bagian timur. Mereka tak hanya menyumbangkan rajutan berarti bagi identitas keindonesiaan kita yang terus bertumbuh, namun juga memberi warna yang berbeda dari satu tempat ke tempat lain.

Yang kemudian ingin kita ketahui adalah, bagaimana persilangan budaya ini berlangsung di alam kontemporer kita. Apakah (bahasa) dan sastra Indonesia telah menjadi media bagi harapan yang berbinar-binar ini? Kita ingin mempertemuan sebanyak-banyaknya penulis dan pekerja kreatif dari berbagai wilayah identitas kultural yang berbeda di wilayah Nusantara, untuk menggali kemungkinan-kemungkinan terbesar dari segala hal persinggungan kebudayaan ini. Tentu saja yang kita harapkan adalah suatu persinggungan yang sehat, dan jika memungkinkan, merangsang penciptaan karya kreatif yang lebih unggul.

Punya pendapat lain?

11 comments on “Silang Budaya

  1. refanidea says:

    Saya rasa kita memang harus bangga dengan keragaman Indonesia.
    Genre, varian, budaya, suku, adat, atau apalah itu untuk menyebut kekayaan ragam di tanah ini.

    Hanya saja, sebagian penulis (baca: sastrawan) masih ada yang memanfaatkan faktor ke-daerah-an dan asal-usul [komunitas sastra, tanah kelahiran, genre tulisan] untuk menjustifikasi bahkan mengolok-olok penulis yang lain.

    Katanya, seseorang yang tidak pernah menulis tidak akan pernah dikenang dan terkenang. Sebab, tulisan sejak entah kapan, mungkin menjadi parameter kematangan, kedewasaan, keluasan cakrawala berpikir, dan mungkin juga kecerdasan atau bahkan tingkat intelektualitas penulisnya. Mungkin juga, tulisan adalah memorabilia dari yang sudah tiada untuk yang masih ada dan mengada.

    Jadi, saya rasa sastrawan yang mengolok-olok itu sedang belajar membuat memorabilia bernama: popularitas.

    Kenapa tidak jadi Presiden saja seperti Soeharto dan Megawati. Toh mereka tidak pernah menulis buku, tapi populer. Atau pernah, tapi saya nggak tau?

  2. sarastia says:

    beberpa soal:
    1.siapa sastrawan yang mengolok2 bang?.soalnya ada kecenderungan berlindung dibalik kesopanan (tdk menuduh nama), padahal cuma menyembunyikan ketidakterangan penglihatan.
    2. seseorang yg tdk menulis tdk akan pernah dikenang?. kata siapa bang?. siapa sih penulis yang dikenang?. bukankah kita menamai gadjah mada, pangeran diponegoro, hassanudin, sudirman, (pahlawan perang bukan pujangga kan?.) untuk kampus2 kita yang konon darisanalah tradisi tulisan dikembang dan dibiakkan?.
    apalagi dalam kehidupan sehari2: bukankah kita lebih mengenang evita peron daripada jorge luis borges?. bukankah kita lebih mengenal james bond(saya paling “nyes’ dengan pierce brosnan.he3) daripada ian flemming?.lebih memuja star wars daripada gorge lucas palagi stanley kubrik.
    ABANG BODOH AH!….
    BIKIN MANGKEL AJA!!!!
    BLAJAR NAPA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    HUHHHHHHHHHHHH

  3. refanidea says:

    mbak sarastia,
    Kalo saya nggak salah tangkap, topik yg diangkat mas Eka adalah penulis dan sastra Indonesia. Saya tidak katakan bahwa semua orang harus menulis jika ingin dikenang. Saya juga tidak katakan bahwa orang-orang yang dikenang itu hanya pujangga.

    Toh budaya menulis itu baik. Karena sebelum menulis orang pasti membaca. Jadi kedua hal itu pada dasarnya memperkaya wacana.

    Hatta, Soekarno, Habibie, Amien Rais, Gus Dur, mereka menulis. Karyanya dikenang, mencerahkan, dan masih menjadi bahan diskusi banyak orang meski sebagian dari beliau ada yang sudah almarhum.

    Coba mbak sarastia beli Tempo edisi khusus Kebangkitan Bangsa. Ada seratus hal yang dianggap memberi kontribusi besar bagi perkembangan bangsa ini. Ada tulisan, naskah pidato, catatan harian, dsb. Mas Eka juga nulis di sana tentang Pram. :)

    Saya masih terus belajar, mbak sarastia yang bersemangat..

    Maaf kalau belum pandai. Sebab kalau sudah merasa paling pandai, bisa jadi saya sombong dan akhirnya berhenti belajar. :)

  4. sarastia says:

    capek dehhhhhhhhhhhhhhh hhhhhhhhhhhhhhhhh hhhhhhhhhhhhhhhhh hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

  5. sarastia says:

    untukmu gak usah aneh2 memorabilia popularitas segala dulu. baca aja goris keraf!!!!baca tu bukan melapalkan huruf2. tapi dimengerti.dipraktekkan.dipraktekkan dalam membaca tulisan orang lain dulu.baru dipraktekkan untuk menyusun gagasanmu sendiri: termasuk menyusun gagasan penulis, mmorabilia, dan popularitas.
    biar gak bikin capek lawan bicara.loe tu liat lagi tulisanmu. dah salah, lagakmu tu lho PD minta ampun!!!!!!!

  6. sarastia says:

    kasihan eka kurniawan tauk nglaynin kamu!!!!!makanya gw, sebagai peembaca yang bertanggung jawab segera turun tangan dah.he3.jangan sakit ati ya….menyadari kebodohan lebih awal tu lebih baik kok.

  7. ekakurniawan says:

    refanidea dan sarastia:
    trims sudah ikut urun-rembug soal tulisanku di atas. hanya saja saya berharap kita bisa ngobrol lebih dingin. kalau ada kata-kata kita yang menyakitkan hati (sebaiknya kita hindari), anggap saja sebagai pukulan2 kecil teman ngobrol. salam.

  8. sarastia says:

    salah sendiri, sapa juga yg mulai. tu tiap kali nulis si abang tu, semang gak da kata yang kasar, tapi selalu sinis,salah, PD lagi.sapa juga yg gak mangkel.tu terlalu didengerin ma temen gaulnya, jadinya ya kayak gitu.gak berasa kaleeee…..

  9. Kopdang says:

    Mas,
    maaf OOT..
    masih punya kontak sama Astrid Reza on/off?

    kopdang:
    ini blog astrid: astridreza.multiply.com
    (ekakurniawan)

  10. alia says:

    boleh tak saya tahu ape sebenarnya mkna silang budaya..sy masih kabur la..huhuhu…boleh x sape2 jelaskn..

  11. silang budaya jawa sunda india yunan cina selatan sape tauuuuu? pliz bantu ddunk

Comments are closed.