Shine A Light

Enggak pernah terpikir sebelumnya bahwa saya akan menonton film Shine A Light di bioskop. Bukan kebiasaan bioskop Indonesia memutar film dokumenter. Eh, kemarin saya melihat iklannya di Kompas: film itu diputar di Studio XXI Plaza Senayan. Sementara istri keliling-keliling mal, saya memanjakan diri menonton film itu.

Hanya ada sekitar lima belas orang saja yang nonton. Kebanyakan bapak-bapak tua. Hehe, dalam hal ini saya jadi merasa terlihat aneh. Sejujurnya, memang saya bisa dianggap telat menyukai The Rolling Stones. Meskipun pernah mendengar beberapa lagunya, saya baru benar-benar meminati musik mereka di masa kuliah.

Barangkali sebagaimana orang seumuran saya, musik glam-rock dari masa akhir 80an hingga heavy metal dan grunge di akhir 90an lebih saya minati di masa itu. Saya kehilangan selera atas musik-musik tersebut di awal masa kuliah saya. Benar, di masa itu glam-rock dan heavy metal mulai redup dengan kedatangan grunge, dan grunge mulai redup dengan marajalelanya hip-hop.

Ada masa-masa ketika saya malas sekali mendengar musik. Saya merasa musik-musik yang datang dari pemusik-pemusik kemudian, tak sehebat pemusik yang saya kenal sebelumnya. Itu masa-masa sulit buat saya untuk mendengarkan rekaman apa pun, atau mendengarkan radio, dengan penuh selera. Karena tidak bisa masuk ke musik yang lebih baru, saya mencoba mendengar musik dari generasi yang lebih tua dari saya. Saat itulah saya berkenalan dengan musik The Rolling Stones.

Maka ketika mendengar Martin Scorsese (sutradara Hollywood yang antara lain membuat film Goodfellas dan meraih Oscar untuk The Departed) akan membuat film dokumenter mengenai The Rolling Stones, saya langsung memasukkannya ke dalam list yang akan saya tonton. Saya membayangkan akan membeli (paling tidak bajakannya, hehe) DVD itu untuk ditonton di komputer. Eh, tak disangka saya bisa menontonnya di bioskop.

Film dibuka dengan perdebatan antara The Rolling Stones dan Martin Scorsese mengenai tata-letak panggung. Pada dasarnya ini film konser. Mereka bermain di Beacon Theatre, New York pada 29 Oktober dan 1 November 2006, diselilingi beberapa rekaman wawancara The Rolling Stones di masa muda (salah satu wawancara itu menanyakan, “Apa yang akan kamu lakukan di umur 60?” Saat itu Mick Jagger menjawab, “Saya sudah bisa membayangkannya” … dan kenyataannya, di umur segitu, mereka masih bermusik dengan riang!).

Ya, salah satu yang saya kagumi adalah stamina mereka. Sepanjang pertunjukan, Jagger yang sudah keriput itu masih demikian enerjik. Kakinya tak pernah berhenti berjingkrak, dan tubuhnya sangat lentur untuk dibawa menari. Luar biasa. Demikian pula vokalnya. Bahkan ketika ia duet dengan Christina Aguilera, terlihat bahwa Aguilera yang masih belia itu malah agak keteteran. Demikian pula Keith Richard, di usia senja, ia masih memegang gitar dengan seluruh gayanya: cengkeramannya demikian erat, kadang-kadang ia melepaskan kedua tangannya dari gitar bagaikan membiarkan gitar hidup sendiri dan ia memperhatikan.

Lalu tiba-tiba Jagger berkata, mereka akan membawakan sebuah lagu, yang sebebarnya mereka gubah di awal karir mereka. Awalnya mereka tak pernah menyanyikan lagu tersebut, karena merasa komposisinya tidak istimewa dan terlalu rendah diri untuk membawakannya. Malahan mereka membiarkannya dinyanyikan orang lain. Lalu Keith dan Ronnie Wood mulai masuk ke intro lagu itu: “As Tears Go Bye”.

Tak tertahankan, saya ikut bernyanyi. Hehehe … Benar-benar enggak bisa tahan kalau mendengar lagu itu. Saya hapal lirik lagu itu di luar kepala. Sejujurnya, saya mengenal lagu ini pertama kali bukan karena dinyanyikan The Rolling Stones, tapi saat dinyanyikan oleh penyanyi Prancis (benar enggak ya?), Vanessa Paradis.

Ada adegan mengharukan ketika Mick dan Keith berduet, mereka bernyanyi dengan mix yang sama hingga di satu saat, kepala mereka saling menempel dan saling menyandarkan pipi. Wow, sudah berapa lama mereka bersama, dengan segala keakraban, pertengkaran dan berbagai masalah? Penonton di teater itu pun tampak bersorak melihat keakraban tersebut. Meskipun saya bukan datang dari generasi mereka, dan mengenal band ini ketika mereka sudah uzur, tak bisa tidak saya merasa kagum dengan daya tahan mereka untuk tetap bersama, bahkan memainkan musik yang tetap sama: rock and roll dan blues!

Saya hanya bisa berharap mereka masih terus sehat dan panjang umur, serta mengeluarkan album studio orisinil baru. Album terakhir mereka, A Bigger Bang, merupakan salah satu album favorit saya. Dan untuk kali ini, saya benar-benar berterima kasih untuk Studio 21 yang bersedia memutar film itu di bioskop, walau yang menonton hanya lima belas orang. Ini benar-benar hari Minggu yang menyenangkan, meskipun sebelum nonton saya merasa agak mengantuk. Hehe …

Trims, Mick, Keith, Ronnie dan Charlie.

One comment on “Shine A Light

  1. ADI SERAYA says:

    keep on rockin
    stay to rock
    rolling stones never die…

Comments are closed.