Sepuluh Tahun “Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis”

Akhir Agustus 1999 itu, buku pertama saya Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis keluar dari percetakan dan beredar di toko buku. Beberapa waktu sebelumnya, saya juga baru diwisuda, lulus dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Buku pertama yang memberi saya keberanian untuk menjadi seorang penulis.

Saya pernah menceritakan hal ini di tempat atau kesempatan lain: buku itu pada dasarnya sebuah skripsi untuk sarjana saya. Saya membaca novel Pramoedya pertama kali sekitar tahun 1997. Sejujurnya saat itu saya sudah menulis proposal lain untuk skripsi saya. Terpengaruh oleh science fiction, saya ingin menulis mengenai Extraterestrial. Makhluk luar angkasa. Dasar teori saya adalah evolusi Darwin. Saya tak tahu apa jadinya jika proposal itu disetujui dan saya menuliskannya. Ide itu tidak pernah teralisir, sebab tak lama kemudian saya membaca novel Bumi Manusia dan memutuskan bahwa, skripsi saya akan mengenai Pramoedya Ananta Toer.

Hal pertama yang saya lakukan, tentu saja membaca novel Pramoedya sebanyak mungkin. Itu perkara yang tidak gampang di tahun 1997, ketika semua karyanya dilarang dan Presiden Soeharto masih berkuasa. Beruntung saya memiliki lingkungan pergaulan di kalangan aktivis kampus, yang memungkinkan saya memperoleh buku-buku Pramoedya secara diam-diam.

Saya bahkan memperoleh akses untuk berkenalan dengan Hasyim Rahman. Ia merupakan salah satu pendiri Penerbit Hasta Mitra bersama Joesoef Isak dan Pramoedya Ananta Toer. Dari Hasyim Rahman saya memperoleh beberapa buku Pramoedya Ananta Toer yang benar-benar sulit saya dapatkan di tempat lainnya. Dengan modal itulah, saya mulai menulis proposal skripsi saya di tahun itu juga, meskipun baru saya ajukan ke fakultas tahun berikutnya.

Saya juga mengirimi Pramoedya surat. Tak pernah dibalas. Belakangan saya baru tahu Pramoedya memang tak pernah membalas surat. Saya akhirnya datang langsung ke Jakarta, ke rumahnya di Utan Kayu. Tanpa janji saya langsung memijit bel. Untunglah Pramoedya sangat terbuka dengan kunjungan orang tak dikenal. Untung pula saya tak tiba di saat jam tidur siangnya.

Saya ujian skripsi di tahun 1999 dan saat itu juga seorang teman membaca naskah tersebut dan membawanya ke penerbit. Tentu saja saya senang sekali. Kalau boleh jujur, saya bukan anak yang rajin di kampus. Nilai saya boleh dibilang medioker, hasil jarang masuk kuliah. Tapi saya senang menulis. Jika ada kemampuan saya yang berkembang pesat selama kuliah, itu adalah menulis dan membaca teks dalam bahasa Inggris. Meskipun saya cukup yakin dengan perkembangan itu, tetap saja memperoleh penerbit untuk naskah skripsi, di luar yang saya bayangkan.

Karena saya pernah sekolah desain, saya memutuskan untuk mendesain sendiri buku itu. Padahal, saat itu saya tak punya komputer. Akhirnya saya kerjakan di rental. Hasilnya benar-benar menyebalkan. Ketika buku itu keluar, wajah Pramoedya di sampul tak begitu terlihat. Judulnya juga. Saya menganggap itu sebagai risiko penulis pertama yang sok ingin ikut campur.

Penerbit buku itu, Aksara Indonesia, kemudian tutup. Mudah-mudahan bukan karena buku saya tidak laku. Tiga tahun kemudian, 2002, menjelang saya menerbitkan novel pertama Cantik itu Luka, Penerbit Jendela (yang akan menerbitkan novel itu) menawari saya untuk menerbitkan ulang buku Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Tak ada alasan buat saya untuk menolak. Ya, siapa tahu buku itu masih bisa dijual, kan?

Masih dengan keras kepala, saya mendesain kembali versi kedua ini. Kali ini saya memakai empat wajah Pramoedya yang diberi warna dalam gaya Warhol. Tidak ingat kenapa saya melakukan hal itu. Kalau dipikir-pikir, konyol juga rasanya. Tapi hasil cetakannya bagus. Bersih.

Akhirnya tiba tahun 2006. Saat itu Penerbit Jendela sudah vakum menerbitkan buku, jika saya tak salah. Tak ada tanda-tanda buku saya akan dicetak ulang. Selain itu, saat itu juga buku-buku saya sudah diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Memperoleh sedikit waktu luang, saya memutuskan untuk membuat revisi ringkas (dan mudah-mudahan pamungkas) atas naskah itu. Ada beberapa penambahan, meskipun tidak signifikan. Saya melihat ada kekurangan di naskah skripsi yang ingin saya perbaiki. Setelah perbaikan itu, akhirnya naskah itu saya tawarkan kepada Gramedia.

Versi ketiga ini akhirnya terbit oleh Gramedia Pustaka Utama, lagi-lagi dengan sampul yang saya buat sendiri. Tapi percayalah, ini merupakan versi yang paling baik (menurut saya paling tidak). Saya senang dengan sampulnya, dimana saya melukis sendiri wajah Pramoedya (dengan pensil dan Photoshop), dan saya senang dengan perbaikan naskahnya.

Kini Pramoedya sudah meninggal. Mudah-mudahan masih banyak orang membaca novel-novelnya, dan jika berkenan, juga membaca tulisan saya di buku Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis tersebut.

Buku itu kini berumur 10 tahun. Berarti 10 tahun pula saya memutuskan untuk menjadi penulis secara sungguh-sungguh. Di rentang waktu itu, saya sudah menulis empat buku lainnya (dua novel dan dua kumpulan cerita pendek). Itu belum termasuk buku-buku dimana karya saya tergabung dengan karya penulis lain. Juga cerita-cerita pendek yang tersebar di berbagai surat kabar dan majalah.

Kini saya tengah bersiap menghadapi sepuluh tahun(-sepuluh tahun) berikutnya. Semoga itu merupakan waktu yang jauh lebih baik dari yang sudah saya lalui, sebab masih banyak hal yang ingin saya tulis.

One comment on “Sepuluh Tahun “Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis”

  1. Martiez says:

    wow, .saya segera menyusul mu guru atau mungkin menyalip prlahan denag tambahan 1 ban ektra..

Comments are closed.