Selamat Jalan, Alex

Sebenarnya hari ini saya ingin menulis catatan jalan-jalan ke Lampung dua hari kemarin (30 April-1Mei 2008) bersama Joko Pinurbo dan Binhad Nurrohmat (serta istri saya). Tapi mendadak kemarin, di jalan pulang ke Jakarta, Binhad memberi tahu saya: Alex sudah meninggal. Waktu itu saya belum tahu, Alex mana yang dimaksudnya. Saya punya beberapa teman bernama Alex. Setelah dijelaskan Binhad, baru saya tahu, yang dimaksud adalah penjaga kedai “Warung Alex” tempat kami biasanya nongkrong di Taman Ismail Marzuki (TIM).

Kalau saya membuat janji dengan seseorang untuk bertemu di TIM, saya pasti akan meminta bertemu di “Warung Alex”. Sebenarnya itu bukan nama sebenarnya, dan teman-teman saya yang baru pertama kali ke TIM suka kecele mencari papan nama “Warung Alex” dan dijamin tak akan pernah menemukannya. Nama warung itu yang sebenarnya adalah “Cipta Rasa”.

Ketika pertama kali saya datang ke Jakarta, tahun 2003, orang pertama yang saya temui adalah Mujib Hermani (adik Taufik Rahzen), yang saya kenal sebelumnya saat Mujib datang ke Yogya. Pertemuan pertama kami ya di “Warung Alex” tersebut, dan di hari itu pula saya berkenalan dengan Alex, si penjaga warung yang sekaligus namanya sering dipakai untuk menunjuk warung yang dikelolanya. Belakangan kemudian saya tahu, “Warung Alex” memang menjadi tempat nongkrong beberapa penulis.

Sebenarnya di TIM ada banyak warung dan cafe, berderet di sepanjang sisi kiri. “Cipta Rasa” hanyalah salah satu dari deretan warung tersebut. Tapi entah kenapa, sebagian besar teman-teman saya lebih suka memilih warung tersebut. Kalau warung tersebut penuh, paling banter memilih warung di sampingnya. Padahal sejujurnya, menu warung tersebut tak jauh berbeda dengan yang lainnya.

Bang Tarji (Sutarji Calzoum Bachri), selalu berada di “Warung Alex” setiap kali di TIM. Ia sering kedapatan bernyanyi diiringi gitar, kadang sambil memainkan harmonika. Beberapa yang lain, yang saya tahu selalu menyempatkan diri ke warung itu adalah teman-teman dari diskusi Meja Budaya, misalnya Bang Martin Aleida. Teman-teman kumpul saya: Binhad, Adi Wicaksono, Zen Hae, Zaim Rofiqi, Enison Sinaro, Nuruddin Asyhadie, Imam Muhtarom, juga hampir selalu di sana jika berada di TIM. Saya sendiri biasanya hanya pergi ke warung lain kalau tempat itu penuh, atau kebetulan saya sedang ingin pempek (sebab yang jual hanya warung paling ujung dekat bioskop).

Tentu lebih banyak lagi penulis (dan jangan dilupakan para seniman lain), yang sering menjadikan “Warung Alex” tempat singgah mereka di TIM: akan terlalu panjang deretan daftarnya jika harus ditulis semua.

Kembali ke Alex, ia seorang lelaki separuh baya berasal dari Tegal, sebuah kota di Jawa Tengah, tak jauh dari perbatasan dengan Jawa Barat, bertetangga dengan Cirebon. Alex sering mengajak saya ngobrol dalam Bahasa Sunda, karena ia tahu saya berasal dari Tasikmalaya, dan tampaknya karena ia mengerti (atau bisa) berbahasa Sunda. Ia juga sudah tahu kebiasaan saya untuk selalu memesan teh botol. Kadang-kadang ia bertanya, apa yang dilakukan seorang penulis. Kadang-kadang ia meminjam buku yang kebetulan saya bawa di tas, dan dikembalikan di kunjungan saya berikutnya. Lebih sering lagi orang menitipkan surat, bingkisan atau undangan ke “Warung Alex” untuk saya, dan ketika saya datang ke sana, Alex akan memberikan surat, bingkisan atau undangan itu kepada saya.

Begitulah Alex dan “Warung Alex”. Buat kami, itu tak hanya sebuah warung, tapi barangkali jadi semacam ruang tamu keluarga sendiri, dimana kami selalu menemui teman, membuat janji wawancara, atau sekadar berkenalan. Tidak cuma itu: warung tersebut kadang juga menjelma jadi sejenis kantor, atau ruang diskusi yang seru. Warung tersebut sebenarnya tutup pukul 10 malam, tapi Alex akan membiarkan kami mengobrol di terasnya (meskipun warung sudah tutup) sampai tengah malam.

Saya tahu, jika saya pergi ke TIM, saya pasti akan tetap pergi ke warung itu, meskipun tentu saja saya tak akan bertemu Alex lagi. Alex meninggal pagi hari, Kamis 24 April 2008 yang lalu. Sepulang dari Lampung, saya bertemu Bang Tarji malam harinya, dan ia menjelaskan lebih terang: Alex meninggal pagi hari, terjatuh ketika sedang duduk di meja karena serangan jantung. Ya, dia sudah pergi. Tapi saya yakin, “Cipta Rasa” pasti akan tetap dipanggil “Warung Alex” oleh siapa pun yang mengenalnya. Dan bagi mereka, bisa jadi warung tersebut telah menjadi alamat, atau rumah, kedua yang tak tergantikan.

Selamat jalan, Alex. Terima kasih untuk hari-harimu.

3 comments on “Selamat Jalan, Alex

  1. husnialmunir says:

    yup aku juga dah dengar waktu mampir di TIM hari minggu malam kemaren .. yah selamat jalan Alex …

  2. Lia says:

    Mas Eka, maafkan saya jika my leave reply isn’t sinchronized with the theme

    Saya adalah seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi, yang pd hrselasa kmrn Mas Eka kunjungi… Singkatnya, meski program studi yang sy ambil jauh dr hiruk-pikuk sastra, sy sejak dulu bercita-cita menjadi seorang penulis, setidaknya itu akan menjadi alternatif karier yg akan sy geluti
    Mas Eka, sy baru saja membaca buku ensiklopedinya anton kurnia tentang sastra dunia, di situ disebutkan bahwa buku knut hamsun yang berjudul “hunger”, itu sdh ditranslate ke dlm bahasa Indonesia. kr2 dimana ya saya bisa mendapatkan buku itu dlmversi terjemahan, serta novel2 pengarang dunia lainnya, seperti albert camus, franz kafka, john steinbeck, dll, krn bukannya sy mls membaca dlm bahsa inggris, tp disebabkan bgt banyaknya tgs kampus, membuat energi sy terkuras
    Terima kasih, dan last but not least, selamat jalan Alex….

    Lia:
    Coba kamu ke toko buku kecil di pojokan Taman Ismail Marzuki itu, barangkali buku-buku terjemahan lama itu masih dijual di sana.
    (ekakurniawan)

  3. nai says:

    aku ikut sedih. dan aku baru tau nama sebenarnya warung alex adalah cipta rasa, persis seperti nama restoran cina langgananku dekat rumah yang selalu ditunggui engko-nya dan selalu mendahulukan pesananku walaupun yang lain udah datang lebih awal. moga-moga engko cipta rasa di dekat rumahku nasibnya tidak sama dengan alex, teman kita.

Comments are closed.