Sebak Bola Sebagai Drama

Di sebuah rumah di tengah Kota Amsterdam, saat makan malam, tuan rumah tiba-tiba bertanya, ”Kamu penggemar sepak bola?” Ketika saya mengangguk dan menyebut Euro 2016 dengan antusias, raut mukanya menjadi kelabu. Dia bergumam nyaris tak terdengar, ”Sayang sekali kami tak menjadi bagian perayaan ini sekarang.”

Yang dimaksudnya adalah ketidakhadiran Belanda di kejuaraan sepak bola antarnegara Eropa tersebut. Enam tahun lalu, saat saya mengambil kelas bahasa Belanda di The Erasmus Huis Jakarta, keadaan sangat sebaliknya. Nyaris semua orang Belanda bicara sepak bola.

Di partai final Piala Dunia 2010, ada harapan membuncah tentang kejayaan sepak bola mereka, hingga nonton bareng di kedutaan meluber, meski akhirnya itu menjadi antiklimaks ketika mereka dikalahkan Spanyol.

Kini mereka menjadi bagian dari warga dunia kebanyakan: sebagai penonton. Bisakah mereka tetap antusias menonton kejuaraan itu (barangkali sekalian menonton Copa America 2016) meskipun tak terlibat sebagai peserta di sana? Tentu saja bisa. Setidaknya kita bisa mengajari mereka antusiasme sebagai penonton. Sebab, kita jauh lebih berpengalaman soal itu.

Sepak bola modern memang pada akhirnya bukan semata tentang 22 orang riang mempermainkan bola di satu lapangan, tapi juga sebuah tontonan. Sebuah kejadian yang tak hanya melibatkan mereka yang berada di lapangan, tapi juga di tribun dan depan layar televisi. Peraturan, jadwal, bahkan desain jersey tak hanya dibuat demi olahraga itu sendiri, tapi juga untuk tontonan.

Terutama kalau boleh jujur, sebagai tontonan televisi. Tentu saja akan selalu ada orang yang datang ke stadion-stadion di Prancis, negara tuan rumah, untuk kejuaraan tersebut. Tapi, jutaan lainnya bersiap di depan televisi. Suka tidak suka atau butuh tidak butuh, mereka akan mendengar komentator yang comel, analisis yang sok tahu, statistik pemain maupun pertandingan, dan tak mungkin terlewatkan: iklan.

Belum lama ini novelis sekaliber Mario Vargas Llosa sempat mengeluhkan budaya menonton itu dalam buku esainya, Notes on the Death of Culture. Dia terutama mengeluhkan kematian kebudayan dalam tradisi Eropa. Ketika erotisme telah berganti menjadi pornografi, dan jika kita mencoba melihatnya dalam sepak bola modern, olahraga menjadi sejenis drama.

Di layar televisi, yang kita lihat memang drama. Sebab, itulah yang kita cari. Kita tak hanya menemukan drama dalam sinetron di jam-jam siaran utama, tapi di berbagai format acara, dari politik hingga sekadar gosip artis. Dari lomba menyanyi hingga lomba memasak. Dari adu tinju hingga balap motor. Pun sepak bola. Ketika ia hadir di layar televisi, kita ingin melihat drama dipertunjukkan di sana.

Membayangkan sepak bola hanya sebagai siapa membuat gol dan bagaimana mereka melakukannya seperti berharap menonton video porno tanpa hawa nafsu.

Itulah mengapa pendukung Belanda yang menemani saya makan malam itu bisa bersedih, seperti banyak penonton sedih saat melihat gadis yatim disiksa ibu tirinya di sinetron. Berbeda dengan nada pesimistis Vargas Llosa yang melihat ini sebagai kematian budaya, menurut saya, apa yang terjadi di zaman sekarang hanyalah runtuhnya otoritas elite untuk menafsir kebudayaan. Termasuk bagaimana sepak bola harus dinikmati.

Dalam sepak bola sebagai drama, sepak bola menjelma wajah masyarakat dalam berbagai tingkatannya. Wajah individu, wajah kelompok, maupun wajah masyarakat secara luas.

Sebagaimana jika kita membaca novel, mendengarkan musik, atau menonton opera, sebagai individu kita mencari pijakan emosi dalam pertandingan sepak bola. Kita ikut merasakan apa arti kemenangan, apa arti kekalahan, bahkan tanpa harus berlari-lari di lapangan dengan kostum tim. Di titik inilah, meskipun tampak banal, di televisi kita perlu melihat bagaimana seorang pemain berteriak kesal, mendorong pemain lain, meringis berguling-guling, atau tersenyum semringah.

Sepak bola pada saat yang sama juga memberi kita identitas kelompok atau kelas. Kesedihan pendukung Belanda bisa dipahami dalam konteks ini. Juga bisa dipahami ketika akhirnya mereka berpikir untuk mendukung Belgia, misalnya. Bahkan, kejuaraan itu pun pada dasarnya secara sadar sedang merayakan identitas pan-Eropa, yang bahkan jauh lebih berhasil daripada apa yang bisa diusahakan oleh Uni Eropa.

Dan, kelompok tentu saja tak melulu mengenai identitas nasional. Orang Indonesia bisa mendukung Prancis dan orang Argentina mungkin mendukung Spanyol hanya karena mereka menyukai pemain-pemain Barcelona atau Real Madrid.

Lebih dari itu, dalam sepak bola (tapi tentu tak terbatas hanya dalam sepak bola), manusia memimpikan tatanannya. Kita ingin melihat pertandingan yang adil dan sportif. Kita ingin melihat semua gol diciptakan dengan cara yang patut, indah, dan hasil kerja sama semua pemain. Kita mencerca setiap kelicikan dan bersepakat bahwa yang melanggar aturan harus dihukum. Kita bertepuk tangan untuk keterampilan individu.

Sepak bola juga mengkhotbahkan moralitas sebagaimana para filsuf, bukan?

Semua itu bisa diperoleh melalui drama sepak bola. Di stadion maupun depan layar televisi. Otoritas elite yang menganggap semua itu hanya ada di karya-karya kanon telah runtuh. Kita tak lagi hanya bicara tentang kemarahan, keculasan, rasa bersalah, atau cinta kasih melalui drama Shakespeare. Sebab, kita bisa melakukannya melalui sepak bola. Di Euro 2016 kita akan melihat bagaimana umat sepak bola menafsir dan menciptakan kanon-kanon kebudayaan mereka sendiri.

Diterbitkan di Jawa Pos sebagai catatan mengiringi Piala Eropa 2016, 10 Juni 2016.