Sebab Kode Adalah Puisi

Sekiranya Borges masih hidup, barangkali ia akan menjadi penulis paling getol on-line. Bagaimana tidak, banyak orang yang percaya, sebelum internet ditemukan, Borges telah “memimpikan” dunia internet dalam cerita-cerita pendeknya. Ingat perihal ensiklopedia yang disusun secara diam-diam oleh sekelompok orang sehingga menghasilkan dunia yang baru? Bukankah hal ini sekarang menjadi mungkin dengan perangkat lunak wiki sebagaimana dipergunakan di wikipedia.org? Atau perihal teks yang bisa merujuk ke teks lain tanpa batas? Sejak ditemukan internet, kita sudah mengenal “link”. 

Terlepas dari impian Borges tersebut, tak terelakkan internet telah menjadi rujukan penting bagi kebanyakan orang, termasuk para penulis. Saya mempergunakan Google Book untuk membaca beberapa catatan perjalanan orang-orang Eropa yang datang ke Indonesia di masa kolonial, untuk satu riset tulisan fiksi saya, misalnya. Demikian pula Google Map, dengan teknologi citra satelit yang konon paling telat umurnya dua tahun ke belakang, kita bisa memastikan detail geografis satu tempat. Dalam hal ini, Anda bisa jauh lebih akurat daripada Karl May sekiranya mengisahkan kehidupan suku Indian tanpa pergi ke Amerika.

Tak disangsikan, internet telah membentuk kultur baru produksi dan reproduksi. Dalam dunia sastra di Indonesia, sederhananya, kultur itu telah berawal ketika penulis tak lagi pernah pergi ke kantor pos untuk mengirimkan naskah. Tentu saja kultur ini semestinya bisa jauh dari itu. Internet dipercaya tak sekadar sebagai narasumber yang mencengangkan untuk berbagai hal, dari bumbu yang tepat untuk satu resep masakan hingga racikan kimia yang tepat untuk meledakkan jembatan; yang lebih penting lagi, internet juga merupakan suatu media baru. Sebagaimana media baru umumnya, tentu saja ia memberi tantangan-tantangan baru bagi proses kreatif baru.

Sebagai misal, melalui internet dan dunia digital kita sekarang mengenal berbagai jenis lisensi untuk karya kreatif. Jika sebelumnya barangkali kita hanya memiliki dua dikotomi hak cipta: copyright dan domain publik, kini kita memiliki lebih banyak alternatif. Sebagai pemilik karya cipta, barangkali seorang pengarang tak menginginkan lisensi seketat copyright. Sebuah lembaga nirlaba bernama Creative Common menawarkan berbagai jenis lisensi yang fleksibel.

Software semacam Linux atau esai-esai di beberapa blog, juga banyak foto di flickr.com didistribusikan dengan lisensi semacam ini, sehingga Anda bisa mengambil dan mempergunakannya tanpa harus takut dikira membajak atau menjiplak. Kultur ini memungkinkan berkembang, saya pikir, hanya karena penetrasi internet yang luar biasa.

Blog

Saya tertarik mengamati ini, terutama setelah akhir-akhir ini banyak penulis semakin memaksimalkan fungsi-fungsi internet dengan membuat blog dan saya beranggapan ini perkembangan yang penting untuk dicatat. Jika sebelumnya para penulis lebih banyak berkerumun di komunitas-komunitas milis tertentu, akhir-akhir ini semakin banyak yang hadir secara individu, menuliskan pikiran-pikirannya melalui media bernama blog. Saya sendiri sebenarnya telah lama menjadi pengunjung tetap blog-blog penulis yang saya anggap bermutu untuk menunjukkan ini bukan hal baru, misalnya blog milik jurnalis Andreas Harsono atau milik kritikus film Totot Indrarto.

Tengok misalnya beberapa penulis yang baru-baru ini memutuskan untuk menulis di blog: Ada Djenar Maesa Ayu dan kritikus seni rupa Adi Wicaksono, serta penyair Binhad Nurrohmat. Mereka menyusul penulis-penulis lain yang telah lebih dulu. Beberapa yang saya ingat: penyair Hasan Aspahani, Joko Pinurbo, Wayan Sunarta, cerpenis Agus Noor, Ratih Kumala, Ook Nugroho, juga Linda Christanty yang menulis di blog sendiri maupun blog milik situs pantau.or.id.

Mungkin Anda masih sering kecele untuk memastikan, apa beda blog dengan website? Sebenarnya ini juga pertanyaan umum yang diajukan kepada saya oleh para penulis yang ingin memulai membuat blog. Secara sederhana, semua blog adalah website, tapi tidak sebaliknya. Situs seperti yahoo.com merupakan website, tapi jelas bukan blog. Ciri utama blog adalah website dengan konten yang terus di-update, dan pengaturan kontennya secara umum diurut berdasarkan waktu (mirip jurnal atau buku harian).

Ketika situs cybersastra.net diluncurkan sekitar akhir 90an, pada dasarnya ia telah mempergunakan prinsip-prinsip blog. Demikian pula ketika tahun 2000 saya bersama dua penulis, Linda Christanty dan Nuruddin Asyhadie mendirikan situs bumimanusia.or.id, kami mempergunakan software open source yang pada dasarnya juga blog. Software semacam itu telah dibuat komunitas internet di masa-masa tersebut, meski dengan standar keamanan dan fleksibilitas yang barangkali masih rendah. Baru ketika software semacam Movable Type dan WordPress muncul, blog menjadi istilah yang populer. Ditambah pula layanan Blogger.com (blogpspot.com) dari Google yang memungkin orang untuk membuat blog secara lebih gampang tanpa harus mengerti hal teknis instalasi software ke server. Hal ini semakin menjadi-jadi sekarang setelah munculnya fenomena Web 2.0 yang mengisyaratkan akan internet yang menunjang kreativitas sekaligus interaktivitas.

Kenapa saya beranggapan penulis yang membuat blog sebagai sesuatu yang penting? Masih ingat belum lama ini ketika jaringan kabel bawah laut di Pasifik terputus, dan terputus pula hubungan internet? Sebenarnya yang terputus adalah hubungan internet ke Amerika, sementara situs seperti kompas.co.id atau detik.com yang menyimpan server di dalam negeri masih bisa diakses. Ini semestinya segera menyadarkan betapa kita membutuhkan konten lokal, dan secara pribadi saya berharap kepada para penulis dari berbagai disiplin: sastrawan, sejarawan, jurnalis, dosen dan lainnya. Hal ini akan semakin dimungkinkan jika mereka langsung bersentuhan secara personal di blog masing-masing.

Tentu saja konten lokal tersebut akan semakin berarti jika disimpan di server lokal. Itulah kenapa saya lebih suka menganjurkan untuk mempergunakan layanan blog lokal semacam dagdigdug.com atau blogdetik.com (dengan catatan harus dicek apakah benar mereka menempatkan server di dalam negeri), atau melakukan instalasi domain sendiri sehingga bisa memutuskan untuk memilih layangan hosting, ketimbang mempergunakan wordpress.com atau blogger.com.

Dengan semakin banyak penulis menulis di blog, bisalah secara sederhana kita mengharapkan suatu ketika tercapainya swasembada konten lokal; tentu saja terutama jika konten ini ditulis dalam bahasa Indonesia pula. Maka jika sesuatu terjadi pada jaringan internasional (kabel bawah laut putus, atau traffic mengalami kemacetan, misalnya), kita tak hanya masih bisa mempergunakan jaringan internet dalam negeri, tapi juga bisa mengakses konten-konten yang diperlukan.

Media baru

Sebagaimana berbagai teknologi baru, blog sebenarnya telah dipergunakan di Indonesia nyaris bersamaan dengan di belahan dunia lainnya. Selain kita masih membutuhkan konten yang lebih kaya, harus diakui kita masihlah “hanya sekadar” pengguna. Kita bukan pencipta wiki maupun berbagai perangkat lunak blog: hanya mempergunakan apa yang tersedia.

Meskipun begitu, ini bukan alasan untuk patah semangat. Menulis blog merupakan langkah kecil dari sesuatu yang kelak menanti. Ada banyak hal di depan media baru yang terus berkembang ini; ada berbagai peluang mengkreasi bentu-bentuk seni yang khas, sebagaimana mungkin kesusastraan yang hanya bisa dinikmati melalui media ini dan tidak di media yang lain, sehingga mau tidak mau kita mesti memberinya sebuah nama baru. Kita bisa merealisasikan gagasan Borges tentang ensiklopedia fiktif, kalau mau.

Sekali lagi, menulis blog bisa menjadi awal yang baik. Sebagaimana penyair Joko Pinurbo akhirnya dipaksa mengenali kode-kode HTML ketika harus memasukkan puisi-puisinya ke blog. Siapa tahu kelak ia mau mempelajari bahasa pemrograman seperti PHP, Javascript, atau lainya, sehingga kelak dari tangannya bisa ditulis puisi saiber yang sejati (dalam arti tak mungkin dinikmati di media non-saiber). Sebab, “Code is poetry,” kata para programer WordPress. Ya, siapa tahu?

Tulisan ini pernah diterbitkan di Kompas, Minggu, 11 Mei 2008. Ada beberapa kesalahan ketik di pemuatan Kompas, yang saya perbaiki di versi blog ini. Blog Totot Indrarto tertulis pekde.com, seharusnya pakde.com. Situs pantau.org seharusnya pantau.or.id. Blog Ook Nugroho tertulis ooknurgoho.blogspot.com seharusnya ooknugroho.blogspot.com.

21 comments on “Sebab Kode Adalah Puisi

  1. mufti says:

    Baru sekali saya nemu tulisan di kompas bagian seni bawah cerpen yang bicara nyrempet teknologi.
    Buntutnya nanti para penulis minta pak eka untuk membuatkan blog, job baru.
    bumimanusia-nya dah nggak hidup lagi?

    mufti:
    beberapa orang sempat bertanya apakah ada niat untuk menghidupkan kembali situs bumimanusia? mungkin ini sekalian untuk menjawab yang lain-lain: sejauh ini saya tak punya niat menghidupkannya kembali. Bumimanusia merupakan situs yang mengasyikan buat saya di tahun-tahun itu, tapi mungkin enggak relevan lagi sekarang, ketika setiap penulis bisa membuat web-nya sendiri (blog, misalnya). Selebihnya, saya mungkin lebih tertarik melihat kemungkinan-kemungkinan yang lain, sesuatu yang tak terpikirkan di masa bumimanusia.
    (ekakurniawan)

  2. Roy Thaniago says:

    Mas Eka, salam kenal!

    Sudah beberapa kali saya mengunjungi blog Anda, tapi baru kali ini berani berkomentar. Terutama lewat tulisan di atas yg juga saya baca di Kompas Minggu.

    Saya sempat usil ketika membaca saran Anda untuk membuat blog di dagdigdug. Dalam hati saya, apakah Mas Eka dalam rangka promosi? hehe..

    Salam,
    Rothan

    rothan:
    terima kasih sudah berkunjung. kalo saran saya dianggap promosi, enggak apa-apa, lah. hehehe. tapi saya tidak punya hubungan apa-apa lho dengan dagdigdug.com (kecuali sebagai sesama penggemar blog, hehe)
    (ekakurniawan)

  3. Mufti says:

    Kalo gitu saya usul, gimana kalau blog2 penulis dikumpulkan dalam agregator, trus dipisahkan antara posting biasa dgn posting karyanya. Supaya pembaca seperti saya gampang mencari & bacanya. Saya sering tau tentang penulis tapi tidak tau yang mana karyanya, atau sebaliknya, pernah baca karya yang bagus tapi tidak tau siapa pengarangnya.

    mufti:
    coba kamu kunjungi http://www.kutubuku.com/coretan-penulis/. setahuku di sana ada agregator yang mengisi feed dari blog-blog penulis, termasuk blogku ini.

  4. shodiqin says:

    Selama membaca tulisan mas(tak panggil mas saja) aku mengangguk-angguk terus. Soalnya penjelasan tentang Website dan Blog sekarang bukan merupakan misteri yang terpendam. Semoga tambah maju yaaaaa,

  5. sarastia says:

    kak, baca cerpen koran tempo tadi?.anak sma, judulnya peri gigi. sumpah, kerennnn kakkkkkk….aku yakin ne cerpen jauh lebih baik dari beberpa cerpen di kumpulan cerpen kompas tahun 2007.he3.mestinya dimuat di kompas kok ya, sekalian ngajarin dewi utari yang minggu kemaren tu.he3.edan, anak sma kak, tapi keren gitu.menurut kakak gmn?

    sarastia:
    sayang aku belum baca. aku cuma langganan kompas. di tempatku suka kehabisan koran tempo, padahal aku tinggal di tengah kota (bendungan hilir, gak jauh dari semanggi).
    (ekakurniawan)

  6. sarastia says:

    kak coba baca ya….cari kemana lah. saya juga pingin tahu bagaimana bacaan saya. gitu loh.

  7. sarastia says:

    plissssssssssssssssssssssssssssssss

    sarastia:
    seleramu boleh juga. aku udah baca cerpen “peri gigi” itu. aku sampai nggak begitu yakin ditulis anak kelahiran 91. sangat modern, dan dialog-dialognya cerdas. menurutku, kalo bisa begitu terus, dia bisa jadi penulis hebat. apa kamu tahu cerpennya yang lain?
    (ekakurniawan)

  8. sarastia says:

    kakak tu jangan diplomatis terus dong jawabnya. dulu ditanya soal katrin juga gitu. huuuuuuuuuuuuuuuuuuu uuuuuuuhhhhhhhhhhhhhhh hhhhhhhhhh…… sebel tauk. boleh ja nakal saat jadi sodancho atau dewi ayu, tapi jangan di sini donggg…saya stresss beneran tauk membaca sendirian.temen2 juga nasibnya gak jauh beda dengans aya.

  9. sarastia says:

    halo kakkkkkkkkkkk…gak tau tuh.baru pertama kali bacanya. saya juga penasaran. gila tuh!!!!!!kayak ngledek penulis2 selebritas kita ya.he3.edan emang tu anak. kalau dia di kelas menulis aceh tu, berarti azhari kan tutornya. padahal azhari masih kacau kan.he3.aneh dehhh.

  10. sarastia says:

    tanya ja ma azhari kak!!!!!! pantas untuk dirayakan tuh!!!!!!!!!gila tuh!!!!!sapa tau kak eka bisa juga memberi jalan terang kepadanya. sayang tuh kak kalau jatuh ke tangan2 yang gak bertanggung jawab.he3.

  11. sarastia says:

    BENER SUMPAH, SAYA BACA CERPEN KORAN rutin bertahun2 dan baru kali ini terlonjak dari tempat duduk, sebab kekuatan tu cerpen dan kemudaan tu anak.

  12. sarastia says:

    sebab kak, sumpah, bener, ngeri liat komunitas2 penulis di indonesia. saya sempat keliling indonesia atas biaya diknas, ketemu dengan komunitas2 di beberpa kota. ngeri dahhhhhhhhhhhhhhhh hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh….bener ngeri kak. jarang yang serius hidup dalam teks. kebanyakan ya itu tuh, silau dengan predikat seniman. dan, prilakunya udik abis. bukan tanpa alasan dong saya dan teman2 memilihmu dan ugo.HUH!…enak aja.he3.zen hae juga keren deh. gunawan maryanto juga deh..he3.

    sarastia:
    ya, benar, banyak orang yang sudah silau dengan predikat seniman, atau budayawan. mengaku penulis tapi lebih banyak ngomong dan ngobrol dengan pejabat pemda. secara pribadi, aku tidak tertarik bergaul dengan yang begituan, dan tidak tertarik pula berteman. aku bahkan tidak tertarik memperoleh predikat seniman atau budayawan. biar begitu, aku sama sekali tidak pesimis. banyak penulis, terutama dari generasiku yang kebetulan kukenal, nyata-nyata hidup dengan teks (seperti istilahmu). kami memperlakukan “penulis” sebagai profesi. secara pribadi, banyak penulis muda yang aku menaruh minat dan hampir selalu kubaca karyanya: selain zen hae, ugoran prasad, dan gunawan maryanto (selera kita tak jauh berbeda, ya?), aku juga membaca linda christanty, azhari dan dinar rahayu (hampir tak pernah kulewatkan mereka). tentu juga aku pembaca karya2 istriku. kadang-kadang aku merasa ekstrem juga berpendapat, cukup karya-karya mereka, aku tak membutuhkan lagi prosa-prosa indonesia sisanya. dan kalau melihat anak baru yang cerpennya kamu kasih tahu, berarti generasi baru yang lebih segar menanti, dan itu membuatku lebih optimis.
    (ekakurniawan)

  13. sarastia says:

    tapi setelah membaca cantik itu luka dan menyadari ada yang mencurigakan dalam lelaki harimau. tampaknya EKA KURNIAWAN yang akan membikin geger dah!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!DEMI TUHAN aku yakin ada terang pada masa depan sastra indonesia. YANG LAIN KEJAUHAN.

  14. sarastia says:

    DAN SAYA BERSUMPAH TIDAK AKAN PERNAH MENEMUIMU SECARA PERSONAL. he3.agar tidak mempengaruhi imajiku tentangmu. sebab, saya tidak kuat menanggung resiko yang saya bayangkan.seperti saat ketemu sapardi joko damono tu.he3. jadi mengganggu bacaan atas puisi2nya tauk juga afrizal tu, jadi jelas kenapa puisi2nya begitu.he3

    sasastia:
    hehehe, sebaiknya begitu. istriku bilang, saya n3rd. lebih doyan di depan komputer daripada di depan orang. hanya ngobrol sama yang sudah dikenal. orang yang tidak mengasyikan, deh, hehehe….
    (ekakurniawan)

  15. sarastia says:

    sangat modern tu gimana maksudnya kak?. yang saya sadari cuma dialog, kesetiaan pada sudut pandang, dan bgm dia mengakhirinya tuh.aduhhhhhhhhhh….kesedihan kekanak2an tu jadi perih banget kak….

    sarastia:
    sangat modern dalam arti, ya benar katamu, sudut pandangnya sangat konsisten. semalam saya mendiskusikannya dengan istri (semalam akhirnya saya baca cerpen itu dari website tempo dengan bantuan password seorang teman, hehehe): cerpen itu sangat bersih. penulisnya tidak kentara, bersembunyi dengan sangat baik di balik narator. ini yang jarang terjadi di penulis baru dan bahkan penulis lama pun sering kecolongan. ia bisa memadukan bahasa yang bersahaja, lewat dialog-dialog, untuk menggambarkan semesta cerpen itu. juga ironi dan humornya, rasanya serasa ia sudah menulis bertahun-tahun. menurutku memang menjanjikan. trims ya, ngasih tahu cerpen itu. itu bikin kami tidur malam ini dengan perasaan senang (jujur, kalimat itu kami katakan sesaat sebelum tidur).
    (ekakurniawan)

  16. sarastia says:

    maaf kalu ngelantur. seneng aja sih setelah dapet beberpa hal baru dari cantik itu luka dan lelaki harimau. dari cantik, terasa banget bau marquez tapi tanpa sejarah ilmu pengetahuan (he3,saya baru nyampe sodancho merkosa alamanda kak tapi jelas akan saya selesaikan. semoga ada bau borges ya……dari marquez, yang selalu saya ingat ya malquides dan perkamen2nya soalnya.he3. kakak kan mustinya juga borgezian kan. ngulas borges tu keren gt kok. oh ya kak, dah baca Thomas Pincon?.katanya dia juga penganut madzab borges ya?.). dari lelaki harimau, ada hal yang mencurigakan mengenai bahasa. kalimat2 kakak aneh, diksi2 yang asing, tak bukan tidak, dll. entahlah, ntar jugaketemu.he3

  17. sarastia says:

    kak, makasih banget ya atas tangapan2nya. aduhhhhhh, jadi dingin sekali ne badan. internet emang bikin berubah semuanya ya. dulu, kapan sebagai pembaca bisa dialog ma penulis favoritnya coba?. saya akhir2 ini juga lgi nunggu cerpen ugo kak. tu, meski cuma dalam satu kalimat, pasti ja da yang bikin geregetan.he3. kata kakak ke new york kan?. saya jadi pingin tahu prosa kayak apa yang dia tulis di sana. seserius budi darma kayam rendra pa cuma nempelin new york sebagai tempat dibuatnya tu cerpen kayak dewi utari tu.he3.ini juga gak da pengaruhnya buat penantian saya atas potensi2 prosanya, cuma penilaian atas pribadinya.

  18. sarastia says:

    oh ya tentang potensi, ini yang juga bikin saya kadang khawatir. nirwan arsuka tu, potensi2 terus kan. sbg kritikus sastra, juga gak banyak.kritikus teater, mana dia buat setelah genesis i la galigo dan waktu batu tu. sebagai novelis, mana kelanjutan fragmen novelnya tu?. sbg penulis science dan kebudayaan, kalah kelas dong ma hadi susasnto, anak kemaren sore yang dimuat kortem kemaren tu.he3. bahwa arsuka lebih luas tarikannya, di situlah soalnya, negeri kita lebih mengagungkan distributor daripada sang PEMIKIR SESUNGGUHNYA KAN.

  19. sarastia says:

    radhar panca dahana, tu jenius sastra kan?. kalah oleh keterbatasan fisiknya kan. dan banyak lagi saya kira. nah, kak eka, dengan cantik itu luka, lelaki harimau, dan novel ketiga kakak nanti, saya kira terang lain dah!!!!!!

  20. intan says:

    kak eka tolong bisa ga posting kan cerpen peri gigi, aku pengen banget bacanya, tapi ga tau dapetinnya dimana???

    1. ekakurniawan says:

      @intan
      aduh, saya dulu baca di koran tempo. mungkin di website mereka masih ada?

Comments are closed.