Sastra dan Asal-usul Moral

Apa sesungguhnya yang bercokol di belakang seluruh perdebatan mengenai sastra (dan seni secara umum)? Tentu saja dengan sangat mudah kita bisa merujuk ke perubahan standar-standar moral yang berlaku di sebuah masa, serta kemudian terdapatnya berbagai standar moral tersebut yang hidup di masa yang sama. Di antara banyak filsuf, Nietzsche barangkali satu-satunya manusia yang berdiri untuk mengacak-acak struktur dan urat-urat perubahan serta pertarungan kepentingan moral yang berbeda-beda ini.

Dalam sejarah sastra Indonesia, polemik yang muncul dari generasi ke generasi, dari “polemik kebudayaan” hingga “manifes kebudayaan”, dari soal sastra kontekstual hingga meluncurnya Rancangan Undang-undang Anti-pornografi dan Pornoaksi, meskipun selalu memiliki bias politik, tentu saja selalu menempatkan moral sebagai ujung tombak penyerangan maupun lempeng perisai pertahanan. Ungkapan seperti “penghargaan kami terhadap keadaan keliling (masyarakat) adalah penghargaan orang-orang yang mengetahui adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman” dalam Surat Kepercayaan Gelanggang, saya pikir juga merupakan ungkapan-ungkapan umum moralitas.

Kenapa urusan moralitas ini selalu merupakan medan panas, yang melulu menimbulkan bara api, dan ujung-ujungnya pergesekan yang sengit? Salah satu kesimpulan Nietzsche yang paling berani adalah ketika ia mengatakan, “Moralitas bertindak melawan pengalaman-pengalaman baru yang kita peroleh dan mengoreksi moralitas yang mengikutinya, yang berarti moralitas bertindak menentang moralitas yang lebih baik dan lebih baru.” (dari Die Morgenröte atau Fajar). Dengan kata lain, moralitas senantiasa memapankan dirinya sendiri, dan memusuhi setiap perubahan di dalam dirinya.

“Pengalaman-pengalaman baru” pada akhirnya membawa identitas moral yang baru pula. Di dalam sastra, pengalaman dan identitas moral ini selalu memiliki konsekuensi-konsekuensi kreatif. Saya pikir sangat nonsens membayangkan karya kreatif tanpa melibatkan identitas moral yang bercokol di masing-masing kreator, meskipun kita bisa memisahkan hal itu dalam setiap pembacaan karya kreatif. Maka, jelas bukan sesuatu yang asing bahwa perdebatan sastra seringkali tak lagi melulu kreatif, bahkan lebih sering berada di wilayah moral, berada di medan “tugas-tugas dan tanggung jawab pengarang” dan “pengaruhnya kepada massa rakyat.”

Para filsuf tradisional senantiasa membayangkan struktur moralitas dalam kerangka prinsip-prinsip moral, serta metode-metode pembenarannya, yang dengan susah-payah dikembangkan atau dijelaskannya. Dalam pandangan tradisional ini, melalui prinsip-prinsip moral itulah situasi dikategorikan sebagai bermoral atau tidak. Juga dalam tradisi ini, pengategorian juga meliputi lebih relevan atau tidak secara moral. Dengan kata lain, selain memperbedakan antara yang bermoral dan yang tidak, juga memberikan jenjang nilai terhadap superioritas dan inferioritas moral. Misalnya, kewajiban untuk “mengatakan kebenaran” dan “membahagiakan sekelompok orang” mungkin pada situasi yang berbeda bisa bertukar tempat dalam hal mana yang lebih relevan atau lebih bernilai. Mana yang lebih superior dan mana yang inferior.

Dalam kasus yang sangat terkenal mengenai cerpen “Langit Makin Mendung” karya Ki Panjikusmin, misalnya, perseteruan itu meliputi mana yang lebih superior antara prinsip “kebebasan berkarya” dan “penodaan agama”. Siapa yang lebih patut dibela, manusia atau Tuhan? Siapa pun yang berada di pihak mana pun, berdiri dengan asumsi moralitasnya sendiri. Pengalaman-pengalaman baru, dengan ini, tak hanya menghasilkan prinsip-prinsip moralitas yang baru, tapi bisa juga dalam bentuk merevitalisasi standar moralitas yang lama, membuat yang inferior menjadi superior atau sebaliknya. Dalam posisi ini, sastra selalu berada dalam posisi: dikategorikan secara moral. Dipersengketakan sekaligus diperebutkan.

***

Apa sebenarnya yang tersembunyi dari daftar perbedaan-perbedaan ini. Apakah ini melibatkan makna-makna yang berbeda? Perbedaan konsepsi? Dalam salah satu karya pentingnya, Zur Genealogie der Moral, atau Asal-usul Moral, Nietzsche mengajukan satu perenungan: “Hanya sesuatu yang tak memiliki sejarahnya yang tak bisa dijelaskan.” Ia mengajukan satu pemahaman bahwa, moralitas sesungguhnya selalu memiliki konteks sejarahnya yang spesifik. Di dalamnya terdapat prinsip-prinsip dan aturan-aturan, yang kadangkala tak berhubungan dan malah inkonsisten. Yang sebenarnya sering terjadi adalah munculnya justifikasi atau pembenaran. Nietzsche menyinarai, basis moralitas, selain didasari oleh sistem nilai, prinsip dan pembenarannya, namun juga dialasi basis kedua yang sama penting: munculnya anasir prasangka, atau lebih gampangnya disebut sebagai “motif”.

Ini membawa ke akhir yang selalu tak mengenakkan bahwa perdebatan moral, sesederhana pengategorian sastra ke dalam satu atau beberapa kategori moral, senantiasa melibatkan “motif-motif” yang bersifat pertahanan diri. Serangan terhadap sistem dan standar moral yang lain erat kaitannya dengan naluri kecemasan dengan keberadaan sesuatu “yang lain”, yang dianggapkan sebagai ancaman. Pemahaman moralitas Nietzsche barangkali akan membawa kita ke pandangan yang lebih nihilis, tapi juga membawa konsekuensi yang sama paradoksnya: pendewaan kepada satu dan satu-satunya sistem dan standar moral. Atau dengan kata lain, bisa berakhir dengan menjadikan satu kelompok prinsip moral ke arah kehendak untuk mengatasi sistem moral yang lain. “Kehendak akan suatu moralitas tunggal dengan itu membuktikan adanya suatu tirani ….” (dari Der Willie zur Macht atau Kehendak untuk Berkuasa).

Dalam kehidupan sehari-hari, kenyataannya itu berlangsung di permukaan maupun di bawah. Di dalam sastra, yang sejak kelahirannya selalu mencoba membebaskan dirinya dari apa pun, juga masih berkutat dengan sensor dan pelarangan, terang-terangan maupun terselubung serupa rating “khusus bacaan dewasa”. Seolah ingin menutup seluruh pengampakkannya atas moral dan moralitas, masih dalam Zur Genealogie der Moral, Nietzsche menandaskan: “Kita membutuhkan suatu kritik nilai-nilai moral, nilai dari nilai-nilai ini sendiri mestinya tetap diucapkan dalam nada bertanya …”

Saya tak ingin menutup tulisan pendek ini dengan sejenis “pesan moral” tertentu. Barangkali satu kutipan dari John Stuart Mill (The Subjection of Woman) barangkali cukup: “Prinsip gerakan modern dalam moral dan politik, bertindak dan bertindak sendiri … di atas segalanya, hanyalah klaim nyata untuk kekuasaan dan otoritas.”

2 comments on “Sastra dan Asal-usul Moral

  1. bisma says:

    Bagi saya yang awam, kayakanya moralitas memang harus selalu mempertanyakan dirinya sendiri deh. Daripada membatu dalam struktur yang kaku, memang sebaiknya ia membuka diri pada paradoks-paradoks yang berlalu lalang di sekelilingnya…..

    Augh, sok banget gw yah.

    Salam kenal mas. Nice blog!

  2. sante says:

    wah desainnya keren bgt!

    sante:
    maksudnya versi desain Alice? iya, aku kesengsem berat sama ilustrasinya John Tenniel
    (ekakurniawan)

Comments are closed.