Sastra Asia dan Sastra Amerika Selatan

Aku termasuk yang gelisah dengan fenomena sastra Amerika Selatan, yang mengolah pinggiran melawan pusat itu. Namun aku belum sampai pada pokok gimana seharusnya sastra Asia. Sebaliknya, aku dalam setahun ini mencari benih-benih mengapa sastra Amerika Selatan hingga sampai pada titik itu.

Inilah yang kemudian baru kuperoleh: William Faulkner. Aku tengah mencoba membacanya, namun putus asa setengah mati. Aku tak bisa mengerti The Sound and the Fury, dan tak bisa melewati satu bab pun Absalom, Absalom. Tapi kupikir, untuk memahami sastra Amerika Selatan, sangatlah perlu memahami penulis besar Amerika ini. Seperti kita tahu, pengaruhnya sangat luar biasa pada Borges dan Marquez.

Untuk sementara, penjelasan yang bisa kuperoleh adalah kemampuan Faulkner mengolah Amerika (Serikat) Selatan, menghadapi utara. Mengolah inferioritas negeri yang terkalahkan (dalam civil war) menghadapi dunia superior. Mengolah pinggiran menghadapi pusat kupikir telah berawal dari lelaki ini. Penulis-penulis Amerika Selatan mencurinya, dan mempergunakan metodenya untuk membuat dunia ketiga menghadapi dunia pertama. Aku terus mencari jejak-jejak Faulkner di luar Amerika Selatan, dan menemukan Toni Morisson. Kupikir pada dirinya sangat jelas metode itu terus berlangsung: negro melawan kulit putih, perempuan melawan lelaki. Yang kalah melawan yang menang. Itulah mengapa, ketika seorang kritikus menuduh Arundhati Roy terpengaruh Faulkner, hal itu tak membuatku terkejut, meskipun Roy membantah ia tak pernah baca Faulkner. Sebab Roy tengah mengolah hal remeh-temeh menghadapi hal-hal besar, misalnya.

Belakangan aku mencoba membaca Mo Yan dari Cina, yang dengan kerendahatian mengakui telah mencuri pula metode Faulkner ini. Ia mengisahkan dunia sehari-hari petani Cina, melawan birokrasi partai komunis yang gigantik.

Masalahnya mungkin, bisakah kita merumuskan siapa diri kita, dan dunia macam apa yang tengah kita hadapi? :)

(Aku nulis serius sekali, ya?)

NB. Oh ya, jadi inget soal post-kolonial dan tentang kecenderungan sastra kita yang cuma sampai sejarah kolonial. Tapi kalau dirasa- rasa, jangankan masa sebelum kolonial, masa kolonial pun bahkan kadang-kadang terasa terbentang jarak begitu luas. Aku jelas tak menguasai bahasa Belanda, bahkan kakek-nenekku tak pernah mengucapkan bahasa itu. Dan ketika aku berdiri di Borobudur atau Prambanan, entahlah, itu seperti tak ada hubungannya denganku. Kupikir itu dirasakan tak hanya olehku, dan mungkin itulah penjelasan paling masuk akal mengapa sastra kita tak bisa menjangkau wilayah-wilayah tersebut: kita generasi yang tercerabut dari sejarah.

Catatan ini awalnya muncul di milis Linkart.