Sandal Jepit

Dalam enam bulan terakhir, saya menjebolkan tiga sandal. Sebenarnya rada membingungkan. Sandal pertama yang jebol bertahan dua tahun (itu sandal kedua yang bertahan lama, yang pertama dicuri orang di muka pintu). Jadi saya pikir sandalnya baik, karena tahan lama, dan jebol karena umurnya sudah tua. Akhirnya saya beli merk dan jenis yang sama (bahkan warnanya sama). Ampun, tidak sampai dua bulan, sudah jebol tali jempolnya.

Akhirnya saya beli lagi. Masih berbaik sangka, saya beli merk yang sama, tapi beda jenis dan beda warna. Yang ini bertahan sebulan. Kali ini tali samping yang jebol. Padahal saya jarang bepergian jauh. Paling banter kedua sandal itu saya pakai jalan-jalan di mall. Bahkan kalau nyetir, saya nyeker alias mencopot sandal. Yang ketiga ini jebolnya rada bikin sebal, tepat di parkiran Plasa Senayan. Akhirnya saya berjinjit-jinjit masuk mall dan beli sandal baru. Kali ini merk lain. Eh, sandal yang jebol kedua, sebenarnya kemudian dibenerin oleh tukang sol yang kemudian lewat depan rumah. Dijahit. Tapi jebol juga lagi. Kali ini saya pikir kesalahan harus ditimpakan kepada tukang sol yang tak bekerja dengan baik.

Tapi ngomong-ngomong soal sandal, saya suka sekali memakai sandal. Terutama dari jenis yang orang bule suka menyebutnya: flip flops (untuk membedakannya dengan sandal slipper). Kita menyebutnya: sandal jepit. Saya tentu saja juga suka sepatu, terutama sepatu kets. Tapi sandal jepit tetap merupakan aksesoris kaki saya yang paling utama. Praktis, ringan. Apalagi di udara tropis seperti Indonesia, sandal jepit membuat pori-pori kaki lebih leluasa bernapas (baiklah, yang ini alasan pembenaran saja, tapi memang benar, kan?).

Tentu saja sandal jepit juga bukannya tanpa risiko. Jika tersandung, jempol atau jari kaki akan berhadapan langsung dengan batu atau trotoar jalan. Itu yang paling menyebalkan. Yang sederhana: kaki mudah kotor, jadi harus rajin membersihkan daki dari kulit samping kaki, serta sela-sela jari. Ada juga yang lebih tidak enak: kalau terpaksa mendorong mobil, sandal sama sekali tidak enak dipakai. Juga untuk berlari. Soal berlari, zaman saya kuliah, kebanyakan teman-teman saya juga suka memakai sandal jepit. Tapi mereka mendadak jadi rajin pakai sepatu, bukan ketika masuk ruang kuliah, melainkan ketika pergi berdemo. Kenapa? Ya, pakai sepatu lebih mudah untuk berlari saat dikejar tentara dan brimob.

Sama seperti kaus oblong (ini pakaian kegemaran saya juga), meskipun banyak penggemarnya, sandal jepit seringkali memperoleh diskriminasi. Mahasiswa yang mengenakan sandal jepit dan kaus oblong dilarang masuk ruang kuliah. Kebanyakan perkantoran swasta dan hampir pasti perkantoran pemerintah, melarang masuk orang yang mengenakan sandal jepit dan kaus oblong. Saya tak mengerti darimana asal-usul larangan semacam itu. Standar apa yang dipergunakan untuk diskriminasi sandal jepit dan kaus oblong?

Sekali lagi, untuk negeri tropis seperti Indonesia, mengenakan kaus oblong dan sandal jepit seharusnya malah merupakan kewajiban.

Sebagai pemakai setia sandal jepit, saya sudah seringkali ditegur satpam gedung perkantoran. Terakhir minggu lalu saya ditegur petugas satpam sebuah stasiun televisi. Karena aturan di tempat itu mengharuskan saya pakai sepatu, biasanya saya pakai sepatu. Tapi hari itu saya sedang bersantai menulis naskah, ketika tiba-tiba memperoleh sms dan diminta datang untuk merevisi naskah. Karena waktunya sudah mepet, saya datang meskipun saya pakai sandal. Tentu saja saya dicegat satpam, dan saya dilarang masuk. Saya bilang, “Bener, Pak, nggak boleh masuk? Saya buru-buru dipanggil, nih, buat revisi naskah, tayangnya beberapa minggu lagi?” Si satpam ragu-ragu, dan akhirnya, “Lain kali pakai sepatu ya, Mas, sudah pertaruran di sini.” Saya mengangguk, “Baiklah, Pak.”

Satpam itu tentu saja orang baik.

Baiklah, soal larangan memakai sandal jepit, seringkali itu merupakan hasil dari pikiran yang memang diskriminatif. Orang-orang yang membuat peraturan ini barangkali berpikir ia membuat peraturan yang baik, membuat orang agar berlaku sopan, tapi lupa menjawab pertanyaan mendasar, “apakah itu sopan”? Percayalah, orang-orang yang membuat peraturan agar orang berlaku sopan (menurut standarnya sendiri), tak pernah menjawab pertanyaan filosofis macam begitu. Ia bahkan tak tahu ada pertanyaan semacam itu.

Masih ingat dengan “makan dengan tangan kanan”? Ada masalah apa dengan tangan kiri? Bahkan meskipun kita bukan kidal, apa yang salah dengan tangan kiri? Apakah karena cebok pakai tangan kiri? Bagaimana jika cebok pakai tangan kanan? Bagaimana jika cebok tak memakai tangan kanan maupun tangan kiri? Diskriminasi seringkali terjadi untuk hal-hal sepele, dan kebanyakan orang tidak sadar telah melakukan diskriminasi. Merasa tersinggung karena orang menyodorkan tangan kirinya. Merasa tersinggung karena orang masuk kantornya mengenakan sandal jepit.

Sandal jepit, bagaimanapun, merupakan penemuan manusia yang sangat hebat. Manusia tahu, di muka bumi ini, begitu banyak hal berbahaya sehingga perlu melindungi telapak kakinya sendiri. Bahkan mereka pun melindungi kuda peliharaan mereka dengan alas kaki, bukan? Bersukacitalah, kita tak harus memakai alas kaki besi yang dipaku ke kuku seperti kuda. Manusia cukup cerdas untuk menemukan benda bernama sandal jepit. Orang-orang Jepang menciptakan sandal jepit dari jerami yang dianyam begitu kuat. Kita juga mengenal bakiak: alas kaki terbuat dari kayu, dengan tali pengikat yang kadang berbentuk flip flops kadang berbentuk slipper.

Saat ini, sandal jepit jelas merupakan industri yang sangat besar. Dari uaha kelas rumah tangga sampai perusahaan multi-nasional, semua membuat sandal jepit. Merk-merk besar, dari brand fashion sampai pembuat alat-alat olahraga, semua memproduksi sandal jepit.

Waktu kecil, ibu saya sering membelikan saya sandal jepit dari warung. Sandal jepit itu hanya dibungkus plastik, dan biasanya digantung begitu saja, berjejer dengan krupuk dan kacang. Merk-nya macam-macam. Umumnya memiliki alas terbuat dari karet, tapi talinya terbuat dari plastik. Ujung-ujung tali plastiknya suka bikin sakit kalau masih baru. Tapi harganya sangat murah. Sandal semacam itu sekarang bisa juga dibeli di supermarket, biasanya ditumpuk begitu saja di kotak besar. Di atas sandal semacam ini, ada sandal yang alas maupun talinya terbuat dari karet. Ujung talinya membulat, jadi tidak sakit, apalagi terbuat dari karet.

Pernah juga menjadi trend sandal gunung. Ini merupakan modifikasi dari sandal jepit dan slipper. Memakai tali, kadang-kadang ada bagian yang dijepitnya, tapi memiliki lebih banyak tali untuk mengikat sandal ke kaki. Alasnya lebih kuat, dan karena diikat, tidak masalah jika harus dibawa berlari. Tapi untuk penggunaan sehari-hari, jelas sandal macam begini sama ribetnya dengan sepatu: harus mengikat dan membuka setiap kali memakai dan melepasnya. Akhirnya orang akan kembali ke sandal jepit. Bangun tidur bisa langsung pakai, naik ke ranjang bisa langsung lepas.

Apakah karena begitu gampangnya dipakai dan dicopot, sandal jepit kehilangan formalitasnya, sebagaimana kaus oblong? Baiklah, di luar sana, memang ada orang-orang yang lebih suka memusingkan diri dengan alas kaki apa yang kamu pakai, sebagaimana ada orang yang juga suka memusingkan diri dengan bagaimana kamu mempergunakan sendok, garpu dan pisau di meja makan.