“Sam Kok” a-la John Woo dan Bikin Film Silat, Yuk?

Hmm, saya bukan penggemar berat John Woo, tapi saya gandrung dengan “Sam Kok”. Sebelumnya saya sudah nonton versi lain, Three Kingdom karya sutradara Daniel Lee. Sekarang John Woo datang dengan judul Red Cliff. Saya baru saja pulang menonton yang terakhir itu di Plaza Semanggi.

Baiklah, saya tidak bermaksud memperbincangkan (apalagi membuat kritik mendalam) mengenai film itu. Kalau sudah menyangkut film wuxia (cerita silat), saya cenderung enggak obyektif. Pokoknya suka, hehe. Apalagi Red Cliff belum selesai. Yang saya tonton hanyalah bagian pertama. Bagian keduanya mungkin baru nongol Januari tahun depan. Ya, film ini berdurasi 4 jam, karena itu dipecah dua. Tapi versi dua film ini konon hanya diputar di Asia. Di luar Asia, mereka hanya dapat versi satu film berdurasi 2,5 jam. Lantas apa yang mau saya omongin? Entahlah, tiba-tiba setelah lihat film itu, kepikir kenapa kita enggak bikin film silat yang asyik, ya?

Saya ingat ketika SMP, film silat (Indonesia) terakhir yang saya lihat adalah Saur Sepuh (karya Imam Tantowi). Kalau tidak salah ingat, mungkin itu juga satu-satunya film silat dengan julukan “kolosal”, baik jumlah pemain maupun anggaran. Tentu kalau dibandingkan anggaran bikin film sekarang, apa yang disebut “kolosal” itu barangkali menggelikan. Tapi baiklah, di masa itu, Saur Sepuh bisa dibilang luar biasa. Saya menonton beberapa kali, bahkan satu diantaranya kami sekeluarga (ayah, ibu dan adik-adik saya) menonton bareng ke bioskop.

Di Pangandaran, saat itu masih ada satu bioskop dengan dua layar yang dioperasikan oleh jaringan Twenty One (hey, memangnya berapa banyak bioskop di Indonesia yang tidak dioperasikan mereka???). Saya menduga, hampir semua penduduk Pangandaran kayaknya menonton film itu. Ya, sebelum dirilis menjadi film, cerita Saur Sepuh memang sudah populer duluan sebagai sandiwara radio. Sepulang sekolah, sekitar jam 3 sore, sudah menjadi pemandangan umum di sekitar rumah saya melihat orang tua dan anak-anak duduk mengelilingi radio untuk mendengar kisah mengenai raja Brama Kumbara, perseteruan Mantili dan Lasmini, serta Raden Bentar dan Patih Gotawa.

Tapi bukan itu saja: Sebagian adegan film Saur Sepuh, pengambilan gambarnya dilakukan di cagar alam Pananjung, di Pangandaran. Bahkan sebelum film itu ditayangkan, penduduk Pangandaran sudah sering melihat proses pengambilan gambarnya. Ditambah promosi yang gila-gilaan (saya melihat iklan film ini di Pikiran Rakyat sebesar setengah halaman, iklan film terbesar yang pernah saya lihat di koran), begitu muncul di Nanjung 1 dan Nanjung 2 (begitu nama bioskopnya), penduduk kota kecil itu langsung antri, memanjang seperti ular.

Ok: setelah itu saya belum pernah melihat film silat Indonesia dengan penuh antusias. Barangkali memang tak ada lagi produksi. Paling banter mengingat beberapa film lain yang pernah saya lihat sebelumnya. Tengok misalnya film-film Barry Prima yang selalu bermusuhan dengan Advent Bangun (ugh, saya baru tahu film-film mereka dijual dalam bentuk dvd di Amazon, padahal di Indonesia aja susah mencarinya).

Kalau dipikir-pikir sekarang, film-film itu tampak tidak istimewa. Burung rajawali raksasa yang terbang ditunggangi Brama Kumbara pasti terlihat norak hari ini (haha, saya masih ingat bagaimana mata rajawali itu mengedip-ngedip dengan perlahan, kayak burung kurang tidur). Begitu juga kostum para pendekar yang selalu membuat saya berpikir hey, kayaknya ada yang salah. Karena kalau diperhatikan, mereka suka pakai rompi wool imitasi (biar terlihat seperti kulit binatang), atau pakai sandal yang diikat ke lutut (tapi mereka abai terhadap detail, sandal itu jadi terlihat agak modern).

Meskipun begitu, coba kita lihat kembali Red Cliff. Dalam beberapa tahun terakhir ini, saya sudah menonton banyak film wuxia Cina, dan sebagian besar memang film-film hebat. Diawali Crouching Tiger, Hidden Dragon dari Ang Lee dan Hero karya Zhang Yimou. Terus bandingkan dengan film-film Jet Lee semasa seri Once Upon a Time in China atau Drunken Mater-nya Jacky Chan. Terus bandingkan pula dengan film-film Bruce Lee. Ya, film-film lama itu pun memang jadi terasa kuno.

Dengan berbagai penemuan zaman sekarang, memang sangat memungkinkan untuk menciptakan efek-efek menantang yang rasanya mustahil dilakukan dengan bagus di masa lalu. Terbang yang indah, efek perang dengan ratusan ribu figuran, semuanya lebih gampang dengan bantuan komputer. Tapi sementara sineas dari negeri Cina (juga belakangan Jepang maupun Korea) berhasil memadukan wuxia dengan teknologi, kapan ya kita melakukannya? Duh, adakah sineas Indonesia yang tertarik dengan cerita silat? Jangan-jangan referensi mereka memang cuma kehidupan masyarakat urban di Jakarta?

Begitulah, sepulang dari menonton film Red Cliff, saya berkata kepada istri saya: “Aku mau bikin skenario film silat”. Saya belum tahu apa yang akan saya tulis. Saya akan melakukan riset kecil dulu untuk sekadar menentukan apa yang ingin saya tulis. Paling tidak, itu satu-satunya cara menghibur diri karena tidak ada film silat lokal. Kurang lebih seperti nasihat Toni Morrison kepada para penulis: “Kalau kamu tidak menemukan novel bagus, maka kamulah yang harus menulisnya!” Hmm, ada yang mau bagi-bagi ide? Atau bahkan ada yang tertarik menyutradarainya? Hehe … atau malah berani memproduksinya?

5 comments on ““Sam Kok” a-la John Woo dan Bikin Film Silat, Yuk?

  1. hmmm… ya ya ya.. memang bagus film-film kung fu, saya lebih suka nyebutnya gitu. Kadang-kadang habis nonton film gituan suka kebawa-bawa mimpi. mimpi saya bisa silat *hyaaaaaaat!!!!!* :D

    nah! kenapa gak bikin film silat lidah?!

    Lutfia:
    silat lidah enggak perlu dibikin. sidah banyak di teve, hehe.
    (ekakurniawan)

  2. Ikpor says:

    saya sebenarnya punya ide buat cerita fiksi silat dengan mengambil setting sewaktu pasukan kubilai khan menyerang pulau jawa pasti keren. Masalah di film Indonesia ialah memang masalah kostum yang terkesan murahan dan detail. Banyak yang berkomentar mungkin kebudayaan Indonesia zaman dahulu gak tinggi, ga pake baju jadi gak bagus. Itu bukan alasan. Film film Hollywood zaman kayak suku indian juga gak memakai baju tetapi kok tetap keren juga… nah intinya caranya….

  3. asepso says:

    Salam,
    Mas Eka suka buka Dimhad ga? Tulisan Mas Eka tentang Kho Ping Hoo saya temukan pertama kali di situ.
    Kapan Mas nulis tentang Khu Lung dan Chin Yung?
    Menurut Mas Eka, bagusan mana antara karya-karya Khu Lung dibanding Chin Yung?
    Terima kasih.
    Salam.
    Salam kenal,
    Asep Sofyan

  4. lukisanmoses says:

    Salam kenal. Saur Sepuh paling mantap di radio. Coba kalo Joh Woo mau bikin filmnya, pasti asik ya?

  5. salam kenal kawan, jangan lupa kunjung balik ke blog ku ya :-)

Comments are closed.