Rushdie dan Dunia yang Tak Lagi Senyap

“Jangan tinggalkan aku sekarang, atau aku tak akan memaafkanmu, dan aku akan membalas dendam, aku akan membunuhmu dan jika kau punya anak dari lelaki lain aku akan membunuh anak-anak itu juga,” demikian kata Shalimar sang pencinta Muslim di pertengahan Shalimar the Clown.

Boonyi, sang kekasih Hindu, menjawab ancaman itu dengan enteng: “Betapa romantisnya kamu, mengatakan hal termanis!”

Pertama kali dikenal dunia melalui Midnight’s Children, gayanya yang kompleks dan cenderung satir terhadap politik, sejarah dan agama (Islam) selalu mendatangkan kontroversi. Itulah Shalman Rushdie. Puncaknya ketika ia menerbitkan The Satanic Verses yang menuai badai kemarahan dimana-mana dan mengharuskan sang pengarang bersembunyi bertahun-tahun, meski permintaan maaf sudah diberikannya. Peristiwa itu memberinya dua keadaan yang eksterm: ketakutan dan kemasyhuran laksana selebritas. Perlindungan ketat sekaligus perayaan berlebihan sebagai martir “kebebasan berekspresi”.

Akhir tahun 2005 lalu, novel kesembilannya baru saja terbit, Shalimar the Clown. Berkisah mengenai pembunuhan duta besar Amerika untuk India oleh sopir pribadinya yang berdarah Kashmir, Rushdie kembali dengan tema favoritnya tersebut. “Untuk hidup kembali,” katanya dalam The Satanic Verses, “kau harus mati terlebih dahulu.” Apa boleh buat, kepopuleran yang diperolehnya melalui Midnight’s Children dan The Satanic Verses terasa seperti membunuhnya. Usahanya untuk membebaskan diri dari bayang-bayang kedua novel tersebut (yang pertama disebut-sebut sebagai karya terbaiknya, peraih Booker of Booker Prize, yang kedua karena kontroversi yang mengikutinya, meski juga memperoleh Whitbread Prize) dalam novel-novel berikutnya, serasa semakin membenamkannya dalam-dalam. Dua novel terakhirnya bahkan dianggap yang terburuk, jika tidak bisa dikatakan gagal belaka.

Ditulis oleh orang yang telah mengalami sendiri teror atas nama agama jauh sebelum dunia mengalaminya, Shalimar the Clown disebut-sebut sebagai kelahirannya kembali, disebut-sebut sebagai upayanya kembali ke tradisi awal kreatifnya, ke novel dengan kompleksitas cerita berskala saga. Barangkali berlebihan, barangkali tidak, tapi kehadiran novel ini disambut baik dalam situasi dunia yang diwarnai ketegangan dunia Barat dan Islam selepas peristiwa 11/09. Rushdie, yang sejak awal berada dalam pergumulan kedua dunia tersebut (kumpulan cerita pendeknya secara eksplisit diberi judul East, West), ditengok dan diperbincangkan kembali.

Tradisi kepenulisan Rushdie sendiri masih berada di gerombolan orang-orang keranjingan serupa Gunter Grass atau Italo Calvino. Ia memadukan tradisi realisme magis dengan tradisi oral India, sejarah, politik dan sosiologi agama, serta sedikit sentuhan sains fiksi di beberapa novelnya (terutama novel pertamanya, Grimus). Banyak pembaca sering melihat karya Rushdie sebagai sejenis metafor. Saleem Sinai dalam Midnight’s Children yang lahir tepat pada 15 Agustus 1947, hari kemerdekaan India, sebagai metafor untuk India sendiri. Mahound dalam The Satanic Verses sebagai Nabi Muhammad. Maka pembunuhan duta besar Amerika oleh seorang sopir yang Muslim dalam Shalimar the Clown, tak pelak membuat orang menafsirkannya sebagai sejenis metafor pula, yang tentu saja merupakan sesuatu yang sah. Hal ini ditambahi oleh kenyataan bahwa putri Maxmilian Ophuls, sang duta besar, juga diberi nama India, sebelum kelak menggantinya sendiri dengan nama Kashmir.

Pembunuhan itu sendiri sesungguhnya merupakan kisah cinta dan balas dendam yang sederhana. Tapi di balik itu, memang membentang konflik berkepanjangan, masa lalu maupun masa sekarang. Begitulah kemudian bagaimana peristiwa pembunuhan ini berbiak menjadi semacam pembunuhan politis. Berawal di tahun 1991, bergerak maju dan mundur, di tangan Rushdie kisah sederhana ini bisa menjadi begitu kompleks, berbaur dengan keajaiban, perang yang brutal, cinta terlarang antara pemuda Muslim dan gadis anak pendeta Hindu, dan perjalanan melintasi benua dari California ke Kashmir, Prancis, Inggris sebelum kembali ke California. Apakah sebagai seorang pencerita, yang menemukan kemilaunya juga antara lain melalui Haroun and the Sea of Stories, Rushdie telah kembali? Tentu perlu dibuktikan dengan membacanya.

***

Seperti Saleem Sinai dalam Midnight’s Children, Salman Rushdie dilahirkan di Bombay tahun 1947 dari sebuah keluarga kelas menengah Muslim dan hijrah ke Pakistan ketika negara itu terbagi dua. Seperti Saladin Chamcha dalam The Satanic Verses, Rushdie mengenyam pendidikannya di Inggris. Kedua novel pertamanya ditulis di tengah waktu luangnya sebagai copywriter di sebuah biro iklan, sebelum ia memutuskan sepenuhnya sebagai penulis. Beruntung, setelah diterbitkan tahun 1981, Midnight’s Children memperoleh kesukseskan yang mencengangkan. Selain beberapa penghargaan terhormat, novel tersebut terjual seperempat juta kopi dalam tiga tahun pertama dan diterjemahkan ke lebih dari selusin bahasa.

Novel ini ditulis dalam bahasa Inggris, oleh orang yang pada saat itu telah berkebangsaan Inggris, tapi berkisah mengenai India dan Pakistan. Barangkali novel Inggris tentang India terbaik sejak Kim Rudyard Kipling. Tapi bagaimanapun, dengan berbagai cara, Rushdie selalu dilihat sebagai orang India, sesuatu yang menjadi sangat penting untuk melihat sudut pandang yang dipakai dalam novel-novelnya dan bukan semata-mata karena nama dan warna kulitnya. Berbeda dengan V.S. Naipaul yang sama-sama eksil, Rushdie tidak mencerabut diri dari akar-akarnya, malahan sebaliknya, ia selalu kembali ke pokok soal India.

Sebagaimana Milan Kundera yang selalu merayakan Ceko meski justru terusir dari sana. Mereka menambah deretan penulis yang eksil, baik secara terpaksa maupun atas pilihan sendiri. Rushdie tergolong penulis yang kedua, dimana keeksilan justru dipergunakan untuk melihat akar secara lebih berjarak.

Demikianlah dalam Shalimar the Clown, ia kembali untuk menengok Kashmir. Bagian mengenai Kashmir, malah bisa dikatakan bagian yang paling indah dalam novel ini, dibandingkan misalnya, penelusuran jejak Max Ophuls yang cenderung garing. Jika dalam Midnight’s Children dan The Satanic Verses, metafor Rusdhie tentang hal di luar tokoh-tokoh novel itu sendiri (India dalam Midnight’s Children misalnya) sama sekali tak pernah mengganggu keutuhan tokoh atau kisah sebagai sesuatu yang mandiri, sebaliknya terjadi dalam Shalimar the Clown. Dalam novel terbarunya ini, setiap tokoh tampak dipenuhi beban identitasnya. Shalimar kehilangan identitas pribadinya yang mandiri, dan harus terus-menerus diverifikasi sebagai seorang Muslim yang kemudian memperoleh identitas tambahan: fundamentalis. Demikian pula Max Ophuls: Yahudi Amerika, penguasa tanpa batas yang bisa merenggut apa pun.

Tapi bagaimanapun, Rushdie mengembalikan apa yang luput dari perhatian orang dan halaman depan surat kabar: Kashmir. “Untuk kenangan indah kakek-nenek Kashmirku, Dr. Ataullah dan Amir un nissa Butt,” kata Rushdie. Kashmir, bagi Rushdie, ibarat sebuah surga yang hilang, sebuah urusan yang memang sangat personal. Berawal sebagai peristirahatan musim panas para koloni Inggris yang penuh kedamaian, neraka itu datang sejak masa Perpisahan dimana Kashmir mulai terbagi dua. Sebuah wilayah kecil dikuasai Pakistan, sementara wilayah paling besar, dikuasai India dalam keadaan terus bergejolak. Konflik sektarian mengoyak-oyak tempat itu, diperebutkan penduduk yang mayoritas Muslim dan pemerintahan Hindu.

Meskipun begitu, kali ini Shalimar the Clown tidak ditulis orang yang barangkali menulis dalam keadaan ketika ia menulis Midnight’s Children atau bahkan The Satanic Verses. Hidup enam belas tahun di bawah fatwa mati Khomeini, yang pastinya tetap banyak dipegang teguh para fundamentalis, dan tinggal di perumahan mewah Manhattan, Rushdie bukan lagi seorang penulis dari dunia ketiga. Novel ini menjadi sejenis satir orang Barat yang melihat langit runtuh di sebuah dunia yang jauh, meskipun Rushdie mencoba bijak dengan mengatakan: “Tempat mana pun merupakan bagian tempat lainnya. Rusia, Amerika, London, Kashmir. Hidup kita, cerita kita, mengalir ke satu dan lain tempat, yang tak lagi milik kita, pribadi, terpisah … Dunia tak lagi hening.”

2 comments on “Rushdie dan Dunia yang Tak Lagi Senyap

  1. ana says:

    I do enjoy reading all the contents here..I have always wanted to read your novel titled cantik itu luka..Keep up the good work
    *old neighbour from the past*

  2. astrid says:

    “the moor’s last sight” juga cukup menarik dan “gila”. tapi memang puncak2 di kedua novel “midnight’s children” dan “satanic verses” masih menghantuiku sampai sekarang. i enjoy “haroun and the sea of stories” and i read it for my baby boy. rushdie bagiku salah satu novelis satir yang paling hilarious:)

Comments are closed.