Renang dan Jogging

Ketika memutuskan untuk menjadi penulis penuh waktu, saya menyadari barangkali saya akan menjalani hidup yang sangat tidak sehat. Paling tidak saya sudah menjalani hidup yang tidak sehat itu selama beberapa waktu: terlalu banyak duduk untuk menulis di depan komputer, terlalu banyak duduk untuk membaca buku, terlalu banyak aktifitas pikiran daripada aktifitas fisik, dan tentu saja sederet gaya hidup yang sama tidak sehatnya. Jelas: saya butuh berolahraga.

Ada dua jenis olahraga yang saya lakukan: jogging dan renang. Ketika masih di Yogya, tepatnya di akhir masa-masa saya tinggal di Yogya, saya sering jogging sore hari mengitari kampus UGM. Banyak orang melakukan kegiatan itu sehingga saya merasa senang, meskipun pada dasarnya saya berlari sendirian. Dari rumah biasanya saya cuma bercelana pendek, memakai sepatu kets, dan berbekal uang receh untuk membeli minuman. Setelah itu langsung lari.

Ketika masih tinggal di Pangandaran, saya juga kadang jogging di pagi hari ketika langit masih agak remang, sebelum pergi sekolah. Tapi ketika saya mengetahui lari di pagi hari barangkali tidak bagus untuk paru-paru karena udara masih basah, saya berpindah melakukannya di sore hari. Jika pagi hari, saya melakukannya di jalan raya sepanjang Jalan Merdeka, jalan utama di Pangandaran. Di sore hari, saya melakukannya di pinggir pantai, dengan turis yang berenang, anak-anak bermain layang-layang dan anjing-anjing yang berkeliaran.

Kebiasaan itu menghilang ketika saya masuk kuliah, dan baru saya lakukan kembali ketika sudah lulus kuliah dan berpikir untuk menjadi penulis penuh waktu.

Di Jakarta, apa boleh buat, saya tidak melakukan jogging. Bagi saya, Jakarta bukan tempat yang nyaman untuk berlari. Selain udara yang penuh polusi, lalu-lintas di jalan juga sangat berbahaya. Tentu saja saya bisa pergi ke kompleks olahraga seperti Senayan, tapi bagi saya itu sama sekali tidak praktis. Sebagaimana sering saya lakukan, saya berlari dari pintu rumah lalu kembali ke pintu rumah. Di Pangandaran, saya bisa lari dari rumah saya ke pantai. Di Yogya, rumah pondokan saya persis di samping kampus UGM sehingga saya bisa langsung berlari. Di Jakarta, bahkan meskipun tempat tinggal saya dekat dengan Senayan, akan terlalu berbahaya lari dari Benhil ke Senayan menelusuri jalan Jenderal Sudirman.

Pilihan saya satu-satunya adalah berenang. Ada kolam renang di tempat saya tinggal, saya bisa berenang kapan pun. Jadwal ideal saya tiga kali sehari tiga hari sekali, tapi jika sangat sibuk, saya akan berenang seminggu sekali.

Saya belajar berenang sendiri. Pertama kali bisa mengambang di air ketika masih tinggal bersama nenek saya di Tasikmalaya. Saat itu, kolam untuk berenang sebenarnya kolam ikan. Ada satu kolam ikan di desa saya yang sangat besar, dua kali luas kolam renang standar olimpiade. Saat ini mungkin saya tak akan mau berenang di tempat yang sama: di sampingnya ada penggilingan padi dengan dedak yang seringkali berterbangan ke kolam dan dimakan ikan-ikan. Mungkin gara-gara itu, kulit saya jauh lebih tahan terhadap kotoran, hehe (saya ingat, ketika pergi KKN di sebuah desa dengan sumber air yang kotor, teman-teman saya langsung terserang gatal-gatal, hanya saya yang tidak).

Keterampilan saya untuk mengambang meningkat setelah kami pindah ke Pangandaran dan saya menjajal berenang di laut. Di laut kita tak hanya harus berenang, tapi juga dituntut untuk menemukan cara mengakali ombak. Sungguh, dihajar ombak bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Dihajar ombak sama saja diputar-putar di dalam air. Bagi orang yang tak terbiasa, digulung ombak bisa mengakibatkan terlalu banyak minum air. Jika kamu sudah berhadap-hadapan dengan ombak yang akan pecah, hanya ada dua cara untuk menghindarinya: jika ombak tidak terlalu tinggi, lompati ombak; jika ombak terlalu tinggi, menyelam di bawahnya. Sejauh yang saya pelajari, itu cara menghadapi ombak yang hendak pecah. Beberapa waktu kemudian, saya tahu itu juga dilakukan para surfer profesional.

Meskipun akrab dengan laut, saya tak berani menghadapi dua hal ketika berenang di laut: sumur atau lubang di karang dan pusaran air. Lubang di karang sering menciptakan tarikan air. Sekecil apa pun, paling tidak itu bisa membuat kita terbentur. Banyak teman saya menderita luka, bahkan patah tulang karena ini. Pusaran air? Bahkan seandainya kamu perenang andal, sebaiknya tidak dekat-dekat dengannya. 99% orang yang mati berenang di Pangandaran, disebabkan oleh hal ini. Bisa berenang ataupun tidak. Untunglah pusaran air dan karang hanya berada di tempat-tempat tertentu.

Di Jakarta, saya berenang di tempat yang sangat aman: kolam renang. Ya, meskipun saya pernah sekali terbentur dinding kolam hingga kepala benjol karena kelewat asyik dan tak memperhatikan ujung kolam. Dalam perkara renang ini, ada hal yang saya tak bisa tinggalkan (selain pakaian renang tentu saja): mengenakan kacamata renang dengan kaca minus. Ya, sangat tidak mengasyikan kan berada di kolam tanpa bisa melihat dengan jernih? Hehe …

Well, itulah yang saya lakukan selain duduk lama untuk menulis dan membaca. Semoga cukup mengimbangi rutinintas yang statis seperti itu.

3 comments on “Renang dan Jogging

  1. imam says:

    wah, berarti saya ada opsi satu lagi. sebelumnya saya berpikir bahwa pilihannya ada dua: punya pacar atau punya meja kerja. menghadapi komputer dengan cara duduk di lantai sungguh menyiksa, mas eka. jika sudah enam jam lebih, pegelnya minta ampun. saya berpikir untuk punya meja dan kursi kerja karena mungkin tak akan jadi sepegal itu. kalau tak meja, ya barangkali pacar. bisa diajak gantian pijitan :D

    tapi, sekarang jadi cerah: olahraga.

    btw, saya pernah nulis tentang sport. http://hitam-merah.blogspot.com/2007/08/sport-sport-aku-jarang-olahraga-dan.html

    pramoedya menertawakan generasi muda loyo, pasti.

  2. rosmina zuchri says:

    bagus itu olahraga mas. jogging and renang. apa saya salah baca ya. 3 kali sehari berenangnya? sekali berenang berapa lama( berapa jam)……. jadi kapan waktu untuk nulis.

    thanks

    sdh mulai senag tuh buka blog mu mas………… mudah2an aku ketularan bakat menulis mu

    thanks

    Rossy

  3. ekakurniawan says:

    @rosmina:
    maaf, maksudnya tiga hari sekali :)

Comments are closed.