Realisme Sosialis a-la Pramoedya

oleh Nur Mursidi, guebisa.com
Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis
Gramedia Pustaka Utama, 1999, 2006

Siapa tak kenal dengan Pramoedya Ananta Toer? Seperti dikemukakan A Teeuw ia adalah sastrawan, penulis cerita dan pengarang prosa Indonesia nomer wahid dan tanpa saingan dalam abad ke-20. Selain itu, ia adalah satu-satunya sastrawan Indonesia yang pernah dicalonkan untuk mendapatkan hadiah Nobel di bidang sastra. Ungkapan A, Teeuw dan pencalonan terhadap dirinya itu, sebenarnya tidaklah berlebihan.

Karena karya-karya yang lahir dari pena sastrawan kelahiran Blora, 6 Februari 1925 itu memang mampu membuat pembaca terpukau dan berdecak kagum. Hampir setiap karyanya, setidaknya bisa kita dilihat adanya nuansa kemanusiaan yang cukup kental dan itu diusung Pramoedya dengan piawai sehingga pembaca bisa-bisa akan menangis tatkala membacanya.

Selain banyak karyanya diwarnai pengalaman hidupnya yang pahit, dengan disertai pembelaan terhadap rakyat kecil, Pramoedya pengagum dari Multatuli tampaknya tahu bagaimana sastra harus ditulis.

Ketika penguasa telah korup dan bertindak tak adil, ia lebih memilih jalan sastra dengan style avant garde (oposisi), daripada menjadikan sastra sebagai pelipur lara belaka. Akibatnya, di era Orba, karya-karyanya banyak yang dilarang karena dianggap mengajarkan Marxisme-leninisme.

Pertanyaannya kemudian, benarkah karya-karya Pramoedya memiliki tendensi atau setidaknya mendukung sosialisme sebagaimana garis sastra yang dianut oleh kaum Marxis yang dikenal dengan aliran realisme sosialis ?

Jika kita membaca buku karya A. Teeuw yang berjudul Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer, adanya tendensi dari karya-karya Pramoedya memang ada.

Namun, untuk dikatakan beraliran realisme sosialis, menurut A. Teeuw dengan bukti bahwa ia tak memahami ajaran Marx menjadikan ia tampak ragu. Tetapi lewat buku Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis ini, Eka Kurniawan justru ingin membuktikan adanya tendensi dalam karya-karya Pramoedya dan coba mengungkap ideologi estetis yang dianut Pramoedya ditinjau dari filsafat seni.

Sebagaimana diungkapkan Eka Kurniawan, jika kita menelisik sejarah kehidupan Pramoedya sendiri yang pernah terlibat dalam LEKRA yang nota benenya berada dibawah naungan PKI dan dalam tradisi sastra, LEKTRA menganut garis keras dengan keberpihakan terhadap kaum lemah dan mengecam kapitalisme, jelas itu satu bukti.

Apalagi setelah kepulangan Pramoedya dari Tiongkok (Oktober 1956) dalam rangka menghadiri peringatan ke 20 tahun wafatnya pengarang revolusi Cina, Lu Hsun yang telah menyadarkannya akan pentingnya politik.

Sehingga tidak salah, jika sejak itu ia mulai terlibat dengan politik dan dituduh telah memihak pada komunis dan bahkan telah jadi komunis. Pertanyaannya kemudian, benarkah karya-karya Pramoedya memiliki tendensi atau setidaknya mendukung sosialisme sebagaimana garis sastra yang dianut oleh kaum Marxis yang dikenal dengan aliran realisme sosialis?

Dengan memberikan kesadaran sejarah pada pembaca, ia sadar bahwa tugasnya sebagai seniman harus memihak pada para korban dan the havenots yang menderita akibat penindasan oleh kelas atas dalam sistem neo kolonialis dan kapitalis.

Apalagi setelah ia melihat humanisme universal (ala H.B. Jassin) atau cita-cita priyayi Jawa, sungguh tak bisa lagi diandalkan atau bermanfaat bagi masa rakyat. Dengan semua itu, ia telah berjuang. Ia ikuti sosok Lu Hsun yang dikaguminya realis dalam bertindak dan mengikuti Maxim Gorki yang menjadi gurunya, belajar dari sejarah.

Dan semua itu untuk satu keyakinan yang ia anut, demi kebenaran, keadilan dan keindahan. Buku yang semula adalah skripsi penulis dengan judul Realisme Sosialis Pramoedya Ananta Toer (Suatu Tinjauan Filsafat Seni) di Universitas Gajah Mada ini, memang telah membuktikan bahwa apa yang ditulis Pramoedya sejalan dengan realisme sosialis LEKRA dengan ciri khasnya.

Namun, siapa yang bisa menduga jika kemudian dalam sistem kapitalisme, karya-karyanya menjadi lirikan empuk pemilik modal ? Dengan sejumlah karyanya yang diminati pembaca, menurut Eka, ia tak lebih sebagai merk dagang.