Quo Vadis Kritik Sastra?

Krisis sastra, ya? Untuk kesekian kali kita selalu mendiskusikan sesuatu yang nggak nyambung. yang satu menganggak sastra kita mengalami krisis karena toh dari dulu sampai sekarang tak muncul pembaharuan macam apa pun, kalau pun ada hanya segelintir orang. sementara yang lain menganggap tak ada krisis karena puisi dan cerpen dan novel terus diproduksi. apakah diskusi semacam itu akan nyambung? Kedua pihak berdiri berdasarkan patokan yang berbeda, seumur hidup kupikir nggak bakal ketemu.

Jadi, bagaimana jika kita akhiri diskusi semacam itu, dan mengajukan pertanyaan yang lebih maju: apakah sastra kita sudah bermutu atau tidak? Untuk menyamakan persepsi, baiklah kita ambil patokan sastra dunia (idealnya memang begitu, kan?) sebagai ukuran. sejauh mana sastra kita diterima publik sastra dunia? Dalam hal ini kita seharusnya tak ngomongin soal karya-karya yang sekedar diterjemahkan (beberapa karya diterjemahkan sekedar merupakan proyek mercu suar saja, kan?), tapi juga melihat bagaimana tanggapan pasar terhadap karya tersebut. Mana karya kita yang direview oleh media sastra internasional, dicetak ulang, sold out, sebagaimana karya-karya penulis Amerika Latin, penulis India, bahkan penulis Afrika?

Kita hanya menemukan satu nama untuk kategori yang sangat ketat seperti itu: Pramoedya Ananta Toer. Dengan begitu aku bisa mengambil kesimpulan bahwa sastra Indonesia memang tidak bermutu. suka atau tidak, hormat atau tidak, kita harus berani mengambil kesimpulan seperti itu. jadi, pasti ada sesuatu yang salah. Kupikir kesalahan itu banyak, segudang (kita bisa mendiskusikannya di mailing list ini).

Satu kesalahan yang ingin aku diskusikan pertama kali, adalah mengenai kritik sastra dan kebiasaan buruk membuat “angkatan-angkatan”. Sederhana saja. Dalam sejarah sastra Indonesia, “angkatan-angkatan” selalu dibuat oleh seseorang di luar gerakan sastra Indonesia sendiri, dalam hal ini adalah HB jassin dan Korrie. Lihat saja, HB jassin memproklamasikan Pujangga Baru, Angkatan 45 dan Angkatan 65. Korrie membuat Angkatan 2000. Keduanya bersikap sesuka hati. Aku bahkan bisa curiga keduanya sama sekali tak mengerti apa yang dipikirkan oleh anggota-anggota Angkatan tersebut. Meskipun HB Jassin hidup di tahun 45, aku hanya bisa percaya Angkatan 45 itu ada jika Chairil Anwar yang memproklamasikannya, memperdebatkannya, dan menunjukkan bukti-buktinya. Sebesar apa pun jasa HB Jassin untuk sastra Indonesia, (aku harus berani mengatakannya) ia bukanlah apa-apa bahkan dalam sastra Indonesia sendiri. Dan Korrie? Tahu apa ia tentang apa yang dipikirkan oleh Seno Gumira Adjidarma? Oleh Ayu Utami? Oleh siapa pun yang disebutnya sebagai Angkatan 2000?

Aku bukannya anti “angkatan-angkatan”. Tapi jika merasa perlu untuk mentasbihkan suatu gerakan sastra, seharusnya itu lahir dari penulisnya sendiri. memang HB jassin dan Korrie penulis sastra juga, tapi sejauh mana kapabilitas mereka dalam satu gerakan sastra? Aku bisa mengambil contoh tentang Jack Kerouac dengan “Beat Generation”- nya. Gerekan itu dia dan teman-temannya lah yang memproklamasikannya sendiri, berbarengan dengan gerakan serupa di bidang lain, dan ia memperlihatkan contoh karya “Beat Generation” melalui karya-karya sendiri juga (bukan dengan menunjuk karya orang lain yang belum tentu bisa kita tebak apa yang dipikirkannya seperti dilakukan HB Jassin dan Korrie).

Yeah, it’s just my opinion. Kita bisa mulai mendiskusikan ini, termasuk jika kita memang butuh satu gerakan sastra untuk membalas ketidakmutuan sastra kita dalam satu gerakan meningkatkan kualitas sastra Indonesia. Yang jelas, satu keyakinanku, jika ingin sastra kita bagus, para penulis harus menghasilkan karya yang bagus. Seorang penulis yang bagus akan mengabaikan kritik yang jelek. Dan seorang penulis kritik jelek yang diabaikan akan berpikir sehingga mulai belajar menulis kritik yang baik.

Catatan ini awalnya muncul di milis bumimanusia.

One comment on “Quo Vadis Kritik Sastra?

  1. jumariani says:

    mana dong kelengkapan mengenai apa itu kritik sastra!

Comments are closed.