Proses Menulis Skripsi

Buat yang sedang kuliah dan hendak skripsi, saya hendak berbagi bagaimana saya (dulu) menulis skripsi. Awalnya tulisan ini saya tulis terpenggal-penggal di twitter, sebelum saya tulis ulang untuk blog. Mudah-mudahan bisa sedikit mencerahkan.

Baiklah, studi kasusnya, tentu saja skripsi saya sendiri karena itulah yang saya ketahui. Skripsi saya sudah diterbitkan menjadi buku Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (diterbitkan pertama kali oleh Yayasan Aksara Indonesia, 1999; kemudian oleh Penerbit Jendela, 2002; terakhir oleh Gramedia Pustaka Utama, 2006).

Baiklah, kita mulai. Karena skripsi saya hendak membahas Pramoedya Ananta Toer, tentu saja pertama-tama saya harus membaca karya-karyanya. Waktu itu saya belum tahu karya mana yang akan saya pergunakan, yang penting saya baca semua.

Meskipun kita akan membahas satu novel (misalnya),saya sarankan untuk memperoleh gambaran utuh, kita harus membaca semua karangan penulis yang bersangkutan. Karya-karya Pramoedya tak hanya meliputi novel dan cerita pendek, tapi juga esai-esai dan wawancara-wawancara. Beberapa sudah terbit dalam bentuk buku, beberapa lain masih tercecer di koran-koran atau majalah/jurnal lama. Dari sana saya punya gambaran dunia kepenulisan Pramoedya.

Oya tentu saja saya juga perlu membaca dan mencari tahu riwayat hidupnya. Selengkap mungkin. Kalau perlu wawancara dengan obyek penelitian. Saya melakukan wawancara sekali dengan Pramoedya. Saya tanyakan hal-hal yang ingin saya ketahui, mengkonfirmasi yang saya masih ragu, meskipun toh pada akhirnya saya lebih memilih mempergunakan bahan tertulis daripada hasil wawancara tersebut.

Apakah membaca karya dan biografinya, sudah cukup untuk saya memetakan kepenulisan Pramoedya? Belum. Saya juga membaca tulisan-tulisan orang tentang Pramoedya. Buku maupun jurnal. Ini juga berguna sekiranya apa yang kelak akan saya tulis, ternyata sudah ditulis oleh orang lain. Saya pikir sangat penting kita menulis sesuatu yang belum ditulis orang lain. Paling tidak, meksipun obyek penelitian sama, sudut pandang kita bisa berbeda. Darimana saya tahu orang lain belum menuliskannya, jika saya tidak mencoba melacak apa saja yang sudah ditulis orang lain?

Masih ada dua hal lagi untuk saya melengkapi pemetaan kepenulisan Pramoedya: saya harus baca juga karya-karya penulis lain sezamannya. Saya percaya konteks eksternal juga barangkali membantu untuk memahami sesuatu. Meskipun tidak banyak saya pergunakan di hasil akhirnya, paling tidak bacaan saya atas Idrus, Chairil Anwar, Mochtar Loebis, memberi saya perspektif ketika menulis tentang Pramoedya.

Hal terakhir yang saya lakukan untuk pemetaan kepenulisan Pramoedya: Membaca juga karya-karya penulis yang mempengaruhinya: Gorky, Sorayan, Steinbeck dll. Sesuatu tidak datang dengan semena-mena. Selalu ada akar. Selalu ada sebab-musabab.

Baiklah, apa yang saya tulis di atas baru separuh jalan. Itu hanya untuk memetakan kepenulisan Pramoedya. Setengah jalan lain: karena saya mau mengulas soal filsafat “realisme sosialis” Pramoedya, tentu saya juga harus mencari tahu soal realisme sosialis. Bagaimana trik saya melacak hal-hal semacam ini?

Tentu saja, ketika saya mulai berminat pada tema ini, saya sudah punya dasar pengetahuan minimal tentang realisme sosialis. Saya pikir, pengetahuan minimal ini sangat perlu kita miliki sebelumnya. Tentu saja itu datang dari proses saya membaca, kuliah, jauh sebelum saya hendak menulis skripsi. Tentu saja pengetahuan minimal ini perlu dikembangkan. Dari mana awal mengembangkannya? Buku apa yang perlu dicari?

Saya punya trik: ambil ensiklopedia. Eksiklopedia selalu membantu menjadi titik berangkat. Di ensiklopedia (yang bagus) selalu ada rujukan buku apa yang perlu dibaca untuk memperoleh pembahasan lebih lengkap. Kita kejar buku-buku rujukan tersebut. Di buku-buku rujukan itu, jika selesai baca, tengok daftar pustakanya, lihat kembali buku-buku yang dipakai. Itu akan menjadi jejaring panjang, dan kita akan semakin tahu referensi-referensi apa yang perlu dibaca.

Di samping itu, tentu saja saya juga harus mencari tahu apa kata Pramoedya soal “realisme sosialis”. Tentu saja kalau saya tidak tahu Pramoedya pernah menulis soal ini, saya tak akan mengambil tema ini. Sekali lagi, kita memang harus punya bekal pengetahuan mengenai obyek yang akan diteliti. Selebihnya kita bisa mulai meriset.

Yang paling sulit dari penelitian saya: mencari akar filsafat realisme sosialis. Saya harus mundur ke belakang, mempelajari filsafat Kant, Hegel, Marx, Lucaks. Tentu saja karena saya mahasiswa Filsafat, saya tak terlalu asing dengan mereka. Tapi demi keperluan skripsi, dan dari penelusuran saya filsafat mereka merupakan akar dari realisme sosialis, saya harus kembali membaca karya mereka. Lebih teliti.

Dari penelusuran pula saya tahu realisme sosialis pernah menjadi “estetika resmi” di Uni Sovyet dan China. Saya mencari tahu bagaimana realisme sosialis diterapkan dalam kesusastraan Sovyet, lalu China. Referensinya lebih susah, karena saya tak tahu bahasa Rusia, apalagi China. Beruntung beberapa literatur dalam bahasa Inggris banyak mengulas soal itu. Kemudian, selepas itu saya cari tahu pula bagaimana realisme sosialis masuk ke kesusastraan Indonesia.

Karena realisme sosialis identik dengan Marxisme, saya juga merasa perlu mencari tahu perkembangan Marxisme/komunisme di Indonesia. Saya membaca sejarah ideologi ini, baik di lapangan politik, maupun kesenian/kesusastraan. Dari sini saya menemukan nama-nama seperti Semaun, Marco Kartodikromo, dll, para penulis pendahulu Pramoedya.

Setelah semua itu di tangan, baru saya cari realisme sosialis di karya-karya Pramoedya. Dengan kata lain, dua jalur penelitian saya (tentang Pramoedya dan tentang realisme sosialis), bertemu di bagian akhir. Bagian ini bukan lagi bagian penelusuran, tapi bagian membaca semua bahan-bahan itu, berkutat dengan catatan, stabilo, hipotesis-hipotesis, dan spekulasi-spekulasi.

Selesai. Dengan kesabaran dan kegairahan untuk berkarya, kita bisa menghasilkan skripsi yang paling tidak bisa mengantarkan kita lulus. Syukur-syukur bisa menghasilkan skripsi yang layak dibaca umum, sehingga diterbitkan kembali menjadi buku.

Jelas, kan? Intinya, menurut saya peta obyek penelitian dan peta permasalahan merupakan hal yang pokok harus diketahui. Tak cuma untuk skripsi, tapi untuk penelitian/tulisan apapun. Semoga membantu buat kamu yang sedang puyeng menghadapi layar kosong di semester akhir.

2 comments on “Proses Menulis Skripsi

  1. Naufal Agam says:

    Wah keren nih tipsnya, oke saya akan aplikasikan 4 tahun mendatang.hehe (maklum baru masuk kuliah)

  2. o, ini to rentetan proses buku yang jadi referensi anak-anak muda menelisik karya-karya Pram :D oya selamat buat interview di majalah Story Juli 2010, kutipan menariknya, kurang lebih nih “… di situ (mall itu) tidak banyak orang yang mengenal saya.” qe3 Salam dari Palmerah

Comments are closed.