Perpustakaan

Daridatuk

Bayangan perpustakaan yang asyik di benak saya, barangkali mirip seperti yang ada di novel Kafka on the Shore, Haruki Murakami. Si bocah bernama Kafka itu, sekali waktu kabur dari rumah dan pergi ke kota kecil, dan terdampar di sebuah perpustakaan. Perpustakaan itu sebenarnya milik pribadi, milik seorang penulis (kalau tak salah ingat), tapi kemudian dibuka untuk umum. Ruangannya kecil saja, dengan seorang pengurus, dan orang asing boleh masuk untuk membaca-baca di ruangan baca.

Di Indonesia, sebenarnya banyak juga perpustakaan semacam itu. Yang paling terkenal barangkali perpustakaan Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin. Tak hanya berupa perpustakaan, tempat itu bahkan menyerupai museum, dengan naskah-naskah langka milik para penulis. Kita tahu awalnya itu merupakan perpustakaan pribadi kritikus dan penulis HB Jassin. Setelah beliau meninggal, perpustakaan tersebut berada di bawah tanggung jawab Pemda Jakarta dan menempati satu ruangan di pojok Taman Ismail Marzuki.

Perpustakaan kecil milik pribadi yang kemudian dibuka untuk umum, senantiasa memberi kejutan kecil atas koleksinya. Berbeda dengan perpustakaan besar, yang bagai swalayan, di perpustakaan kecil semacam ini kita menghadapi sebuah “seleksi” karya yang dilakukan pemiliknya. Kita seperti masuk ke pameran buku, tapi buku yang dipajang telah dikurasi oleh pemiliknya.

Perpustakaan semacam ini bukannya tanpa dilema. Setelah pemiliknya meninggal, barangkali tak ada penerusnya yang peduli untuk memelihara koleksi warisan. Jika pemiliknya merupakan tokoh, barangkali koleksinya dipertahankan, ruangannya disediakan, tapi tak ada yang peduli untuk merawatnya. Dalam satu hal, PDS HB Jassin barangkali beruntung: Pemda Jakarta mau mengambil alih pendanaannya. Tapi itu pun, seperti kita tahu di kabar belakangan hari, anggaran untuk mereka terus berkurang dari tahun ke tahun, hingga perpustakaan terancam ditutup karena kekurangan dana operasional.

Tengoklah warisan wakil presiden pertama kita, Perpustakaan Bung Hatta di Yogyakarta. Tak hanya terbengkalai, bahkan mahasiswa di Yogyakarta sebagian besar mungkin tak tahu perpustakaan itu pernah ada. Saya tak tahu persis kabarnya sekarang. Dulu ada rencana UGM akan mengakuisisi buku-buku itu, dan membuat Hatta Collection di salah satu ruangan perpustakaannya. Tentu itu salah satu solusi yang baik, meskipun saya tetap menganggap, perpustakaan kecil dengan koleksi terbatas tetap lebih memberi keintiman yang berbeda.

Ketika kasus terpangkasnya dana operasional PDS HB Jassin menyeruak, kita disadarkan oleh satu hal: publik masih peduli keberadaan perpustakaan. Orang ramai memberikan sumbangan untuk menyelamatkan perpustakaan itu. Satu konser yang melibatkan musisi dan seniman lainnya diadakan untuk penggalangan dana. Para penulis menerbitkan bungarampai yang seluruh royalti mereka disumbangkan ke perpustakaan tersebut. Gubernur Jakarta pun datang ke PDS dan meminta maaf atas keteledoran tersebut.

Tiba-tiba saya ingat tentang sumbangan Palang Merah Indonesia yang sering kita berikan di loket bioskop. Ingat dengan kotak infaq untuk pembangunan masjid di warung Padang. Bahkan LSM dan lembaga besar seperti Greenpeace dan Unicef tak malu-malu meminta sumbangan kepada para pejalan kaki di jembatan penyeberangan. Kenapa kita tidak memberikan sumbangan untuk kelestarian perpustakaan-perpustakaan yang ada di negeri ini?

Sehingga kita bisa berharap, semakin banyak perpustakaan, besar-kecil, di sudut-sudut negeri ini.

Sebagai informasi, beberapa penulis muda bahkan telah merintis pembukaan perpustakaan-perpustakaan semacam ini. Gola Gong dan Tias Tatanka mendirikan Rumah Dunia. Tak hanya perpustakaan, mereka bahkan membuka kelas menulis. Asma Nadia mendirikan Rumah Baca Asma Nadia. Saya kagum dengan mereka, dan berharap sekali waktu bisa mengikuti jejak tersebut.

Bagi saya, perpustakaan kecil yang asyik itu seperti toko buku loak di sudut kota. Saya berjalan-jalan di kota asing. Bosan dengan toko-toko suvenir dan jajanan, saya menemukan perpustakaan kecil atau toko buku loak. Saya masuk dan serasa menemukan sebuah tempat penuh timbunan harta karun. Bayangkan duduk sekitar dua jam di perpustakaan kecil yang asing di kota asing, dan membaca terjemahan novel Yasunari Kawabata, atau sekadar membaca dongeng rakyat setempat. Permasalahannya, bagaimana mempertahankan tempat-tempat seperti itu tetap ada di kota-kota yang tak terduga?

Catatan tentang foto: Buku di atas berjudul Dari Datuk ke Sakura Emas. Ini merupakan buku kumpulan cerpen dari 14 penulis. Saya terlibat sebagai pengumpul (kerennya sih: kurator) naskah-naskah tersebut. Seluruh royalti buku itu disumbangkan oleh para penulis kepada PDS HB Jassin. Jadi, jika kamu ingin ikut menyumbang keberlangsungan satu perpustakaan, kamu bisa dengan cara membeli buku tersebut.

2 comments on “Perpustakaan

  1. noe says:

    saya memiliki perasaan yg sama ketika jalan ke luar kota dan menyambangi toko loak atau rumah buku yg asing dan mendapati buku2 yg tak pernah saya kira bisa melihat/menyentuhnya. ada perasaan hangat yang tiba2 menyeruak di dada..

  2. Benar. serasa Surga. dan kalau di sekitaran Ciputat, sebuah tempat yang seperti adalah di samping UIN Jakarta.tepatnya di pesanggrahan, di toku buku yagn bernama “Bengkel Buku Gerak-Gerik.” di situ, terdapat banyak buku sastra, filsafat yang lawas maupun yagn terbaru. dan tatkala masuk ke dalam, serasa seperti memasuki sebuah dunia yang baru. karena banyaknya hal, yang kiranya menarik untuk kita lahap

Comments are closed.