Perlu Mengakrabi Sastra Mancanegara

Sebagai penulis muda yang karyanya telah dikenal luas sampai ke Jepang, bagaimana pendapat Anda tentang kemungkinan sastrawan Indonesia meraih Nobel?

Kalau saya sih optimistis saja. Untuk mendapatkan Nobel itu kan juga disebabkan banyak faktor. Bagi saya pribadi Nobel tidak selalu identik dengan kualitas. Kalau saya bilang optimistis itu lebih berarti kepada pemikiran kalau sastra Indonesia itu adalah bagian dari sastra dunia. Maksud saya nanti suatu saat, penulis kita bisa sejajar dengan penulis-penulis dari negara lain, bisa menjadi penulis yang enggak cuma jago kandang. Artinya kita punya potensi tapi harus diakui juga kalau pergaulan kita dengan sastra mancanegara juga belum terlalu intim. Kalau istilah petinju, kita itu kurang sparing partner. Kalau kita tidak terlalu banyak bergaul dengan sastra berkualitas dari mancanegara kita juga sulit menentukan standar estetikanya.

Apakah Anda sendiri bergaul dengan karya mancanegara?

Saya mencoba bergaul dengan karya sastra mancanegara, minimal sebagian besar yang saya baca karya-karya sastra dari luar. Perbandingannya dengan bacaan sastra Indonesia mungkin satu banding dua, satu karya Indonesia dan dua karya luar negeri. Karena tidak terlalu banyak karya di Indonesia yang asyik untuk dibaca, dibandingkan dengan begitu banyaknya karya luar. Dari situ saya juga mencoba untuk mengukur sudah sejauh mana kita sudah jadi penulis. Dari situ kita tahu diri, kalau kita memang belum menghasilkan karya bagus, ya berarti memang belum bagus karena kita tahu ada yang lebih bagus. Kalau kita berada dalam lingkup yang sempit, jangan-jangan kalau dilihat dari luar, sastra di Indonesia malah tidak ada apa-apanya. Tahun 1960an misalnya, Iwan Simatupang menulis novel eksistensialis, orang-orang begitu terpana, kagum, padahal kalau dilihat sama orang Prancis ya hal biasa saja. Itu terjadi karena di Indonesia nggak ada aja yang kayak gitu, jadi orang-orang melihatnya wah hebat …

Jadi mengimpor ide dari luar bagi sastra di Indonesia itu nggak apa-apa?

Saya pikir impor atau ekspor ide itu tidak masalah. Karena dalam pergaulan kebudayaan itu akan selalu terjadi. Point saya, seharusnya kita jangan kaget lagi dengan ide-ide dari mancanegara. Malah mestinya lebih bagus kalau kita mengimpor sesuatu dari luar negeri dan kita bisa membuatnya lebih bagus dari barang aslinya. Kita jangan melihatnya dari sudut pandang Indonesia saja. Ambil contoh misalnya tren di Amerika Latin ketika yang disebut realisme magis, itu kan juga bukan murni dari Amerika Latin. Mereka terinspirasi novel Spanyol dan Arab. Tapi mereka bisa mengolahnya menjadi sesuatu yang baru. Mereka tidak sekadar mengimpor tapi menawarkan hal yang baru lagi.

Wah pandangan Anda sangan kosmopolit sekali ya. Menurut hemat Anda apakah hal itu penting bagi sastra Indonesia?

Pertama-tama untuk bisa berpikir secara kosmopolit saya menghindari untuk bilang “sastra Indonesia”, tapi cukup sastra saja. Saya sendiri tak peduli apakah karya itu sastra Indonesia atau bukan. Soalnya, kalau sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, kita tak bisa ngomong kalo itu sastra Indonesia lagi. Sebetulnya sejarah kesusastraan itu beda dengan sejarah ilmu pengetahuan lainnya. Misalnya ditemukan sesuatu yang baru, yang lama jadi tak terpakai lagi. Dalam kesusastraan tidak begitu, ada penemuan baru, yang lama masih bisa tetap dinikmati. Jadi dalam sastra itu apa yang disebut estetika atau sastra yang baru itu kita harus memahami kesusastraan itu saja dulu. Misalnya kita jadi penyair hari ini untuk menggantikan Joko Pinurbo atau Chairil Anwar. Kita bisa lebih bagus dari mereka atau mungkin lebih jelek dari mereka. Dalam sastra sebenarnya kita ini mencoba menemukan kembali sudut pandang yang baru, yang niatnya bukan menggugurkan yang lain. Dalam kesenian, kita tidak bisa mengatakan musik sekarang lebih bagus dari karya Beethoven.

Soal bagus dan jelek. Kedengarannya Anda sedang berbicara soal standarisasi karya?

Standarisasi itu tidak ada. Saya pikir persoalan standarisasi estetika itu soal tarik-ulur. Artinya standar itu ada berdasarkan sudut pandang perorangan atau kelompok. Artinya standar itu ada tapi lebih kepada faktor subyektif. Sudut pandang yang beda. Kalau kemudian ada standar yang lebih dominan, itu hubungannya kepada siapa yang memiliki otoritas. Dan kadang-kadang itu pula bisa berpengaruh. Artinya, katakanlah seorang Pramoedya Ananta Toer dalam konteks kesusastraan Indonesia, meskipun dia seorang diri, saya pikir dia memiliki otoritas yang cukup besar. Semisal dia mengatakan, kalau dia suka seorang penulis, bisa jadi itu cukup berpengaruh pada yang lain. Anak sekolah tentu saja dipengaruhi oleh sebuah institusi yang bernama Departemen Pendidikan Nasional karena institusi inilah yang punya otoritas yang menentukan apa yang harus dibaca oleh siswa. Atau seorang wartawan ketika menulis bahwa sebuah novel bagus, maka kemungkinan juga hal itu bisa memengaruhi orang lain.

Kalau Anda tidak percaya pada standarisasi, bagaimana Anda bisa menilai sebuah karya? Sekarang kan banyak orang yang membuat standarisasinya masing-masing. Ada yang tak setuju soal seksualitas dalam karya sastra, ada yang setuju?

Saya lebih suka menghargai orang yang sadar. Artinya kalau seseorang tidak suka pada sebuah karya tertentu dia jangan baca. Saya sadar bahwa selera seseorang atau sebuah komunitas itu tidak bisa dipaksakan untuk diterima oleh orang lain. Itu tidak boleh. Kalaupun itu terjadi, itu harus dilawan. Itu tidak boleh terjadi.

Anda menyinggung soal komunitas, apakah Anda sepakat dengan munculnya komunitas-komunitas kesenian dan sastra di Indonesia?

Secara pribadi saya menganggap komunitas itu perlu karena banyak hal positif yang bisa kita harapkan dari komunitas. Dulu waktu awal-awal jadi penulis saya tidak bergabung ke komunitas mana pun, sekarang juga saya tidak menjadi bagian dari komunitas mana pun. Artinya komunitas bisa diperlukan dalam arti ada tujuan tertentu yang bisa kita harapkan dari sebuah komunitas, misal sebagai tempat pembelajaran. Artinya itu tergantung kebutuhan penulis. Sebetulnya komunitas sastra itu tidak di Indonesia saja. Misalnya di Jerman selepas Perang Dunia Kedua, kesusastraan di sana ambruk seambruk-ambruknya karena banyak pemuda yang ikut berperang, bisa dikatakan tidak ada penulis, tidak ada penerbitan, pokoknya tidak ada yang mau menghidupkan dunia kesusastraan. Sehingga prajurit-prajurit yang pulang perang itu menjadi penulis dan menyebut diri mereka sebagai penulis muda, padahal umur mereka tak muda lagi, ada yang 40 tahun bahkan. Itu terjadi karena tak ada lagi yang muda. Mereka bikin komunitas yang dinamakan Grup 47 karena didirikan tahun 1947. Komunitas itu didirikan untuk mengisi kekosongan karena tidak ada penerbitan, diskusi. Dan dari komunitas itu dilahirkan penulis-penulis yang salah satunya menerima Nobel, Gunter Grass. Dia adalah anggota junior dari Grup 47 itu. Kemudian Grup 47 ini melahirkan banyak penulis yang cukup berpengaruh. Saking berpengaruhnya para penulis baru menganggap Grup 47 ini seolah-olah penentu segalanya, jadi hegemoni. Di sisi lain seorang penulis tak bisa bekerja sendiri karena dia membutuhkan penerbitan, membutuhkan jurnal kesusastraan, mau tidak mau kita harus membentuk sebuah komunitas. Dan ketika komunitas itu menjadi besar, muncul kesan ada hegemoni dari komunitas itu. Dan akibatnya kita bisa lihat muncul berbagai persoalan dari sana, ada pertentangan dan sebagainya. Jadi itu bukan terjadi di Indonesia saja.

Bagaimana menurut Anda idealnya sebuah komunitas?

Saya pikir mau tidak mau sebuah komunitas mestinya punya agenda tersendiri. Kalau tidak punya agenda saya pikir aneh kalau ada sekelompok orang mendirikan komunitas. Agenda-agenda dan kepentingan itu tidak mustahil akan berbenturan dengan komunitas lain dan itu sangat natural terjadi. Apakah komunitas seperti itu kontraproduktif dengan kesusastraan? Saya sendiri sering merasakan kebanyakan dari kita terlalu banyak berantemnya. Sehingga kalau saya melihat dari sudut pandang itu saya katakan itu kontraproduktif. Sebenarnya begini, bagi saya simpel aja. Kalau kita tidak suka dengan novel-ovel yang kita tidak suka ya nggak usah dibaca. Kalau kita punya standar estetika sendiri, ya kita tawarkan. Misalnya saya sendiri banyak tidak suka dengan beberapa genre dalam sastra, misalnya novel-novel populer tidak terlalu menarik bagi saya. Tapi daripada saya berdebat dan kemudian kita ngomong novel seperti itu harus dilarang karena tidak mendidik dan sebagainya, itu malah kontraproduktif. Bagi saya lebih kita cari novel yang kita suka dan kita menulis novel yang kita maui, itu malah produktif. Saya pikir adalah kontraproduktif kalau melarang orang melakukan sesuatu. Menurut saya itu cara yang sangat tidak beradab.

Anda menulis sebuah karya non-fiksi tentang Pramoedya Ananta Toer. Dan agaknya Anda terinspirasi banyak darinya. Bisa diceritakan kenapa harus Pram?

Saya suka Pram karena pertama dulu saya tak mengenal Pram sebagai orang yang banyak dibicarakan. Saya sendiri tak pernah baca karya Pram sebelumnya. Dari dulu sampai sekarang penulis yang paling saya suka adalah Kho Ping Hoo. Kemudian waktu kuliah saya baca Bumi Manusia. Buat saya pribadi di Indonesia ini cuma ada dua penulis favorit, Kho Ping Hoo dan Pram, karena mereka punya cara menceritakan sesuatu dengan asyik. Mungkin karena saya juga suka sejarah. Pram dan Kho Ping Hoo sama-sama ceritanya berlatarbelakang sejarah. Mereka juga punya teknik naratif yang sebetulnya sederhana, tapi justru karena kesederhanaannya itu saya jadi suka. Kita bisa terperangkap dalam ceritanya karena kesederhanaan teknik berceritanya. Bahkan bisa dibilang novel-novel Pram itu linier, strukturnya searah. Kalau ada percabangan itu pun sedikit. Kalau kita tercengang oleh alat yang canggih kan itu biasa, tapi kalau kita tercengang oleh alat yang sederhana, itu kan berarti ada sesuatu yang luar biasa.

Indonesia termasuk negara yang paling memprihatinkan jika dilihat dari pelajaran sastra di sekolah. Anda punya pendapat soal ini?

Sebenarnya pelajaran sastra itu yang paling sederhana. Saya yakin semua penulis itu belajar sastra dari membaca dan mereka belajar menulis itu dari meniru apa yang mereka baca. Untuk mengajarkan sastra di sekolah itu sebetulnya cukup beri saja buku ke sekolah-sekolah itu. Biarkan para siswa itu belajar sastra. Masalahnya sekarang kalau di sekolah ada banyak buku tapi para siswa tak mau baca, itu berarti ada hal lain yang lebih menarik bagi mereka. Dan kita tidak bisa mengatakan kalau hal lain itu tidak lebih baik daripada membaca buku.

Wawancara ini sesungguhnya dilakukan persis setahun lalu, November 2007. Wawancara dilakukan di restoran Bakmi Gadjah Mada, di Jalan Sunda, dengan Bonnie Triyana. Transkip perbincangan kami kemudian dimuat di Jurnal Nasional, 9 Desember 2007. Saya baru menemukan kliping korannya belum lama ini, karena ternyata terselip di dasar mailbox.

11 comments on “Perlu Mengakrabi Sastra Mancanegara

  1. Sebi annento says:

    Komentarmu ..
    Yup,gue setuju banget,masalah kita ini adalah produktifitas yg payah. Kapan nih,malam seribu bulannya terbit?

  2. asepso says:

    Saya menominasikan Eka Kurniawan sebagai peraih nobel dari Indonesia masa depan!

  3. Adib says:

    bung, seberapa besar sih kontribusi sastra dalam membangun jiwa pembacanya?

    Adib:
    Saya pikir tak ada ukurannya. Sama seperti olah raga, bisa menyehatkan bisa pula hanya bikin pegel-pegel. Bisa besar bisa tidak ada sama sekali :)
    (ekakurniawan)

  4. Makki says:

    Menurut mas Eka pada titik mana urgensi sastra bagi sebuah kebudayaan?

    Makki:
    titik urgensi paling minimal menurutku, kita bisa mendengar suara individu. Dalam banyak hal segala sesuatu nyaris merupakan suara kerumunan: media massa, sejarah, wakil rakyat. tentu saja memang tidak semua individu akhirnya bersuara, tapi kita bisa menemukan suara individu, benar-benar mewakili dirinya, melalui sastra.
    (eka)

  5. Makki says:

    Hmmm… Menurut saya (paling tidak dilihat dari tulisannya) jawaban Goenawan Mohamad pun kurang lebih begini.
    Menyenangkan bisa berdiskusi dengan salah satu sosok yang saya kagumi (saya sangat suka dengan “Jumat Ini Tak Ada Khotbah”. Terima kasih.

  6. …Dan kita tidak bisa mengatakan kalau hal lain itu tidak lebih baik daripada membaca buku.”
    Pernyataan yang mengesankan. Kurasa sastra memang bukan segalanya. Kita tidak memaksa orang melakukan yang menurut kita berharga, bahkan pada anak kita.

  7. benar,,, saya ntah ingat nemu kalimat ini drmn. kurang lebih bunyinya : jika kau ingin membaca buku yang belum ada, maka kau lah penulisnya.

    mungkin, ini semacam perlunya menebar virus untuk membuka pikiran bukan? wawancara yang menarik. keren. salut. semoga ide dan pemikiran dari wawancara ini bisa menular layaknya virus. horeee!

  8. ekakurniawan says:

    Putri:
    kalimat itu, kalo enggak salah, dari Toni Morrison. salam kenal.

  9. lalla says:

    Mas Eka kpn nie kluar krya terbaru na….

    oh ya mas eka ini tergabung dlm forum lingkar pena tidak…….

    sya slh stu mhsiswiNA ibu Helvi…..

    sya mnjadikan mas Eka sbg ‘soulmate’ sya……..di mat.kul beliau…..

    krn itu sya hruz bs…..mncr info n data2x mas Eka…..baik karya n klo bs personaliti”na jg…..

    htung…2x sbg permula’an sya mngenal sstra……..

    krn sya t”msk org yg ckup buta sstra….

    bsKAH mas Eka mmbantu sya…….

    tlong reply ke email sya….!!!

    Trima KsH…!!!!!!!!!

  10. ekakurniawan says:

    @lalla
    – novel barunya belum terbit :(
    – sayang, aku enggak gabung dh FLP
    – apakah kamu yang kontak aku di FB? kita bisa kontak di sana.

  11. Malik says:

    Salam kenal, Mas. Tulisannya TOP bgt. Izin tak link ke blog saya. Hehe. Thanks.

Comments are closed.