Proses Kreatif: Penulis sebagai si Juru Masak

Tugas pertama seorang penulis, menurut saya, kurang lebih mirip dengan juru masak, yakni: tidak membuat tulisan yang tidak enak dibaca. Menulis apa pun, baik sekadar surat pembaca maupun traktat filsafat, sebaiknya memang enak dibaca. Percuma bukan, menulis ratusan halaman jika orang hanya betah membaca satu-dua paragraf? Percuma bukan, memasak berloyang-loyang jika orang hanya tahan makan satu suap?

Dalam proses kreatif saya sebagai penulis, saya belajar banyak dari para juru masak (dan bukan kebetulan jika saya pernah menulis sebuah cerita pendek mengenai juru masak terkenal abad kesembilan belas, berjudul “Kutukan Dapur”, dalam Cinta tak Ada Mati). Seperti para juru masak, saya selalu berusaha memperoleh bahan-bahan terbaik (segar dan bergizi) untuk setiap tulisan.

Kecuali singkong yang dibakar di ladang, kita tahu sebagian besar makanan yang kita makan merupakan olahan dari berbagai bahan. Ada buah kol, kentang, wortel, dan ceker ayam dalam sup yang dibikin ibu saya setiap kali saya pulang (sebab itu makanan favorit saya). Demikian pula dalam sebuah tulisan, kita bisa menemukan pengalaman hidup penulis, peradaban suatu zaman, atau mungkin analisa mengenai arsitektur sebuah kota.

Dalam novel pertama saya, Cantik itu Luka, saya mencambur beberapa bahan yang menjadi favorit saya: filsafat, mitologi, sejarah, dan folklore. Dalam novel kedua saya, Lelaki Harimau, dalam adonan saya terdapat sebuah peristiwa nyata dan sebuah dongeng turun-temurun. Aha, ya, tampaknya ada bahan-bahan yang kontradiktif: filsafat dan mitologi? Folklore dan sejarah? Peristiwa nyata dan dongeng?

Orang-orang di kampung saya tak terbiasa memakan roti dan daging. Tapi saya sudah lama terbiasa makan burger (makanan praktis buat orang yang tak suka makan berlama-lama seperti saya). Dan jangan lupa, di beberapa tempat, orang makan nasi dengan pisang, atau makan pisang dengan ikan (kalau ini sungguh saya tidak bisa). Saya pikir juru masak yang baik selalu memiliki cara untuk mencampur bahan apa pun, sebagaimana penulis yang baik mestinya tak bermasalah membaurkan fakta dan fiksi.

Mengenali bahan dengan baik, tentu merupakan syarat untuk bisa mengolah bahan-bahan ini menjadi baik pula. Seorang juru masak yang baik mestinya tahu apa yang terkandung di dalam makaroni, kalau perlu hingga nilai gizi per takarannya.

Dalam Cantik itu Luka, gagasan utama penulisan novel itu berawal dari pertanyaan mengenai sejarah. Pertama-tama tentu saya harus membongkar dulu asumsi-asumsi filosofisnya (kebetulan saya belajar di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, sehingga tak terlalu kesulitan untuk memetakan berbagai pandangan mengenai filsafat sejarah).

Kedua, tentu saya juga mesti masuk ke materi-materi sejarah di mana novel itu akan diletakkan (saya berpikir, cara terbaik membahas filsafat sejarah dalam sebuah novel tentu harus mengisahkan sebuah momen sejarah tertentu). Karena saya bukan ahli sejarah, saya mempergunakan materi-materi skunder yang ditulis oleh para sejarawan, terutama meliputi masa awal Perang Dunia II hingga masa pemerintahan Soeharto. Dari penelitian ini, misalnya, saya tahu Perusahaan Unilever telah memproduksi Blueband sejak masa kolonial (dan barangkali tak banyak yang tahu, perusahaan itu masih milik Belanda).

Karena pokok novel ini adalah filsafat sejarah (dengan kata lain, novel tentang sejarah dan bukan novel sejarah), saya harus membuka diri pada pandangan lain mengenai sejarah. Jika kita membuka ulang tradisi babad kita (misalnya Pararaton, Negarakrtagama, atau Babad Tanah Jawi), kita melihat pandangan sejarah yang khas Jawa: sejarah hidup berkelindan bersama kepercayaan, folklore, dan mitologi. Itulah mengapa folklore dan mitologi hadir pula dalam novel ini.

Dan jangan lupa, di dalam satu adonan, tak hanya bahan-bahan pokok yang hadir, namun juga ada bumbu-bumbu. Bumbu-bumbu ini seringkali justru yang membuat bahan-bahan pokok terasa lebih enak. Saya pikir, demikian pula di dalam sebuah novel, atau tulisan apa pun, kita membutuhkan bumbu untuk membuat tulisan menjadi lebih manis atau asin, atau pedas (dalam tulisan berarti lebih tragis, dramatis, memilukan, atau apalah).

Dalam tulisan, kita hadirkan hal-hal yang barangkali tak pokok, tapi berjasa membuat hal yang pokok menjadi menarik: di sana hadir lelucon, interupsi, lanturan, deskrisi. Selama tidak berlebihan, apalagi mengalahkan yang pokok, bumbu akan sangat berguna bagi hidangan akhir.
Saya tak mungkin melupakan bahasa dalam pembahasan ini, sebagai satu hal yang membuat tulisan menjadi mungkin. Saya tak ingin mempersamakan bahasa dengan perkakas. Tidak, perkakas adalah perkakas: laptop, kertas, pensil, barangkali fungsinya akan sama dengan wajan dan pisau. Bahasa, dalam dunia si juru masak, barangkali lebih tepat dikatakan sebagai api. Ya, api untuk menggoreng, memanggang, atau membakar, itulah bahasa.

Sebagaimana juru masak harus mengenali api, demikian pula penulis mengenali bahasanya. Api yang terlalu panas akan membuat gosong (mentah di dalam). Bahasa yang terlalu berkobar-kobar, hanya menyengat di mata, ketika dibaca, barangkali tak ada isinya. Demikian pula bahasa yang tak terlampau bertenaga, hanya membuat tulisan mentah, tak peduli betapa penting bahan di dalamnya.

Dalam berbahasa, saya tak hanya peduli pada gramatika, tapi juga perdebatan mengenai gramatika (saya sarankan untuk membaca Of Gramatology Derrida). Seorang penulis juga semestinya (barangkali sepele bagi kebanyakan penulis, tapi di sinilah perbedaan penulis yang serius dan tidak), membekali diri dengan kamus. Paling tidak Kamus Besar Bahasa Indonesia, bukan?

Untuk hal ini, saya punya kebiasaan untuk menghapal nama-nama, terutama nama-nama benda-benda. Bagi penulis yang berbahasa ibu bukan bahasa Indonesia (sebagian besar penulis Indonesia dibesarkan dalam bahasa daerah), sering menjadi problem untuk memberi nama-nama benda dalam bahasa Indonesia. Kamus dan kebiasaan mencatat menjadi hal penting.

Dari sini, kembali belajar dari juru masak yang baik, saya percaya menjadi penulis yang baik bukanlah (sebagaimana banyak dianjurkan buku pelajaran menulis) “menulis apa yang kita paling tahu”, tapi justru sebaliknya, “menulis apa yang paling tidak tahu”. Saya percaya ini, karena pengetahuan saya barangkali tak jauh berbeda dengan yang pengetahuan orang lain, dan apa maknanya berbagi pengetahuan yang sama-sama kita tahu? Menulis apa yang tidak diketahui, pada akhirnya membawa kita pada tradisi yang baik: penelitian.

Oh ya, juru masak yang baik tak hanya bisa membuat masakan yang bergizi, tapi mestinya piawai juga membuat adonan beracun, bukan? Hati-hati jika membaca, sebaiknya cuci tangan dulu.

Artikel ini saya tulis untuk majalah Matabaca edisi November 2006.