Pembatas Buku

Di tengah sedikit kesibukan menulis dan mengerjakan hal-hal lain, beberapa di antaranya merupakan minat saya, beberapa lainnya merupakan rutinitas yang mungkin tidak mengasyikan tapi harus dikerjakan (misalnya menggosok gigi), saya benar-benar harus membikin strategi untuk tetap bisa membaca buku.

Saya bukan tipe orang yang bisa membaca buku sekali duduk. Itu sudah jelas. Tapi tetap saja saya sering lupa menyiapkan pembatas buku untuk menandai tempat terakhir saya membaca. Itu memberi tambahan strategi buat saya.

Sudah lama waktu berlalu dan saya bukan lagi anak sekolah. Di masa itu, sepulang sekolah saya bisa pergi ke tengah perkebunan coklat dan duduk di salah satu dahan, atau pergi ke tepi pantai dan duduk di tepian belukar pandan, anteng membaca novel atau komik tanpa terganggu apa pun. Sepanjang sore. Saya juga bukan lagi seorang mahasiswa, yang bisa pergi ke perpustakaan dan duduk sepanjang siang menghadapi buku yang saya suka. Saat seperti itu saya bisa tidak peduli dengan kuliah, kadang-kadang lupa makan dan minum.

Ada masa ketika membaca buku malah jadi beban. Tiba-tiba saya menemukan diri saya menjadi sejenis kritikus gadungan, setiap kali membaca otak saya bekerja untuk mencari “sesuatu” di buku tersebut. Kadang-kadang dengan susah-payah mencoba menemukan kehebatan sebuah buku, lain kali mati-matian mencari kejelakannya. Untunglah masa-masa itu sudah lewat. Saya masih suka mengomentari buku-buku yang saya baca, kadang memuji – lain kali mengomeli, tapi saya sudah lumayan terbebas dari kecenderungan sebagai kritikus gadungan tadi. Saya mulai bisa menikmati membaca buku (novel atau komik, misalnya), sebagaimana dulu waktu umur belasan tahun.

Masalahnya, itu tadi, saya bukan anak sekolah yang punya waktu sepanjang sore untuk membaca buku.

Jujur saja, dulu tak banyak buku yang bisa saya baca. Saya tinggal di sebuah kota kecil tanpa perpustakaan dan tanpa toko buku. Hanya jika ada kesempatan melancong, saya beli buku. Selebihnya saya dapat buku dari taman bacaan, isinya cerita silat dan novel picisan. Atau pinjam dari teman. Sekarang, buku memenuhi tempat tidur saya, tapi bisa dipastikan lebih dari separuhnya belum juga sempat saya baca. Ternyata kemampuan saya membaca buku jauh lebih rendah daripada kemampuan menumpuknya!

Menyedihkan sekali memang, tapi begitulah kenyataannya.

Untuk menghindari rasa berdosa diri karena merasa tak cukup banyak membaca buku, akhirnya sekarang saya punya kebiasaan membaca beberapa buku sekaligus. Buku-buku tertentu saya baca dengan semangat sprinter. Saya baca secepat-cepatnya hanya agar tahu apa isinya. Kalau perlu saya buka dulu internet, sekiranya ada rangkuman mengenai buku tersebut. Beberapa saya baca dengan gaya pelari maraton. Tidak terlalu buru-buru, tapi tidak juga terlalu suntuk. Ibaratnya membaca untuk tahu apa isinya, tapi tak peduli dengan tulisannya. Meskipun begitu, ada buku-buku tertentu yang saya baca dengan gaya seorang pejalan kaki. Saya baca paragraf demi paragraf, kalimat demi kalimat, dan bahkan saya membikin catatan pinggir jika ada sesuatu yang ingin saya perhatikan kembali lain waktu.

Dengan begitu banyak buku yang harus dibaca dalam sekali waktu, lagi-lagi saya harus membagi mereka. Buku-buku tertentu saya letakkan tak jauh dari laptop saya. Biasanya ini jenis-jenis buku yang saya pergunakan untuk referensi saya menulis. Misalnya, karena sudah tiga tahun terakhir saya mengerjakan novel ketiga, maka buku-buku yang tak jauh dari komputer pasti ada hubungannya sebagai referensi novel tersebut. Beberapa di antaranya kalau saya boleh sebut: sebuah buku tentang sejarah gerakan Darul Islam, sebuah buku tulisan Deliar Noor, sebuah buku tua yang saya beli dari tukang loak mengenai gusi dan gigi, empat jilid buku mengenai sejarah Pos Indonesia, juga sebuah buku mengenai sejarah pesantren.

Selain itu saya biasanya punya satu jilid buku yang saya letakkan tak jauh dari tempat tidur. Biasanya buku baru, dan saya menyukainya. Ini tipe buku-buku yang saya baca dengan gaya berjalan kaki. Sebelum tidur sambil menunggu kantuk, saya buka-buka sebentar dan membacanya. Buku terakhir yang saya selesaikan dengan cara ini adalah novel Haruki Murakami, The Wind-Up Bird Chronicle.

Oh ya, saya juga suka meninggalkan satu buku di kamar mandi. Biasanya buku lama, buku klasik, yang juga bisa saya baca dengan gaya jalan kaki. Saya membaca novel-novel seperti The Idiot karya Dostoyevsky di kamar mandi, sambil duduk di atas kakus. Buku yang sekarang masih tergeletak di kamar mandi adalah The English Patient karya Michael Ondaatje. Ya, kamar mandi merupakan tempat saya membaca buku-buku yang dianggap “telat”.

Lantas, bagaimana kalau saya bepergian? Tentu saja ada buku lain di dalam tas. Sejujurnya saya jarang berhasil membaca buku di luar rumah, kecuali saya pergi sendirian dan tak bertemu dengan siapa pun. Buku terakhir yang saya baca sambil jalan adalah buku esai Milan Kundera, The Curtain. Selesai di Ubud, Bali, waktu mengikuti Ubud Writers and Readers Festival – lumayan ada waktu luang dengan penginapan yang dingin dan nyaman.

Dengan semua cara baca yang terbata-bata serupa itu, mau tidak mau, saya sangat tergantung dengan yang namanya pembatas buku. Saya sudah mengetahui betapa pentingnya barang kecil ini sejak dulu. Bahkan, waktu saya masih belajar desain grafis, barang yang paling sering saya desain adalah pembatas buku. Begitu pula waktu bekerja di sebuah penerbitan, saya sering mengakali sisa kertas sampul buku untuk dibuat pembatas.

Waktu mahasiswa, ada seorang teman saya yang suka membuat kerajinan tangan berupa pembatas buku. Ia membuatnya dari kertas daur ulang, kadang-kadang ia meminta saya menggambarinya, dan sebagai bayarannya saya bisa memiliki beberapa lembar pembatas buku. Setahu saya di toko juga banyak dijual pembatas buku, baik yang didesain dan dicetak masal maupun yang berupa kerajinan tangan. Saya belum pernah membeli pembatas buku di toko; tapi saya yakin banyak orang pernah membelinya. Ya, bukan hal sulit untuk memperoleh pembatas buku. Bahkan sekarang ini, beberapa penerbit tampaknya selalu menyisipkan pembatas di setiap jilid buku yang mereka terbitkan. Pembatasnya didesain mengikuti sampul bukunya. Kalau tidak salah, kelompok Penerbit Mizan melakukannya. Pembatas buku mereka biasanya bisa dilipat dengan bagian tengah berlubang, bisa untuk menjepit halaman buku.

Apesnya, dengan cara membaca yang gadungan seperti ini, saya justru sering melupakan pembatas buku. Ketika saya sedang membaca buku dan tiba-tiba ingin rehat, saya selalu kelimpungan mencarinya. Kalaupun saya menyelipkan satu pembatas buku, biasanya kemudian lupa menyimpan ketika saya membaca, dan saya harus mencari pembatas yang lain.

Akhirnya, saya cenderung memakai apa saja untuk pembatas buku. Di kamar mandi, jika tiba-tiba saya butuh pembatas, saya biasanya menyobek tisue dan menyelipkannya di tengah halaman buku. Lain kali bisa juga pakai kertas sisa bungkus sabun atau pasta gigi. Di perjalanan, saya menyelipkan bungkus permen atau kertas rokok. Kadang-kadang sobekan karcis bioskop atau kartu nama seseorang juga saya pergunakan sebagai pembatas. Karena saya suka mengoleksi price tag pakaian (karena suka dengan desain-desainnya), sering juga price tag saya pakai jadi pembatas buku.

Tapi yang paling heboh adalah ketika saya menemukan anak tikus jadi pembatas buku! Ceritanya, suatu hari saya melihat seekor anak tikus dan bermaksud mengusirnya keluar. Tapi ternyata ia malah masuk ke tumpukan buku yang memenuhi pojok ruangan. Saya menggeser-geser buku-buku tersebut, berharap si anak tikus keluar dan lari. Tikus itu tidak keluar. Saya mulai memukul-mukul buku dengan kasar, bahkan beberapa saya lemparkan, agar anak tikus itu benar-benar ketakutan. Tikus itu tak keluar juga. Akhirnya saya mengambil kesimpulan, barangkali anak tikus itu sudah lari tanpa saya menyadarinya. Eh, beberapa bulan kemudian, ketika saya mengambil salah satu buku, saya menemukan bangkai anak tikus terselip di antara halaman buku. Sudah kering bagaikan keripik.

Rupanya ia menyelinap ke lipatan buku, dan mati waktu saya memukul-mukul buku. Yah, nasibnya berakhir jadi pembatas. Maaf, deh.

5 comments on “Pembatas Buku

  1. antok says:

    aku suka pembatas buku yang menyatu dengan cover. jadi, cover depan dan belakang dibuat lebih panjang dari ukuran normal. macam bukunya DEE.

    terakhir aku beli buku MATSNAWI, terjemahan RUMI. pembatas buku bentuknya mungil, warna ijo, aku suka banget. tapi malang, waktu naik angkot jatuh di jalan.

  2. muhammad shodiqin says:

    hahaha sampean gokil juga to mas. padahal kemarin aku bener-bener sebel sama sampeyan ketika membaca buku yang ngebahas realisme sosial “pram” . soalnya pujaan saya H.B Jassian kesannya disudutkan gitu. subyektif sichh… pi, gitu wes… semngat bos. tak tunggu novelnya.

  3. ekakurniawan says:

    yang menyudutkan hb jassin kan bukan saya, tapi pram. hehe ….

  4. unai says:

    hihi gak kebayang bau dan bentuknya sebelum menjadi keripik tikus dan jadi pembatas buku yah ..hihh

  5. zulfa says:

    jelek aja di pasang

Comments are closed.