Peluncuran Bilangan Fu

Semalam dari peluncuran novel Ayu Utami, Bilangan Fu. Saya sudah beli bukunya sejak dua mingguan lalu, tapi baru baca satu halaman. Kalimat keduanya membuat saya sejenak bertanya-tanya: “Kau pasti enggan percaya jika kubilang padaku ada sebuah stoples selai […].” (cetak tebal dari saya), selebihnya saya harus kembali ke pekerjaan (*grin*).

9 comments on “Peluncuran Bilangan Fu

  1. ilalang says:

    dibaca pelan-pelan saja, pasti tahu kalimat itu tidak ada anehnya, hehehe….

  2. sari says:

    wah b’ati saya ngeduluin mas eka dong bacanya. over all, bukunya bgs, cm ada beberapa bag. yg bkn saya aga terganggu. kyknya agak susah ya bwt penulis untuk bercerita ttg perasaan dan pikiran anak2 dng ‘bahasa’ anak2. aga aneh aja klo parang jati kecil pny pikiran yg sangat kompleks ttng sebuah konsep dlm ajaran agama tertentu… bknya akan tampak berlebihan dan maksa??

  3. husnil says:

    bukannya mau membela ayu. tapi, bukankah di usia dini jati telah melahap banyak buku, bahkan kelas internasional. mungkin setidaknya itu membentuk pola pikirnya yang agak “matang”. tapi, ini bacaan saya lho..

  4. Retno Pudjiastuti says:

    Saya setuju dengan Ilalang, sebaiknya Eka membaca buku itu pelan2 saja. spy akhirnya tau bhw kalimat (khususnya 2 kata yg Eka cetak tebal) itu tidak ada anehnya.

    Dua kata itu seperti bersambungan, tanpa jeda karena tidak ada tanda baca apapun yang memisahkan kedua kata tersebut. tetapi untuk membacanya silakan Eka beri tanda baca imagi (maksud saya, di dalam hati saja) di antara kedua kata itu. sehingga membacanya akan menjadi seperti ini:

    Kau pasti enggan percaya jika kubilang, “Padaku ada sebuah stoples selai….”

    Nah, tidak ada yg aneh kan dalam kalimat itu?

    Selamat membaca Bilangan Fu !

  5. ekakurniawan says:

    hi, ilalang dan retno:
    memang tidak ada yang aneh, kan? saya juga selalu berpikir tak ada yang aneh dalam tulisan apa pun: yang penting bagaimana pembaca menafsirnya, termasuk penafsiranmu memberi tanda baca imaji. sebenarnya saya kan enggak bilang itu aneh. saya cuma bertanya-tanya, kira-kira ini ditafsir seperti apa, ya.

    Penafsiranmu atas tanda baca imaji itu boleh juga, meskipun saya kembali bertanya-tanya, kenapa penulis melakukannya? jika pembaca membayangkan ada tanda baca (koma) di tengah-tengah dua kata itu, sebenarnya itu satu kritik dari pembaca (retno): koma itu seharusnya ada di sana. Bukankah pembaca merupakan kritikus terbaik? Saya pikir saya bisa mengikuti pembacaan Retno, karena itu yang paling make sense.

    Tentu saja karena kita tahu tidak ada koma di sana (de facto), tafsir kita tak bisa menjadi satu-satunya tafsir yang meyakinkan. Hanya tafsir yang membuat kita nyaman sendiri :)

  6. Hai Eka, saya tidak bermaksud menggurui. hanya ingin berbagi sedikit. Yang jelas, pasti kamu sudah lebih tahu. Btw, pengalaman saya belajar bahasa di SMA dan di tempat kerja dulu membuat saya tahu bahwa tidak semua tanda baca bisa atau harus dicantumkan ketika menulis sebuah kalimat. Sebab bila itu dilakukan, maka si kalimat bisa menjadi terlalu padat, terlalu ramai, terlalu membosankan selain juga terlalu menggurui orang yang membacanya. Jadi, seperti yang kamu bilang, sikap kritis dari pembaca memang diperlukan.

    Bagi saya pribadi kalimat Ayu Utami di atas yg sudah saya bubuhi segala tanda baca secara tersurat itu mengganggu kelancaran saya membaca. Mungkin secara tidak sadar saya merasa didikte oleh tanda2 baca itu. Saya lebih suka membaca kalimat yg aslinya, walaupun jujur saja, sempat terkecoh bagaimana harus membacanya. Seperti kata Ilalang: dibaca pelan-pelan saja. Lagipula, itu kan salah satu gaya penulisan khas Ayu Utami. Minim tanda baca.

    Salam ya.

  7. Berto says:

    wah,kalau saya sie membaca buku ini kaya dikasih ajaran banyak. ada wayangnyalah, alkitablah, cara manjat tebinglah, dan lainlain. yah, memang ga salah. tetapi, rasanya kok ga asyik aja karena seperti kotbah siang bolong.

  8. mr rius says:

    Ka, kamu tuh baru baca satu halaman sudah komentar. pantes saja km nggak dong maksudnya.

    rius:
    komentar saya apa, ya? saya cuma bertanya-tanya mengenai sebaris kalimat, kok (kira-kira itu mesti ditafsir menjadi apa, ya?) tentu saya tak akan berkomentar tentang novel ini, karena memang belum baca.
    (eka)

  9. inda says:

    saya pikir (malah) seharusnya bilangan fu itu bukan sebuah novel. kalau saya sih jadi nyesel bacanya, saya baca lompat lompat, terlalu banyak, terlalu padat, terlalu dijejal jejalkan, persaingan parangjati dan kupukupu malah saya mirip adegan di laskar pelangi ( ha ha ha ini pendapat saya aja lho).
    bagi mas eka yang belum baca, baca aja, bisa jadi suka bisa jadi menyesal. penilaian masing masing aja.

Comments are closed.