Patrick Modiano, Lebih Jauh dari Terlupakan

“Suasana dan keadaan tidaklah penting. Suatu hari perasaan kosong dan sesal menenggelamkanmu,” tulis peraih Nobel Kesusastraan 2014, Patrick Modiano dalam salah satu novelnya, Honeymoon.

Ketika Modiano pertama kali muncul dalam kesusastraan Prancis, 1968, Paris sedang bergejolak. Para mahasiswa turun ke jalan. Nilai-nilai tradisional mulai goyah, gerakan kesusastraan baru sedang menggeliat. Nama-nama yang diidentikkan sebagai masa lalu mulai kehilangan legitimasinya, bahkan Sartre pun hanya menjadi olok-olok mahasiswa. Novel pertama Modiano memperoleh sambutan yang hangat dari generasi ini, meskipun ada yang aneh. Berbeda dengan kecenderungan generasinya yang tengah mencoba memandang jauh ke masa depan, Modiano melalui novel pertamanya (dan novel-novel berikutnya), justru lebih banyak berpaling ke masa lalu.

Salah satu aspek yang menonjol dari karya-karyanya (setidaknya melalui beberapa novelnya yang tersedia dalam bahasa Inggris) adalah sisi lain dari kegaduhan dan hiruk-pikuk perang: kesunyian dan pelarian. Senyap yang mengungkung tak hanya di jalan-jalan, dalam hal ini jalanan Paris misalnya, ruang-ruang café, hotel, atau bar yang ditinggal manusia-manusia yang menghidupi mereka, tapi terutama jauh di dalam diri manusia-manusia ini sendiri.

Lahir tahun 1947, Modiano tentu saja tak mengalami langsung salah satu masa paling gelap dalam sejarah Eropa: Perang Dunia Kedua, yang menjadi lanskap jauh maupun dekat karya-karyanya. Perang telah usai dan ia masih terlalu kecil. Meskipun begitu, melalui novel-novelnya ia mampu menembus jantung kekelaman perang, lengkap dengan tragedi dan komedi gelapnya. Pendekatannya pada tragedi dan kekonyolan manusia sangat kental berbau Shakespearean, di mana bahkan manusia tak pernah mampu menjadi tuan atas dirinya sendiri, boro-boro menentukan nasibnya.

Dalam novelnya yang getir namun sekaligus menggelikan, Night Rounds, kita menemukan sejenis puncak komedi gelap ini. Diterbitkan pertama kali tahun 1969, membaca novel ini awalnya terasa membingungkan. Kita seolah-olah diceburkan ke sebuah ruangan (café? rumah?) dengan begitu banyak orang yang bicara satu-sama lain, tapi sesekali mereka bicara kepada seseorang yang hanya dipanggil “boy” atau “son”, yang tentu saja ada di antara mereka. Bocah ini, yang mereka panggil “boy” atau “son”, tak pernah menyahut, dan tak pernah ada penjelasan apa pun yang dilakukannya di ruangan tersebut. Nama-nama bermunculan, awalnya tanpa menjelaskan siapa mereka, seperti apa karakteristik mereka, dan apa hubungan mereka, kecuali nama si “boy” atau “son” ini.

Meskipun begitu, kita tak bisa tidak menangkap suasana dan keadaannya: di puncak masa perang, di antara sekelompok “bandit” yang mencari keuntungan di tengah kekacauan. Si bocah bagian dari kelompok ini.

Kelompok tersebut awalnya, sebelum perang, hanyalah sebuah biro detektif milik seorang polisi. Si bocah direkrut untuk memata-matai, mengumpulkan informasi, dan terutama untuk memeras. Dengan cara itulah biro detektif ini mencari uang. Ketika perang pecah, kelompok ini berkembang menjadi pemasok informasi untuk penguasa perang, sekaligus pemasok pasar gelap dan pencoleng barang-barang berharga dari rumah-rumah penduduk yang ditinggalkan penghuninya.

Di bagian tengah novel, kita menemukan kecemerlangan penulis ini. Jika awalnya kita bertanya-tanya siapa bocah yang terus dirujuk sebagai “boy” atau “son” ini, kita menemukannya bicara secara langsung, kepada pembaca. Sejak awal sebenarnya novel ini ditulis dengan sudut pandang pertama, si bocah, tapi tersamar. Hanya di bagian tengah kita menemukannya dengan lebih jelas, ketika akhirnya si bocah menceritakan dirinya dan siapa-siapa orang di sekitarnya.

Di masa perang itu, dari seorang pemeras untuk biro deketktif, si bocah dikirim untuk masuk ke gerakan perlawanan bawah tanah. Kini sebagai agen. Karena tampangnya yang polos, ia diterima di gerakan perlawanan, dan sialnya mereka merekrutnya untuk memata-matai sebuah kantor komersial yang dicurigai berhubungan dengan penguasa perang dan perbanditan. Memata-matai tuannya sendiri. Si bocah menemukan dirinya menjadi agen ganda.

Seperti dikutip di bagian awal, suasana dan keadaan tidaklah penting. Yang terpenting adalah, bagaimana perang telah mencerabut segala hal dari bocah ini. Ia tak hanya kehilangan Paris yang dicintainya, Mamanya yang mengungsi, teman-temannya yang menghilang, tapi juga seluruh orang yang dekat dengannya. Bahkan kini ia harus mengkhianati siapa pun yang memercayainya. Ia bukan penjahat, tapi juga bukan pahlawan. Ia sesederhana pengkhianat yang terjebak oleh sejarah. Ia tak memiliki masa lalu, lebih tepatnya lari dari masa lalu yang entah, dan tak ada masa depan membentang. Tak ada nasib yang lebih tragis daripada itu, bukan?

Membaca novelnya yang lain, Out of the Dark (judul Prancisnya lebih indah, Du plus loin de l’oubli, kira-kira “yang lebih jauh dari terlupakan”), kita kembali menemukan tema yang berulang ini: pelarian dan dunia yang senyap. Berbeda dengan novelnya yang lain, novel ini tak bercerita tentang perang, dan terjadi jauh setelah itu, bahkan hingga tahun 1990an. Tapi bukan tanpa singgungan sama sekali tentu saja: si tokoh lahir di tahun 1945, dan tokoh yang lain Peter Rachman merupakan seorang penyintas dari masa perang.

Novel ini bisa dibilang sebagai kisah cinta yang lucu di antara si tokoh aku dengan seorang perempuan bernama Jacqueline. Tokohnya tipikal: 20an, masa lalu yang tak jelas dan hendak dilupakan, masa depan yang juga tak jelas. Ia bertemu dengan Jacqueline yang saat itu bersama “pacarnya”, Van Bever. Ini sama persis dengan tokoh aku di Honeymoon yang satu ketika bertemu dengan pasangan Ingrid dan Rigaud, dan kemudian hidup bersama mereka.

Jika di Honeymoon, bertahun-tahun kemudian si narator mencoba melacak masa lalu Ingrid dan Rigaud yang terhapus oleh kenangan (bahkan meskipun mereka sempat bersama, masa lalu masing-masing tetaplah gelap), di Out of the Dark, si narator terjebak dalam perebutan cinta untuk memperoleh Jacqueline. Tak hanya dengan Van Bever, tapi dengan banyak lelaki yang diam-diam menginginkan gadis itu. Yang tak diketahui para lelaki ini, Jacqueline tak hanya menyembunyikan masa lalunya, tapi juga menyembunyikan apa yang hendak dilakukannya di masa depan, meskipun ia berkali-kali menyebut kota Majorca.

Barangkali di sinilah uniknya Modiano dan karya-karyanya. Karir sastranya lahir di tengah keriuhan revolusioner Paris tahun 1968, meskipun sekilas tampak menyimpang dari kecenderungan generasinya, ia sejatinya memperlihatkan paradoks zamannya. Dua puluh tahun lebih setelah perang usai, Paris dan Eropa secara umum belum juga berhasil keluar dari kutukan masa kelam perang. Kaum revolusioner menghendaki mereka menyongsong masa depan dengan segera, tapi masa lalu tak pernah benar-benar membebaskan mereka dari cengkeraman.

Tokoh-tokohnya menjadi sejenis gambaran psikologi Eropa selepas perang. Ada masa yang tak begitu jauh, yang ingin dilupakan. Tapi semakin tokoh-tokoh itu mencoba melupakan masa lalu, semakin ia sering hadir dalam mimpi, dalam kenangan kelam, dalam gambaran yang kelabu tentang jalan-jalan dan ruangan yang gersang dari manusia. Di sisi lain, jika mereka mencoba mengingatnya, segala hal yang ingin dikenang menjadi hilang.

Jika benar bahwa seorang penulis pada dasarnya hanya menulis satu novel dengan berbagai cara seumur hidupnya, maka saya kira novelnya yang terbit tahun 1996 menjelaskan novel tunggalnya: sebuah usaha untuk mencapai titik terjauh dari upaya melupakan. “Di atas segalanya, adalah kebutuhan untuk melarikan diri,” tulis Modiano di Honeymoon.

Dari apa? Dari kekonyolan perang yang telah mempermalukan Eropa.

Pertama kali diterbitkan oleh Jawa Pos, 7 Desember 2014