Oleh-oleh Buku (Bekas)

Toko Buku Bekas di Universitas Tokyo. Foto oleh Ratih Kumala.

Toko Buku Bekas di Universitas Tokyo. Foto oleh Ratih Kumala.

Seperti pergi ke manapun, saya selalu menyempatkan diri pergi ke toko buku, terutama keluar-masuk toko buku bekas. Selama di Tokyo, setiap kali saya jalan dan menemukan toko buku bekas, pasti saya masuk. Tapi kali ini saya tak begitu banyak membeli buku. Pertama, karena sangat jarang buku berbahasa Inggris (berbahasa Jepang sih melimpah). Kedua, jika dibandingkan di tempat lain, harga buku di Jepang hampir satu setengah hingga dua kali lipat di tempat lain.

Meskipun begitu, saya sempat gembira ketika mengunjungi Tokyo University, saya menemukan sebuah toko buku bekas. Toko itu mengingatkan saya pada toko Jose Rizal di Taman Ismail Marzuki, tapi dengan penataan yang lebih rapi dan cahaya lebih terang. Pemiliknya juga seorang lelaki tua yang ditemani istrinya. Sebagian besar buku berbahasa Jepang (tapi saya bisa mengira-ngira, sebagian besar buku sastra dan kajian), tapi saya menemukan dua buku berbahasa Inggris yang langsung saya beli.

Pertama, adalah buku karya Clifford Geerz berjudul Negara. Ya, itu buku kajian mengenai Bali. Sungguh tak mengira saya menemukan edisi asli buku itu jauh-jauh di Tokyo. Buku itu pernah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Negara Teater (kalau tidak salah, penerbitnya Bentang Pustaka). Buku lainnya adalah kumpulan puisi Wislawa Szymborska berjudul View with a Grain of Sand. Tampaknya itu buku pilihan puisinya yang kedua terbit dalam bahasa Inggris, terbit jauh sebelum ia memperoleh Nobel. Total harga kedua buku hanya 900 Yen (waktu itu kurs Yen sekitar 130 Rupiah), lumayan murah. Di toko itu juga saya menemukan beberapa karya William Faulkner, dengan harga rata-rata di bawah 300 Yen. Tapi karena saya sudah punya buku-bukunya, saya tidak membeli.

Di Toko Buku Bekas Kichijoji. Foto Oleh Ratih Kumala.

Di Toko Buku Bekas Kichijoji. Foto Oleh Ratih Kumala.


Ketika mengunjungi Ghibli Museum, saya baru tahu kalau Animal Farm karya George Orwel menjadi film animasi (saya tak sempat ngecek, apakah produksi Ghibli atau Ghibli sekadar merayakan?). Maka ketika di satu toko buku bekas saya menemukan buku tersebut, saya juga membelinya. Saya pernah membaca buku itu dalam versi Indonesia, saya lupa penerjemahnya, tapi dengan cara aneh judulnya diterjemahkan sebagai Binatangisme. Penerbitnya mungkin Pustaka Jaya. Saya tak pernah lagi melihat buku itu. Ada memang terjemahan-terjemahan versi baru (beberapa versi jika saya tak salah), tapi saya tak pernah membeli maupun membacanya. Buku ini saya beli cuma 70 Yen (tidak sampai 10 ribu rupiah), padahal kondisinya bisa dibilang baru. Edisi Penguin Books.

Bersama buku itu, saya juga membeli satu buku drama karya Kurt Vonegut berjudul Happy Birthday, Wanda June, seharga 100 Yen. Saya belum tahu apa isinya. Saya bersama beberapa teman sedang belajar membuat naskah drama. Forum ini digagas oleh teman-teman di Teater Garasi. Karena secara pribadi saya tak begitu familiar dengan naskah drama (kecuali yang saya tahu sepintas lalu saja), akhir-akhir ini saya mencoba membaca berbagai naskah drama untuk membantu pemahaman saya. Saya mengenal Kurt Vonegut lebih sebagai novelis dengan gaya yang lucu serta sering mengangkat tema fiksi sains. Melihat buku dramanya, tentu saja saya jadi ingin membaca seperti apa jadinya.

Oh ya, saya juga menemukan buku The Adventures of Huckleberry Finn karya Mark Twain. Saya juga pernah membaca edisi terjemahan Indonesia buku ini. Saya lupa penerjemahnya, tapi penerbitnya kemungkinan besar Pustaka Jaya. Kalau tidak salah juga, ada versi Indonesia Petualangan Tom Sawyer. Mungkin buku ini tipe yang saya beli tapi tak akan saya baca (lagi), kecuali kebutuhan untuk mengkaji (siapa tahu?). Saya membelinya hanya karena harganya murah, 105 Yen, dan kondisi bukunya bagus. Bisa untuk koleksi, dan siapa tahu kelak anak atau cucu saya tertarik membaca novel semacam ini (hehe).

Buku bekas terakhir yang saya beli, juga cuma 105 Yen dan kondisinya bisa dibilang baru, adalah novel DBC Pierre berjudul Vernon God Little. Terbitan Faber and Faber. Novel ini memperoleh The Man Booker Prize pada tahun 2003 lalu.

Menjadi seorang pembaca buku, mengunjungi toko buku bekas dan menemukan buku asik berharga murah merupakan kebahagiaan luar biasa. Saya ingat, kegemaran berburu buku bekas ini dimulai ketika saya mahasiswa. Buku bekas pertama yang saya beli adalah novel Knut Hamsun berjudul The Wanderer. Novel itu sampai sekarang masih ada, meski keadaan bukunya tidak terlalu baik (tidak ada yang sobek, tapi permukaan kertasnya sudah kuning betul, hehe). Saya menemukan buku itu di gang kecil di belakang Malioboro, di Pasar Kembang.

Selain buku-buku itu, sebenarnya ada dua buku lain yang saya bawa dari Tokyo. Keduanya buku baru dan saya beli karena tidak (belum) ada di Jakarta. Pertama, buku titipan Richard Oh: novel baru Philiph Roth berjudul Indignation. Masih edisi hardcover. Kedua, Snakes and Earrings karya perempuan penulis Jepang kelahiran 1983 bernama Hitomi Kanehara. Ratih sudah lama ingin membaca buku itu, tapi di Jakarta kami hanya menemukan novel keduanya (Autofiction). Novel itu meraih Akutagawa Prize. Karena novel itu pendek, Ratih menyelesaikan buku itu di pesawat dalam perjalanan pulang dari Tokyo menuju Denpasar. Setelah Ratih menyelesaikan baca, saya juga membaca buku itu di pesawat dalam perjalanan dari Denpasar ke Jakarta, dan menyelesaikannya di dalam bis bandara.

Dua teman Jepang kami, menganggap kemenangan Hitomi Kanehara sebagai “skandal”. Mereka menduga kemenangannya juga diwarnai oleh kecenderungan selebritisasi sastra. Memang Hitomi Kanehara, selain masih muda juga bisa dibilang cantik (di buku yang kami beli, fotonya bahkan dicetak besar di balik sampul belakang). Mereka bahkan menyamakannya dengan gejala “sastrawangi” di Indonesia. Apalagi tema novel itu juga penuh adegan seks yang blak-blakan.

Di luar apa yang mereka sebut “skandal”, kami berdua sebenarnya cukup menikmati novel itu. Tentu saja kalau harus memilih, kami akan menyebut penulis Jepang lainnya. Dalam kasus saya, saya masih tetap terpesona oleh Yasunari Kawabata dan sangat bergairah membaca Haruki Murakami. Ratih akan memilih penulis Okaru Oizumi. Tapi Snakes and Earrings, bagi saya juga cukup asyik. Saya menikmati alur ceritanya yang tanpa tendensi arah. Ada novel-novel dimana kita diberi semacam foreshadow sehingga kita bisa membayangkan akan dibawa kemana. Novel ini tidak seperti itu, ia mengalir dari satu adegan ke adegan lain. Mengenai apa novel ini barangkali baru bisa terasa setelah setengah buku dibaca. Di luar itu, saya juga menikmati dialog-dialognya yang cerdas, humor yang lumayan mencengangkan bagi penulis muda seperti Hitomi Kanehara.

Itulah oleh-oleh buku dari Jepang. Oh ya, ada oleh-oleh lain sebenarnya: teman Ratih titip dibelikan “payung Jepang”. Apa yang dimaksud “payung Jepang” ternyata payung biasa yang transparan. Dari teman-teman Indonesia yang tinggal di Jepang, kami juga tahu, payung itu memang jadi favorit orang Indonesia yang minta oleh-oleh. Tapi di Jepang kami baru tahu, payung itu dibuat dengan plastik transparan sebenarnya untuk fungsi tertentu: itu biasanya dipergunakan oleh pengguna sepeda, jadi ketika mereka mengendarai sepeda sambil berpayung, mereka masih bisa melihat jalan. Lha, kalau di Indonesia? Selain melindungi dari hujan, payung dipergunakan juga untuk melindungi diri dari terik matahari tropis. Kalau transparan? Ya tetap saja kepanasan! Dasar orang Indonesia, ya …

12 comments on “Oleh-oleh Buku (Bekas)

  1. mikael says:

    binatangisme yg nerjemahin misbach yusa biran, lucu

  2. ekakurniawan says:

    The adventure of tom sawyer di indonesia dterjemahin jadi ‘tom sawyer anak amerika’. Lucu2 ya judul trjemahan :)

  3. asep sofyan says:

    Enak ya di Jepang orang bisa membeli buku dengan harga ratusan. Di Indonesia uang ratusan cuma bisa beli permen. kikikikik…

  4. imam says:

    binatangisme kalau gak salah terjemahan mahbub djunaidi. no body’s boy-nya hector malot diterjemahkan menjadi sebatang kara (oleh idrus kalau saya gak salah ingat). iya, menurutku lucu juga judul2 terjemahan. kalau bukan sebatang kara, kira-kira apa lagi padanan yg pantas untuk no body’s boy? :)

  5. arie andrasyah says:

    bisa saya tahu siapa penerbit terjemahan petualangan tom sawyer? saya punya yang versi penerjemah abdoel moeis 1928, jokolelono 1973, kalo ada yang lain saya boleh beli atau difotokopi untuk bahan penelitian saya.trims. -Arie-

  6. arie andrasyah isa says:

    kalo ada yang punya buku terjemahan The Adventures of Tom Sawyer, selain versi Abdoel Moeis (1928) dan Djokolelono (1973), say mohon diberitahu lewat 081315453820 atau e-mail: andrasyah@yahoo.com

  7. ekakurniawan says:

    arie:
    aku sendiri baca buku itu udah lama sekali. kalo enggak salah terbitan Balai Pustaka (bukankah itu yang terjemahan Abdoel Moeis?, yang ada embel-embel “Anak Amerika”-nya?). buat teman-teman yang lain, kalau ada yang tahu versi terjemahan dan penerbit yang berbeda, sila memberitahu Arie.

  8. Petualangan HUckleberry Finn edisi Indoensia itu diterjemahkan oleh Djokolelono. Penerbitnya sama Pustaka Jaya. Itu di tahun 1973 yang cetakan terakhirnya sekitar tahun 2003. Sekarang sudah ada penerbit baru yang menerbitkankannya yaitu Penerbit Narasi dari Yogyakarta. demikian.

  9. Vivi says:

    Di Indonesia buku2bekas juga banyak diperjual belikan….
    Salah satunya adalah secara online seperti yang tersedia di blog kami. Selamat berkunjung

  10. Gatot YS says:

    Di toko buku bekas memang kadang tak terduga bisa menemukan buku2 yang lama yg sulit dicari. Bagi yang pingin mencari buku2 bekas silahkan berkunjung di web kami

    http://www.tokobukuantikdanbekas.com

    Disini banyak tersedia buku2 kuno terbitan tahun 1950-an bahkan ada yang jauh sebelum tahun 50-an…… coba dech

  11. irwan bajang says:

    udah coba di pasar klewer solo belum, mas? deket alun2. ada banyak buku bekas bagus. terakhir dapet abdullah harahap 3 cuma 10rebu..hehehe

    1. ekakurniawan says:

      @irwan bajang:
      sudah, tentu saja. di sana aku juga banyak beli novel2 Abdullah Harahap.

Comments are closed.