Obrolan Singkat Perihal Murakami

Semalam saya berbincang via BBM dengan teman sekaligus senior kuliah saya, Nezar Patria, mengenai Haruki Murakami. Perbincangan singkat ini saya pikir menarik untuk saya bagi di sini, dan saya yakin Nezar tidak akan keberatan. Perbincangan bermula ketika Nezar bilang, ia doyan Murakami ini, sampai-sampai terikut cara berpikirnya. Tentu saja saya bertanya, cara berpikir apa?

Menurutnya, Murakami selalu masuk ke jagat batin tokohnya, tapi terus keluar dan kadang menegasinya. Dia liberal, tapi sebetulnya protes pada kemunafikan. Dia selalu jujur dalam menilai. Mengenai kemampuannya untuk keluar-masuk pikiran tokohnya, seolah-olah menyepakati pikiran mereka, tapi di saat-saat tertentu menapikannya, saya pikir kita bisa bersepakat.

Tapi buat saya, perhatian terbesar saya kepada Murakami barangkali terletak kepada tekniknya. Yang paling sulit, ia (Murakami) sering menceritakan hal-hal sehari-hari tapi tak membuat itu menjadi membosankan. Tokoh-tokohnya masuk ke toko, berbelanja, masak spaghetti (juga nonton televisi, memutar musik) dan lain-lain. Tindakan-tindakan sederhana, yang jika ditulis oleh penulis amatir, saya yakin akan tampak membosankan.

Nezar menambahi bahwa adegan masuk ke toko dan membeli kaset. Dia memiliki atmosfir musik yang kuat. Ia juga suka dengan cara Murakami memasukkan kejutan-kejutan ke dalam tulisannya. Misalnya dalam Norwegian Wood. Mereka berjalan di taman sekitar rumah sakit jiwa. Kita berpikir dia akan main seks, tapi ternyata cuma masturbasi.

Musik memang merupakan elemen paling ketara dalam novel-novel Murakami. Saya melihat Murakami memperlakukan musik di novelnya, selain sebagai penanda (well, pasti banyak hal yang bisa dibahas mengenai musik sebagai penanda di novel-novelnya), juga berlaku layaknya ilustrasi musik di film. Pada adegan-adegan tertentu, dia tiba-tiba ngomongin lagu, atau band, atau jenis musik tertentu, dan atmosfir adegan menjadi makin kuat dengan musik yang dia bicarakan.

Demikian juga sebagaimana musik, seks juga merupakan elemen penting dalam novel-novelnya. Tapi berbeda dengan film-film Hollywood yang kerap memperlakukan seks secara kering, Murakami memperlakukan seks sebagai seni erotika. Penuh imajinasi. Demikianlah, ketika pembaca membayangkan akan ada adegan persetubuhan, Murakami bisa tiba-tiba berbelok hanya menjadikan adegan itu adegan masturbasi yang dibantu oleh pasangannya.

Perbincangan kami singkat saja. Jika ingin melanjutkan perbincangan mengenai Murakami ini, sila bergabung di bawah. Saya yakin, banyak hal asyik yang bisa dicuri dari penulis semacam Haruki Murakami.

2 comments on “Obrolan Singkat Perihal Murakami

  1. sulamit says:

    saya juga senang sama murakami, mas. dia sangat mirip dengan salinger saat menangkap keterasingan kota, tapi dia juga penolong orang-orang kota yang stres dengan berpihaknya sang tokoh pada kehidupan. dia bercerita tentang bunuh diri, tanpa membiarkan pembacanya larut pada pilihan yang sama. entah, menurut saya dia sangat berpihak pada kehidupan. dia penolong saya! cheers :)

  2. Arafat Nur says:

    Meskipun berulang-ulang dibaca, novel-novel Murakami tetap enak. Bahasanya sederhana, tetapi bertenaga. Ceritanya sederhana, tetapi amat rumit. Dia punya keunikan tersendiri yang tidak umum. Haruki menguasai pakam khusus ini. Sekuat apa pun usaha orang lain, sulit menandinginya. Sastra kita berada jauh di bawah selangkang Murakami. Ini hanya pendapat pribadi. Hehehehe…..

Comments are closed.