O, Monyet Kepincut Penyanyi Dangdut Terkenal

“Novel O, tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan seorang kaisar dangdut.” Begitu tagline yang tertulis pada sampul belakang novel yang ditulis Eka Kurniawan ini. Dari tagline tersebut pembaca sudah langsung disodorkan imajinasi yang liar. Bayangkan, seekor hewan tak hanya ingin menjadi manusia bahkan ingin menikahi manusia. Bukan sekadar manusia biasa, tapi seorang penyanyi dangdut paling terkenal di dunia.

O adalah nama seekor monyet betina. Ia merasa yakin bahwa kaisar dangdut Entang Kosasih yang tersohor itu adalah kekasihnya di masa lalu. Ia juga yakin bahwa monyet bisa menjadi manusia sebagaimana pernah terjadi pada pendahulunya di Rawa Kalong. Dengan keyakinan itu O menempuh jalan ikut sirkus topeng monyet bersama Betalumur sebagai majikannya. “Ternyata tidak mudah menjadi manusia,” ujar O.

Monyet menjadi manusia mengingatkan kita pada teori evolusi Darwin. Darwin menyatakan bahwa manusia berasal dari kera. Inilah yang disebut realisme magis dalam karya sastra. Sesuatu yang pada kenyataan bisa saja terjadi namun tampak begitu ajaib saat diceritakan. Dalam konteks ini, jika mengacu pada teori Darwin, cerita O menjadi manusia dapat dibenarkan. Itu yang disebut realisme. Tapi, secara bersamaan terasa sangat ajaib dan di luar akal manusia. Itulah yang disebut magis. Eka Kurniawan memang dikenal sebagai pengarang Indonesia yang sering mengangkat realisme magis khas Indonesia. Realisme magis dalam karya sastra sendiri pada mulanya dipopulerkan oleh pengarang-pengarang Amerika Latin.

Kisah O dicerita secara tuntas. Semua yang berhubungan dengan O dan jalan cerita mendapat porsi yang sama besarnya. Nyaris seakan tak ada tokoh utama dalam novel ini. Kisah hidup masing-masing tokoh yang muncul diceritakan oleh pengarang dengan tuntas. Bahkan kaleng sarden, sepucuk revolver, burung kakaktua pun diceritakan premis mereka masing-masing. Diceritakan kisah hidup mereka masing-masing hingga akhirnya bersentuhan dengan kehidupan O.

Gaya tersebut dinilai menyulitkan bagi pembaca yang bermasalah dengan kemampuan fokus. Cerita dapat beralih kapan saja pada karakter (tokoh) yang lain. Untungnya Eka Kurniawan menggunakan teknik cerita dengan penggalan-penggalan yang relatif pendek. Ini membuat proses pembacaan menjadi lebih ringan untuk novel setebal 496 halaman. Gaya seperti ini cocok untuk zaman sekarang yang serba sibuk. Waktu membaca buku pun kian sempit. Novel O dapat memenuhi kebutuhan orang-orang seperti itu. Orang-orang hanya dapat membaca beberapa paragraf di sela-sela kesibukannya.

Teknik ini pernah dilakukan oleh Eka Kurniawan pada novel sebelumnya Seperti Dendam, Rindu harus Dibayar Tuntas (2014). Dengan munculnya banyak tokoh yang semua sama kuatnya, ini mengingatkan kita pada novel pertamanya Cantik itu Luka (2002). Jadi, dapat dikatakan teknik bercerita O merupakan gabungan gaya bercerita Cantik itu Luka dan Seperti Dendam, Rindu harus Dibayar Tuntas.

Dalam cerita rakyat Nusantara sering ditemui kisah-kisah tentang hewan yang menjadi manusia maupun manusia yang menjadi hewan. Novel O mengisahkan tema tersebut dengan latar zaman sekarang, kehidupan modern.

Di lain hal, novel ini juga mengingatkan pada novel Animal Farm-George Orwell yang memanusiakan hewan dan menghewankan manusia. Dengan lelucon-lelucon satir khas Eka Kurniawan, akan menohok kemanusiaan kita. Manusia bahkan bisa lebih kacau dan kejam dibanding hewan predator sekalipun.

Dengan dimunculkan tokoh-tokoh dengan porsi yang sama membuat novel O berkisah menghakimi dan menggurui, sebab setiap tokoh punya alasan dan kebenarannya masing-masing sesuai dengan nilai yang diyakininya. Maka, siapa sebenarnya manusia?

O yang ingin menjadi manusia akhirnya pasra karena sejauh ini usahanya sia-sia belaka. Menariknya, Betalumur, majikan topeng monyet O, memiliki keinginan menjadi hewan. Semua adalah karena cinta. O ingin menjadi manusia karena cinta. Betalumur ingin menjadi manusia karena perempuan yang ia cintai bilang “belajarlah pada binatang”. Betalumur pun memutuskan untuk menjalankan sirkus topeng monyet agar bisa belajar dari binatang. Tapi, ia tak mendapatkan pelajaran apapun. Kemudian ia mencoba menjadi babi ngepet.

Barangkali itu adalah bagian dari evolusi manusia. Puncak evolusi manusia diproyeksikan membangun peradaban yang beradab secara ideal. Hal tersebut tak serta-merta berarti bergerak secara garis lurus dengan nilai kemanusiaan. Evolusi manusia secara total harusnya termasuk pada sifat material, dan spiritual. Oleh sebab itu teori evolusi meyakini bahwa evolusi tertinggi manusia adalah menjadi hewan berbudaya. Artinya adalah secara bersamaan manusia harus melepaskan naluri-naluri kehewanannya.

Tak selamanya teori evolusi tersebut linear. Salah satu penyimpangan itu adalah seperti yang digambarkan dalam novel O. Manusia berasal dari hewan yang berevolusi, kemudian menusia berevolusi kembali menjadi hewan. Sebagaimana yang dipelajari O, manusia tampaknya harus saling membunuh untuk menunjukkan bahwa dirinya manusia. Inilah masanya ketika hewan ingin menjadi manusia, manusia malah ingin menjadi hewan. Sebab, memang tak mudah menjadi manusia.

Oleh Rio Fitra SY, Harian Haluan, 4 September 2016.