NTT: Perjalanan ke Amarasi, Boti, dan Pulau Semau

Pergi ke Nusa Tenggara Timur, saya mengunjungi beberapa tempat. Pertama, saya bersama beberapa teman hanya berkeliling di sekitar kota Kupang. Mengunjungi satu komunitas, bertemu kepala adat yang menyuguhi kami dengan daun sirih dan buah pinang. Kami pergi ke Amarasi, sebuah kerajaan kecil di pinggiran Kupang, dan bertemu dengan rajanya.

Tentang Amarasi, saya baru menyadari betapa banyak kerajaan (dan raja serta istana/keraton mereka) yang masih bertahan hingga saat ini. Sebelum ini, saya hanya ingat Yogyakarta dan Surakarta, yang memang tampaknya dua kerajaan besar di zaman republik ini. Tapi kita tahu, keraton di Cirebon masih berdiri. Ketika berkunjung ke Ternate, kesultanan Ternate juga masih ada. Dan kini, saya berkesempatan bertemu raja Amarasi dan istana kecilnya. Tentu saja kerajaan-kerajaan itu tak lagi memiliki kekuasaan seperti umumnya kerajaan berdaulat. Mereka tampak lebih seperti cagar budaya, tak lebih.

Amarasi terkenal dengan tenun tradisional mereka, dan bertemu sang raja, kami lebih banyak berbincang tentang bagaimana upayanya untuk mempertahankan tenun tradisional itu dalam wilayah modern: menjadikannya bisnis untuk menghidupi komunitas kecilnya, dengan sasaran para sosialita modis dan para pencari suvenir. Jangan bayangkan Keraton Yogyakarta, dengan segala tradisi dan “keistimewaannya”, kerajaan Amarasi hanyalah sebuah komunitas kecil yang bahkan untuk membuat namanya dikenal saja, barangkali mereka harus berjuang mati-matian.

Kami juga berkunjung ke Boti. Itu sejenis komunitas (boleh juga disebut kerajaan pula, sebab kepala adatnya dipanggil dengan Raja), yang mengingatkan saya kepada Suku Baduy di Banten. Seperti Baduy, mereka menempati satu wilayah adat, dan hidup dalam kesederhanaan yang menyatu dengan alam, nyaris menolak apa pun yang bersifat modern. Mereka bahkan melarang warganya sekolah. Seperti Baduy, ada Boti Luar dan ada Boti Dalam. Boti Dalam memegang adat lebih teguh dan tinggal di wilayah adat, sementara Boti Luar, sejauh yang kami temui, pergi bersekolah dan bicara dalam Bahasa Indonesia.

Sejujurnya kami pergi ke Boti nyaris tanpa rencana. Dalam kunjungan ke kota SoE, seseorang menyarankan untuk pergi ke Boti. Kami sudah mengetahui daerah itu sebelumnya, atas referensi teman, tapi tak tahu sejauh apa dan apakah kami punya waktu ke sana atau tidak. Tapi seorang teman bilang, “Enggak jauh kok, cuma dua puluh kilometer. Tak sampai satu jam (dari SoE).” Karena waktu masih cukup (saat itu pukul dua siang), dan Boti terlalu menarik untuk dilewatkan, kami memutuskan pergi ke sana.

Ternyata jaraknya hampir 40 kilometer. Dan waktu yang ditempuh, karena jalanan sangat buruk, adalah tiga jam! Kami tiba di Boti hampir Maghrib. Dan sebelum pergi ke sana, seorang teman juga mengingatkan: “Jika disuguhi sirih, ambil saja, meskipun tidak memakannya.” Mereka tahu, kami orang Jakarta tidak mengunyah sirih. Di sebuah desa di Kupang, saya sempat mencoba mengunyah sirih dan buah pinang. Tapi entah kenapa, di Boti, sambil menunggu raja yang sedang mengurusi ternaknya di hutan, dan kami disuguhi daun sirih, kamu semua lupa mengambilnya.

Kami tak sempat bertemu raja. Karena jarak yang jauh dan hari sudah mulai malam, kami memutuskan kembali saja. Kami masih harus ke SoE, lalu ke Kupang tempat kami menginap. Perjalanan pulang ini ditandai dengan insiden. Di tengah hutan, dengan jalanan yang sangat buruk (kering, bergelombang penuh batu-batu kapur besar), ban belakang kiri mobil kami meletus. Kami langsung teringat dengan sirih yang tidak kami ambil. Kami pikir, ini pasti hukuman atas kekurangajaran kami. Untunglah, dengan diberi cahaya dari monitor telepon genggam (yang tak berguna karena nyaris tak ada sinyal), sopir bisa mengganti ban pecah dengan ban cadangan. Kami pun melanjutkan perjalanan.

Malam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika kami sampai di SoE. Setelah makan malam, kami melanjutkan perjalanan ke Kupang. Di tengah perjalanan, lagi-lagi di tengah hutan tanpa rumah, meskipun kali ini jalanan mulus, ban kanan belakang kembali meletus. Kami benar-benar teringat kembali dengan insiden sirih. Kali ini, dalam hati saya benar-benar meminta maaf kepada orang-orang Boti atas ketidakramahan kami yang tak beradab ini. Kami terlunta-lunta sekitar dua jam, menunggu mobil pengganti dari perusahaan rental mobil yang akhirnya berhasil kami hubungi. Hampir jam dua malam kami tiba di hotel di Kupang.

Selain Amarasi dan Boti, kunjungan lain yang mengasyikan adalah kunjungan ke Pulau Semau. Dari pelabuhan di Kupang, pulau itu bisa ditempuh hanya dalam setengah jam mempergunakan perahu motor. Sangat jelas, warga Kupang sendiri tampaknya jarang pergi ke sana. Jika ada, kemungkinan warga Kupang yang memang bekerja di sana, atau penduduk Semau yang telah tinggal di Kupang.

Pulau itu besar sekali (meliputi dua kecamatan, yang saya rasa lebih luas daripada kebanyakan kecamatan di Jawa), tapi dengan penduduk yang sedikit. Tak banyak yang dilakukan penduduk pulau itu: hanya bertani di kebun, dan rumput laut di pantai. Bisa dibilang tak ada bisnis. Bahkan warung makan pun tak ada. Untunglah jalan sudah bisa dianggap baik (meskipun sebagian besar merupakan jalan beralas batu kapur), dengan ojek motor merupakan alat transportasi utama. Seorang pengemudi ojek bilang, hanya ada enam mobil di sana: dua mobil dinas milik kedua camat, dua truk, dan dua pick-up. Membawa mobil menyeberangi laut dengan dua perahu yang digandeng juga bukan perkara mudah. Selama di pulau itu, kami menyewa salah satu dari pick-up tersebut.

Meskipun pulau ini tampak kering (terutama karena kami datang di musim kemarau yang panjang), sebenarnya tanah pulau ini sangat subur. Tanahnya memang didominasi batuan kapur, dan air bersih merupakan masalah yang nyata, tapi pulau ini terkenal dengan buah mangga-nya yang manis. Di perjalanan, di ladang-ladang penduduk, kami melihat pohon-pohon mangga berbuah lebat. Kami juga disuguhi buang semangka, yang kami makan nyaris berebutan. Saya bukan penggemar semangka. Bagi saya, memakan buah semangka serasa tidak memakan buah: lebih seperti minum air. Tapi di Semau, semangka terasa kering. Dan ketika digigit, karena kadar airnya lebih sedikit, lebih terasa rasa buahnya yang manis. Teksturnya terasa di lidah. Saya rasa, saya bisa menghabiskan satu buah semangka seorang diri saking enaknya. Semau juga terkenal dengan madu alamnya, yang teksturnya lebih kasar.

Jika menginginkan sebuah tempat yang hening, out of nowhere, barangkali berkunjung ke Pulau Semau merupakan pilihan yang tepat. Jangan berharap ada penginapan atau minimarket. Kantor polisi pun belum ada. Tapi warga sini sangat ramah, dan barangkali bisa memberi Anda tumpangan untuk menginap. Dan dari satu rumah ke rumah lainnya, terbentang jalanan sepi dan ladang-ladang. Dari kampung satu ke kampung lain, terbentang jalanan sepi di tengah hutan dan belukar semak. Bagi orang kota barangkali berjalan seorang diri di kesepian semacam itu menakutkan. Saya bertanya kepada Pak Camat Semau Selatan, bagaimana catatan kriminalitas di pulau tersebut. Ia bilang, “Bisa dibilang nol.” Itulah kenapa polisi tak banyak berkeliaran.

Saya sangat berharap yang terbaik untuk pulau yang menawan dan penduduknya yang baik hati. Yang senyum orang-orangnya penuh warna merah sirih dan kapur, yang mengingatkan saya kepada nenek saya. Kembali ke Jakarta, itu salah satu pulau yang barangkali akan sering saya rindukan.

2 comments on “NTT: Perjalanan ke Amarasi, Boti, dan Pulau Semau

  1. F. Daus AR says:

    JIka ada waktu sempatkan juga Ke Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Ada banyak pulau dan kawasan karst terbesar kedua setelah China. Ada juga komunitas Bissu, penjaga warisan dan penutur epok Lagaligo

  2. TaTa Surya says:

    fotoooooooo

Comments are closed.