Novel dan Psikologi

Lelaki tua itu sudah genap delapan puluh empat hari tak memperoleh ikan. Kita tahu itu merupakan pembukaan kisah Lelaki Tua dan Laut Ernest Hemingway. Kita juga tahu lelaki tua itu kemudian membuktikan dirinya masih nelayan yang boleh diperhitungkan. Setelah berhari-hari melaut, ia akhirnya berhasil mengalahkan seekor ikan marlin besar.

Novel itu sering dirujuk sebagai novel eksistensialis paling berhasil. Pembuktian bahwa manusia mampu mengalahkan alam. Saya tak akan memperdebatkan hal itu. “Mereka mengalahkanku, Manolin,” kata lelaki tua itu. “Mereka benar-benar mengalahkanku.” Akhir dari kisah itu sesungguhnya tak hanya bahwa si lelaki mengalahkan marlin besar.

Marlin itu sepanjang jalan pulang digerogoti ikan-ikan hiu. Akhir cerita sesungguhnya adalah: nampak sebujur tulang punggung yang putih panjang dan besar yang berujung ekor yang lebar yang terangkat dan bergoyang oleh air pasang …

Dengan kata lain, ia tetap membawa kerangka ikan itu ke pantai. Ia ingin memamerkan kepada orang-orang apa yang telah dibuktikannya. Dengan kata lain, ini sesungguhnya kisah tentang psikologi manusia. Sebuah novel psikologi. Saya selalu berpikir bahwa setiap novel, yang berarti kisah tentang manusia, selalu merupakan kisah mengenai psikologi manusia.

Novel-novel yang berhasil adalah novel yang selalu gigih menemukan cara menggambarkannya. Novel yang buruk tak menggambarkan apa pun, bahkan meskipun psikologi menjadi subyeknya. Tapi bagaimana sesuatu yang bersemayam jauh di dalam diri manusia, sesuatu yang barangkali abstrak, bisa diungkapkan?

Dalam filsafat, psikoanalisa merupakan aliran psikologi yang dengan cara analisa bawah sadar mencoba mengeluarkan yang di dalam itu menjadi sesuatu yang terdefinisikan dan terjelaskan. Di dalam sastra, kehendak mengeluarkan yang di dalam melahirkan begitu banyak aliran pengungkapan, yang pada akhirnya juga cara pandang terhadap hidup ini sendiri.

***

Pada masa-masa tertentu, monolog interior pernah menjadi suatu trend dalam mengungkapkan bagian dalam manusia. Pikiran, hasrat, lanturan. Kita tahu bahwa kegilaan, atau penyimpangan dari sudut pandang psikologi kebanyakan, juga buah dari pikiran, hasrat dan lanturan ini, yang bentuk dasarnya selalu bersifat nomena.

Ini kategori Kant untuk menyebut hal yang adanya di dalam segala sesuatu, tak terindera. Apa yang kita ketahui mengenai psikologi seseorang, saya pikir selalu bersifat fenomena. Sesuatu yang kita tahu dari penampakannya. Misalnya, kita tahu seseorang dianggap gila karena berkeliaran di jalanan dengan pakaian lusuh, nyaris telanjang, bicara dan tertawa sendiri.

Para penulis cenderung tak merasa puas dengan gambaran umum semacam itu. Selalu ada keinginan untuk masuk ke dalam dan mengeluarkan apa yang ada di dalam untuk pembaca. Demikianlah monolog interior berarti membiarkan orang gila bicara tentang kegilaannya.

Tentu saja kasus psikologi tak melulu kegilaan. Orang waras pun, jika di dunia ini ada orang yang betul-betul waras, tentu memiliki masalah psikologinya sendiri, dan jika ia mengungkapkan itu dengan bahasanya sendiri, kita menamakannya monolog interior.

Dalam hal ini, Milan Kundera, dalam Seni Novel percaya psikologi dalam novel lahir lebih belakangan. Ia menunjukkan bahwa dalam novel-novel awal Eropa, psikologi tidak muncul. Yang ada adalah aksi dan petualangan. Kemudian muncul penulis seperti Richardson yang mencoba menulis novel mengenai kehidupan “dalam” manusia.

Penerus-penerusnya yang paling berhasil bisa disebut: Goethe, Proust sampai Joyce.

Aku orang sakit … aku seorang yang terkutuk. Lelaki yang tak menarik. Hatiku sakit. Sebenarnya, aku tak tahu apa-apa mengenai sakitku, dan tak yakin apa yang menyebabkan sakit.

Itu merupakan bagian pembuka yang cukup populer dari Catatan dari Bawah Tanah Fyodor Dostoyevsky. Si tokoh yang “sakit” mengungkapkan bagian dalam dirinya sendiri. Itu merupakan monolog interior. Meskipun selalu ada kesan ia bicara kepada seseorang yang lain, katakanlah pembaca, sesungguhnya ia sedang bicara kepada dirinya sendiri.

Bagian akhir dari Ulysses James Joyce merupakan monolog interior yang menggambarkan dunia “dalam” pikiran Bloom, si tokoh, untuk menyebut contoh lain. Monolog interior menjadi sangat populer, terutama dalam novel-novel psikologis, dimana plotnya memang mengikuti apa yang biasa kita sebut sebagai arus-kesadaran.

Cerita tidak digambarkan melalui aksi dan petualangan secara fisik, tetapi justru apa yang bermain di “dalam”. Tapi pertanyaan pokoknya adalah, apakah dengan membiarkan si sakit bicara mengenai sakitnya sendiri, penulis sungguh-sungguh berhasil mengeluarkan apa yang ada di “dalam”?

Benarkah nomena berhasil dikuak? Benarkah bagian dalam itu bisa ditangkap? “Tidak pernah,” kata Milan Kundera.

***

Ketidakpercayaan bahwa sesuatu yang ada di “dalam” bisa dikeluarkan, membuat kita menoleh kembali kepada fenomena. Apa yang kita ketahui mengenai psikologi, bagian dalam manusia, pada dasarnya apa yang kita ketahui melalui fenomena yang bisa diindera. Demikianlah, banyak penulis kembali kepada aksi dan petualangan, justru untuk memperlihatkan psikologi manusia.

Bagian dalam yang abstrak, mesti digambarkan melalui apa yang tampak. Dalam hal ini, penulispenulis tersebut percaya bahwa tindakan-tindakan manusia yang tampak, sesungguhnya didorong oleh bagian manusia yang tak tampak.

Hemingway, saya pikir, merupakan sosok paling ekstrem dalam pendekatan ini. Seperti contoh di awal tulisan ini, juga di sebagian besar novel-novelnya, dan terutama paling nyata di cerita-cerita pendeknya, Hemingway hanya percaya kepada apa yang sungguh-sungguh bisa tertangkap indera.

Membaca karya-karya Hemingway, bagi saya serupa melihat film. Kita tahu, di layar, apa pun yang ada di dalam manusia, harus bisa dimunculkan menjadi sesuatu yang tampak. Kesedihan dan kebahagiaan, harus tergambarkan melalui mimik muka maupun gerak tubuh. Begitulah kurang-lebih Hemingway.

Tapi meskipun apa yang digambarkannya melulu “tindakan-tindakan”, sekali lagi, bagi saya ia sesungguhnya berkisah tentang bagian dalam itu. Dengan cara yang berbeda, tapi saya pikir lebih sadar, adalah William Faulkner. Dalam novelnovel Faulkner, kita bertemu kisah yang mencoba masuk dan keluar diri manusia, melalui narasi pencerita.

Faulkner tak membatasi diri dengan tindakan- tindakan, tapi juga membiarkan naratornya melantur. Sejenis monolog interior, tapi tidak diucapkan tokohnya, melainkan diucapkan oleh naratornya. Di dalam novelnya yang paling inovatif, Saat Aku Telentang Mati, kita melihat para tokohnya bicara sendiri-sendiri. Bahkan si orang mati, Nyonya Bundren, juga bicara.

Tidak dalam monolog interior, saya pikir, tapi justru sebagai narator mengisahkan yang lainnya. Demikianlah, watak-watak dalam novel Faulkner dimunculkan. Tidak masuk ke dalam, tapi dengan mengisahkan apa yang terjadi.

Dalam Saat Aku Telentang Mati, kita menemukan sepanjang novel, watak-watak anak yang ditinggalkan, juga suami, dan bahkan para tetangga. Ini sepenuhnya novel psikologis. Watak yang muncul, dipicu oleh kematian Nyonya Bundren. Hal begini, dengan teknik yang berbeda sebab Faulkner tampak sebagai penulis yang keranjingan teknik, juga muncul dalam novel-novelnya yang lain.

Saya ingin mengambil satu contoh, Absalom, Absalom. Novel ini secara singkat berkisah mengenai Thomas Sutpen, seorang kulit putih, tuan tanah di Selatan, yang membiarkan anak perempuannya menikah dengan anak lelakinya.

Kegilaan itu terjadi hanya karena ia tak mau mengakui anak lelakinya, yang ternyata memiliki sedikit darah Negro (karena tidak mengakui sebagai anak, dengan sendirinya mereka “sah” menikah). Ini novel psikologis.

Tapi dalam Faulkner, kita tidak menemukan kisah mengenai yang “psikologis” itu, sebagaimana dalam Hemingway. Yang kita temukan adalah, apa yang terjadi disebabkan yang “psikologis” itu (membiarkan kedua anaknya melakukan perkawinan sedarah), dan apa yang menyebabkan yang “psikologis” tersebut (perang saudara, perbudakan).

Bagian dalam manusia dikeluarkan melalui kisah.

***

Ketika Gregor Samsa terbangun di suatu pagi dari mimpi buruk, ia menemukan dirinya berubah di tempat tidur menjadi seekor serangga besar.

Apa yang bisa kita dapat dari pembukaan, dan keseluruhan cerita, Metamorfosa Franz Kafka yang semacam itu? Bagi saya, itu sejenis mimpi. Mimpi yang maujud ke dalam teks. Ingat, mimpi seringkali menjadi alat yang paling penting, sekaligus paling dipertanyakan sesungguhnya, dalam psikoanalisa. Dalam psikoanalisa, mimpi dipercaya bisa menguak apa yang bersemayam di alam bawah sadar.

Ini cara lain untuk mengeluarkan yang di dalam”. Tentu tidak dengan menceritakan mimpi, tapi justru menjadikan novel sebagai mimpi itu sendiri. Demikianlah saya melihat, Metamorfosa merupakan kisah mengenai ketakutan, tentang kepenatan, tentang beban, tentang depresi, yang muncul dalam sejenis mimpi.

Realisme magis merupakan bentuk sastra kontemporer yang merayakan mimpi ini. Dalam Tumbangnya Seorang Diktator, Gabriel Garcia Marquez tak hanya menguak bawah sadar seorang penguasa, tapi juga sebuah bangsa. Dengan kata lain, psikologi massa. Novel itu tidak ditulis dalam bentuk monolog interor di mana sang diktator mengisahkan dirinya, tidak pula dengan menampilkan fenomena yang tampak, baik dalam bentuk aksi-aksi maupun narasi.

Novel ini, dalam bentuknya sendiri, menyiratkan mimpi yang melantur sendiri. Tapi dengan cara itulah kita mencoba melihat watak tokoh-tokoh yang muncul. Novel ini ditulis dengan kalimat-kalimat panjang yang melelahkan, seolaholah pembaca menghipnotis sang penulis, dan penulis melantur nyaris tanpa pola.

Saya pikir, cara pandang kita terhadap psikologi manusia, secara langsung berpengaruh terhadap cara pandang penulis terhadap novel. Novel, sebagai salah satu bentuk sastra dengan variasi bentuk yang luar biasa, terus berkembang mengikuti cara pandang manusia terhadap dirinya. Novel-novel yang baik selalu merupakan upaya tanpa lelah menembus bagian dalam manusia. Saya ingin menambahkan, novel yang baik juga menyadari sudut pandang cara dia menceritakan dirinya.

Tulisan ini pernah diterbitkan di Ruang Baca, Koran Tempo, 30 Oktober 2005


8 thoughts on “Novel dan Psikologi”

  1. saya selalu menciptakan beberapa watak yang sama saat membuat novel, setiap kalinya, watak itu selalu menjadi misterius dan susah ditebak, mengapa begitu, tapi saya suka melakukan hal demikian, ada sesuatu yang beda!
    terima kasih…

    jingga:
    sebenarnya ini umum sekali di kalangan penulis. watak-watak memilih jalannya sendiri, di luar rencana awal. sebenarnya, menurutku, selama proses penulisan itu sendiri, sang penulis juga ikut berproses. demikianlah karakter berkembang. bukankah novel yang baik selalu memperlihatkan perkembangan karakter tokoh-tokohnya? sebab di dunia ini, bisa dipastikan, tak ada karakter yang statis. sebab dunia berubah, bukan?
    (eka)

  2. dinamika perjalanan jiwa manusia selalu menarik,apapun yg dialami jiwa itu. novel yg mampu melukiskan dinamika akan mempunyai nilai sendiri sehinggapenikmat novel dapat berkata”itulah juga yg kualami…”

  3. iya. tapi apakah stream of consciousness itu selalu berhasil dalam novel? woolf mungkin termasuk yang menyenangkan ya untuk dibaca berulang kali.

  4. ayya:
    “stream if consciousness” kan hanya teknis, soal keberhasilannya tentu saja berada di tangan penulis (dan pembaca). buat saya pribadi, hanya segelintir penulis yang saya pikir berhasil melakukannya (paling tidak berhasil membuat saya suka): Dostoyevsky, Hamsun, Faulkner. Di kebanyakan penulis yang mentah, teknis ini seringkali malah menjadi lanturan yang tak jelas juntrungannya, hehehe …
    di tulisanku di atas, saya mencoba sedikit memetakan bagaimana psikologi (yang merupakan inner-bagian dalam manusia), dikeluarkan oleh penulis. salah satunya melalui “stream of consciousness”, tapi tentu masih bisa dicari cara-cara lain, kan?

  5. ayya:
    welcome, ayya.
    oh ya, tulisan di atas tadinya 2 halaman. takut pada kelewat bagian halaman keduanya, sekarang aku span jadi satu halaman.
    novelnya tunggu, ya :]

  6. aq memulai hidupq didalam ilmu psikologi yang kamupun taw tapi menurutq kisah ini membuat aq taw akan hidupq sehari-hari
    menghargai hari-hariq,memulai pagi dengan senyum yang selalu q sembunyikan didalam mata yang seiring berkaca-kaca
    latar belakang hidup yang teramat pedih yang tak semua insan manusia dapat menjalani dan aq taw ini adalah hidupq yang sangat berarti dan semua hanya untuk wanita yang melahirkanq didunia

Comments are closed.