Novel dan Khotbah

Seperti pertunjukan yang buruk, khotbah yang tak menarik (baik cara menyampaikan maupun isinya), sudah pasti membuat orang mengantuk. Tak cuma itu, kadang-kadang bisa bikin geram dan memunculkan keinginan untuk menyumpal mulut pengkhotbahnya dengan daun seledri, seperti dilakukan orang-orang Galia kepada Assurancetaurix di komik Asterix.

Itu juga berlaku dengan khotbah, tentang apa pun di novel-novel yang kita baca. Apa boleh buat. Sebagian besar penulis novel ditakdirkan untuk berkhotbah. Mereka menulis karena merasa ada yang ingin disampaikannya kepada khalayak ramai. Beberapa bahkan merasa ingin menyelamatkan dunia, setidaknya berharap mengubah dunia. Beberapa ingin sesama manusia terbebas dari jurang neraka, yang lain berharap umat manusia hidup lebih bahagia.

Di novel-novel religius, tentu akan bertebaran khotbah tentang pentingnya mencintai Tuhan, mengikuti perintahNya, dan bahwa berbuat dosa itu hanya bikin kamu celaka. Di novel-novel politik, kita diajak untuk menghujat pemerintah dan penguasa yang lalim, dan didorong untuk membela orang-orang lemah. Penulis konon menjadi suara bagi yang tidak bersuara, sedikit terjangkit wabah heroisme ala Batman dari kota Gotham. Penulis-penulis yang sekaligus aktivis, barangkali akan menulis novel-novel penuh khotbah dengan tema-tema yang bisa ditemukan di proposal-proposal Lembaga Swadaya Masyarakat. Kita bisa menemukan banyak khotbah bertebaran di beragam genre novel.

Bahkan di novel seperti Moby Dick, yang dianggap sebagai novel terbesar yang pernah dihasilkan Amerika, jika bukan salah satu yang terbaik di dunia, ada satu bab berjudul “The Sermon”. Ya, seperti judul babnya, tentu saja isinya juga khotbah yang diberikan oleh seorang pendeta kepada segerombolan pelaut pemburu paus. Untungnya khotbah Father Mapple (begitulah nama tokoh pendeta tersebut), bicara tentang Jonah yang dimakan hidup-hidup oleh paus raksasa dan apa makna peristiwa tersebut. Bab khotbah itu jadi semacam jendela kecil untuk melihat kisah novel ini secara keseluruhan.

Dalam kesusastraan Indonesia, saya rasa mengenai hal ini kita tak akan pernah melupakan novel Sutan Takdir Alisjahbana, Grotta Azzura. Kurang-lebih isinya penuh dengan khotbah gagasan mengenai politik, kebudayaan, bahkan seks, yang diutarakan melalui percakapan tokoh-tokohnya. A Teeuw bahkan merasa perlu berkomentar mengenai novel ini sebagai, “Terlalu dikuasai perfilsafatan kebudayaan.” Saya rasa bukan sifat kebanyakan orang untuk senang dikhotbahi, meskipun tampaknya banyak yang gemar berkhotbah. Senang memberi kuliah, tak gemar dikuliahi.

Saya punya contoh lain yang menarik: novel-novel silat Asmaraman S. Kho Ping Hoo. Siapa pun penggemar cerita-cerita silat gubahannya, dalam benak kita pasti terbentuk dua hal yang selalu muncul dalam karya-karyanya. Yang pertama, tentu kisah-kisah petualangan para pendekar dengan selipan bumbu romantis yang mengasyikkan. Yang kedua, saya sering tak tahan dan sering melewatkannya, bagian petatah-petitih penuh nasihat tentang moral, tentang kebaikan melawan kejahatan. Ya, itu bagian khotbahnya, yang bisa berhalaman-halaman, diselipkan kadang-kadang di antara pertarungan dua pendekar yang seru. Bahkan penulis cerita silat seperti Kho Ping Hoo pun seperti tak bisa menahan diri untuk tidak berkhotbah secara blak-blakan.

Apakah salah berkhotbah melalui novel? Tentu saja tak ada yang melarangnya, sebagaimana tak ada yang merumuskan bahwa itu salah atau benar. Kenyataannya, sekali lagi, penulis menuliskan sesuatu tentu dengan asumsi ada yang ingin disampaikan kepada orang lain. Setiap penulis memiliki pendapat tentang apa yang sebaiknya dan apa yang tidak sebaiknya. Langsung atau tak langsung, novel merupakan sarana untuk berkhotbah. Bisa juga kita sebut sebagai propaganda.

Mengenai persoalan ini, George Orwell dalam esai “Why I Write” pernah menulis mengenai empat motif utama kenapa seseorang menulis, salah satunya motif “tujuan politis”. “Hasrat untuk mendorong dunia menuju satu tujuan tertentu, untuk mengubah gagasan orang lain mengenai jenis masyarakat yang seharusnya mereka perjuangkan,” tulisnya. Orwell yakin tak ada satu pun buku yang benar-benar bebas dari bias politis. Gagasan bahwa seni seharusnya terpisah dari politik merupakan sikap politis sendiri. Dengan kata lain, tak ada buku yang tidak bersifat khotbah/propaganda. Bahkan mencoba untuk tidak berkhotbah/berpropaganda merupakan strategi berkhotbah dan berpropaganda tersendiri.

Pokok soalnya, bagaimana membuat khotbah ini tak menggiring orang untuk malah menguap dan tertidur, tentu saja. Membuat orang ingin menyumpalkan seledri ke mulut pengkhotbah (atau ke mulut penulis) barangkali jauh lebih baik daripada membuatnya tertidur, sebab kemarahan seperti itu paling tidak membuktikan bahwa ia mendengar khotbahnya dan mungkin terganggu.

Jika saya tak salah, penulis revolusioner Tiongkok, Lu Hsun bilang bahwa propaganda yang baik adalah propaganda yang tak terlihat seperti propaganda. Berkhotbah tanpa orang sadar sedang dikhotbahi. Dan mengenai propaganda dalam sastra, menurutnya sastra menjadi alat propaganda yang paling baik justru ketika ia tampil sebagai sastra.

Dengan asumsi seperti itu, tentu saja karya-karya yang hebat (maupun yang tidak hebat), selalu tengah berkhotbah kepada kita. Beberapa di antaranya barangkali sukses merasuki kepala kita tanpa disadari. Saya ingat pernah keluar dari sekolah (dan kemudian dikeluarkan), selain karena rasa bosan kepada sekolah, juga karena terpengaruh novel seperti Balada Si Roy dan novel-novel Dr. Karl May. Dalam hal ini, bukankah mereka berhasil mengkhotbahkan kepada saya tentang hebatnya menjadi petualang, tentang hidup mengembara, dan kebebasan, tanpa harus penuh petatah-petitih nasihat dan provokasi?

Knut Hamsun lebih hebat lagi. Ia menulis novel tentang penulis yang gagal, dan ketika membacanya, saya malah ingin menjadi penulis, dan mati-matian menjadi penulis sampai hari ini. Atau bisa jadi dia gagal total. Mungkin melalui novel itu, Lapar, ia ingin memengaruhi kita agar, “Sebaiknya kalian tak usah menjadi penulis. Sudah susah, juga bisa kelaparan.” Nyatanya malah bikin orang ingin menjadi penulis.

Sekali lagi khotbah atau propaganda tidak melulu menyangkut aspek moral atau politik secara langsung. Hidup terlalu luas jika kita menyempitkannya hanya pada hal-hal semacam itu. Lihat misalnya, novel-novel Jane Austin barangkali jauh lebih berhasil membentuk pikiran umat manusia tentang bagaimana membangun hubungan lelaki-perempuan dibandingkan khotbah para penasihat pernikahan. Juga novel-novel Stephen King atau Anne Rice barangkali membuat orang takut pada hal gaib dan menjadi lebih relijius daripada yang bisa dilakukan para guru mengaji. Siapa tahu?

Membaca novel, pada akhirnya sama seperti masuk ke ruangan dan siap mendengarkan khotbah. Ada yang menarik dan ada yang bikin kita lelap. Menulis novel, ujung-ujungnya sama seperti kita naik ke mimbar dan bersiap menyampaikan khotbah, hanya saja mediumnya berbeda. Menulis novel, sebagaimana berkhotbah, tak melulu soal apa yang ingin kita sampaikan, apakah gagasan kita besar atau kecil. Di luar itu, kita juga berhadapan dengan persoalan apakah gagasan kita bisa tersampaikan dengan baik. Setelah itu, persoalan berikutnya, apakah gagasan kita bisa diterima atau tidak.

Saya memikirkan hal ini tak lama setelah menonton film Senyap (dan jauh sebelumnya film Jagal) karya Joshua Oppenheimer. Di negeri yang selama puluhan tahun hidup dalam gempuran propaganda pemerintah mengenai banyak hal dan terus berlangsung, seni (sebagaimana film dan novel), bisa melakukan hal ini: mempertanyakan apa yang lama kita anggap benar. Melakukan kontra-propaganda. Diam-diam maupun terang-terangan. Senyap maupun riuh.

Novel (juga seni secara umum) dan khotbah, saya rasa membuktikan bahwa peradaban kita masih berjalan baik. Bahwa kita, manusia, masih terus berbagi gagasan satu sama lain. Bahwa suara umum dan mayoritas tak selalu benar dan kita membutuhkan suara-suara kecil yang lain dan berbeda. Tak peduli kadang-kadang itu membuat kita menguap dan lain kali membuat kita ingin menyumpalkan seledri ke mulut pengkhotbahnya.

Pertama kali diterbitkan oleh Jawa Pos, 11 Januari 2015