Nonton Sandiwara Sunda Miss Tjitjih

Sudah lama mendengar reputasi Sandiwara Miss Tjitjih, saya belum kesampaian menonton pertunjukan mereka. Alasan terbesar barangkali rasa malas yang keterlaluan. Maka ketika saya dengar kelompok ini akan membuka Festival Teater Jakarta di TIM, saya memutuskan untuk menonton. Tak peduli di malam yang sama tim sepakbola Indonesia bermain di Senayan. Saya akan menonton Miss Tjitjih, meskipun itu di luar kandang mereka (mereka punya gedung sendiri: Gedung Kesenian Sunda Miss Tjitjih, Cempaka Baru Timur, Jakarta Pusat).

Nama kelompok ini berasal dari pendirinya, Miss Tjitjih, aktor sandiwara terkenal di tahun 30an (yup, zaman kolonial!). Ia meninggal muda, tapi kelompoknya tetap bertahan. Bahkan sampai hari ini! Menonton sandiwara mereka dengan cepat mengingatkan masa kecil saya. Umur belasan, di Pangandaran, saya masih sering menonton sandiwara Sunda macam begitu, di gedung pertunjukan yang sering disebut “tobong”.

Malam ini, Miss Tjitjih membawakan lakon “Beranak di Dalam Kubur”. Konon ini tipikal lakon yang digemari: horor yang bercampur dengan komedi. Sebenarnya ini bukan sandiwara utuh. Pertunjukan sekitar setengah jam ini, terdiri dari dua babak, lebih bisa disebut sebagai fragmen. Maklum ini hanyalah pembukaan festival teater, dan barangkali tujuannya untuk memperkenalkan kembali Miss Tjitjih.

Tapi bahkan dengan pertunjukan yang singkat, Miss Tjitjih berhasil memberi kesan mendalam. Tentu di luar nostalgia saya atas sandiwara Sunda di masa kanak-kanak saya. Sentuhan modern dan tradisional di panggung mereka begitu menakjubkan. Saya terpukau oleh aksi setan perempuan yang melayang di atas penonton, meskipun sejak awal saya tahu bakal ada adegan itu (ya, saya lihat ada kawat menjuntai ketika lampu masih menyala). Yang cukup mengagumkan, mereka bisa menyajikan cerita utuh hanya dalam dua babak, dengan bantuan dialog untuk referensi ke latar-belakang cerita.

Saya tak bisa ngobrol lebih banyak lagi mengenai Miss Tjitjih. Untuk sejarahnya, baik sebagai aktor maupun sebagai kelompok sandiwara, mudah untuk dicari di internet. Saya yang tak banyak tahu tak perlu menuliskannya di sini. Tapi pertunjukan ini barangkali berhasil dalam tujuannya, paling tidak untuk saya: saya jadi ingin nonton lagi sandiwara mereka. Tentu saja lain hari harus di kandang mereka: Gedung Kesenian Sunda Miss Tjitjih. Sandiwara Sunda mungkin sudah mati di tanah Sunda sendiri (di daerah saya, saya sudah tak bisa melihat sandiwara Sunda sejak SMP karena tobongnya pun sudah rubuh); tapi di sini, di Jakarta, syukurlah masih bisa menikmatinya. Sesuatu yang boleh bikin iri orang Sunda di daerahnya sendiri.

One comment on “Nonton Sandiwara Sunda Miss Tjitjih

  1. Vira C says:

    Saya yang tak banyak tahu tak perlu menuliskannya di sini. –> kalimat ini menohok untuk siapa pun yang ingin menulis..

Comments are closed.