Negara Merampas Hak Pilih Saya

Awalnya saya malas mengomentari Pemilihan Umum 2009 kali ini, tapi setelah berpikir-pikir, mungkin ada bagusnya saya mencatat kekesalan saya. Paling tidak, untuk mengingatkan saya bahwa hal ini pernah terjadi. Sejak saya memperoleh hak pilih saya, untuk kali pertama, saya tak memperoleh hak itu.

Saya merupakan warga negara yang baik. Saya belum pernah dihukum karena tindakan kriminal. Penghasilan saya dipotong pajak. Umur saya lebih dari cukup. Saya juga memiliki Kartu Tanda Penduduk yang sah. Tapi entah kenapa, negara tiba-tiba menghilangkan nama saya dari Daftar Pemilih Tetap yang berhak memilih wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat.

Lebih dari itu, ini tidak hanya menimpa saya. Kompas menulis: Hak Pilih Warga Dilanggar Secara Masif. Bisa dibilang, ini Pemilu paling kacau jika tidak bisa diilang Pemilu paling bejat dikarenakan kriminalitas yang dilakukan oleh Negara. Kriminal? Merampas hak dasar warga negara, yakni hak untuk memilih wakilnya di pemerintahan, bukankah tindakan kriminal? Dan ini dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum, yang merupakan alat Negara?

Ketika saya menelepon ke rumah dan kepada adik saya bertanya, “Hey, apakah namaku ada di daftar Pemilih?” dan adik saya menjawab, “Tidak ada.”, saya merasa seperti kekasih yang diputus cinta. Seperti pegawai yang diputus kerja.

Sejujurnya, meski saya tidak terlalu suka dengan kecenderungan pemerintah SBY-JK yang terlalu neo-liberal, saya masih menganggapnya cukup baik dibandingkan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Saya menganggapnya lebih baik dari pemerintahan Megawati. Saya tak menghitung pemerintahan Gus Dur dan Habibie yang singkat (tapi saya sangat mengapresiasi apa yang sudah mereka lakukan di waktu singkat: referendum Timor Timur, pengakuan Konghucu sebagai agama resmi, dan penghilangan diskriminasi bagi warga keturunan China). Dan tentu saya menganggapnya lebih baik dari Orde Baru (saya tak punya pengalaman dengan Orde Lama).

Di luar pengakuan itu, mereka merusaknya dengan penyelenggaraan Pemilu yang buruk. Dalam hal pemberian hak memilih kepada warga negara, saya pikir malah lebih buruk daripada Orde Baru (saya dua kali memperoleh hak pilih di masa Soeharto).

Tiba-tiba saya merasa, setelah sebelas tahun Reformasi, bayangan saya bahwa kehidupan politik negara ini perlahan (ya, sangat perlahan) mulai membaik, ternyata mungkin hanya ilusi. Jangan ditanya mengenai kelakukan anggota Dewan yang tidur saat sidang, merampok uang negara, main perempuan, rapat maunya di hotel. Mungkin memang tidak ada kemajuan berarti?

Dengan alasan-alasan semacam itu, pada dasarnya mungkin jika memperoleh hak pilih, saya tak akan mempergunakannya. Meskipun begitu, bukan berarti saya harus kehilangan hak memilih, kan? Saya kan tak bisa memilih seseorang, atau sekelompok orang (partai politik) yang saya tahu sejak awal, tak akan memperjuangkan aspirasi-aspirasi saya? Memangnya partai mana yang akan memperjuangkan nasionalisasi pertambangan? Memangnya partai mana yang akan memperjuangkan pembatasan hak milik atas tanah? Memangnya partai mana yang akan memperjuangkan pajak progresif? Mereka ribut mengenai pendidikan dan kesehatan gratis, tapi tak pernah menjelaskan darimana mereka memperoleh uang untuk mewujudkan itu? Bagaimana saya bisa percaya jika mereka saja tidak bisa membuat hitungan rinci alokasi anggaran belanja yang direncanakan?

Bagaimanapun, Pemilu tak perlu diulang. Terlalu besar ongkosnya. Saya hanya berharap kembali memperoleh hak pilih saya (terlepas saya mempergunakan hak itu atau tidak) dalam pemilihan presiden. Demokrat yang secara (menurut saya tidak) mengejutkan memperoleh 20% lebih suara, memenangi partai lain, sudah pasti akan kembali mencalonkan SBY. Saya tak akan memilih dia. Partai lain yang mungkin mengajukan calon presiden hanya Golkar dan PDIP. Jika Golkar mencalonkan JK, saya juga tak akan memilih dia. Jika PDIP mencalonkan Megawati, saya juga tak akan memilih dia.

Tapi saya tetap mencintai negara ini. Viva Indonesia.

15 comments on “Negara Merampas Hak Pilih Saya

  1. tukangtidur says:

    asik, komentar pertama.
    sama mas Eka, saya juga ga terdaftar dalam pemilu kali ini (meski kalo pun dapet saya nggak akan menggunakannya). kayaknya daftar pemilih kali ini pencatatannya dari pemilu yang dulu deh. Jadi bagi warga yang baru pindah rumah atau semisalnya, dijamin nggak akan terdaftar, deh. (Ya, saya memang baru pindah rumah). Soalnya, kayaknya mereka (pengurus Pemilu) malas untuk mendata lagi dari awal. Jadi pakai yang dulu aja.

    Sebenarnya ini adalah sebuah ironi. Sebab, sebelumnya ada wacana bahwa GOLPUT itu haram (fatwa paling aneh sepanjang masa), eh tapi kenyataannya malah kita dipaksa untuk golput. Golput yang disebabkan masalah administratif.

    Tapi, ya sudahlah, pemilu telah berlangsung, pemenang telah ditentukan, dan sekarang tunggu apa yang akan terjadi lagi di masa yang akan datang.

    wassalam,

    rex si tukangtidur

    1. ekakurniawan says:

      @tukangtidur
      kayaknya, masalahnya justru mereka tidak memakai data sebelumnya. pemilu dan pilda sebelumnya nama saya tercatat sebagai pemilih, dan saya juga tak pernah pindah alamat. kasus yang sama juga terjadi pada mertua saya yang bertahun2 tinggal di tempat yang sama, kok tiba-tiba namanya hilang? jika kita baca koran, KPU sekarang tidak memakai data KPU sebelumnya, tapi malah minta dari Depdagri, yang sepertinya memiliki data yang lebih kacau (tapi tetap mengherankan, bukankah yang mengeluarkan kartu tanda penduduk adalah Depdagri?)

  2. mencintai negara? wah romantis pisan yah…saya terdaftar tapi gak menggunkana hak pilih saya. Saya benci negara ini, benci setengah mati.

  3. deni oktora says:

    @ aris kurniawan : BETUL BANGET !!!

  4. waraney says:

    Eka, link tulisan ini aku share ke teman-teman di Twitter ya. Thanks!

    Ney

  5. Eko says:

    Eh jangan bawa2 Liberal yah,u dont know what ur talking about.

    1. ekakurniawan says:

      @eko
      I studied philosophy at gadjah mada university, and my major is western philosophy. So, I am really sure that I know when I’m talking about “neo-liberal”ism. do you want to say that SBY is standing for socialism? c’mon, he is not.

  6. aDeLiNa says:

    Alhamdulillaah saya mendapatkan hak saya, Mas. Persis sama seperti yang Mas Eka lakukan, sehari sebelum hari H saya menelepon adik saya di rumah menanyakan apakah saya dapat surat suara, dan betapa senang serta bersuka cita hati saya setelah saya tahu saya bisa menggunakan hak pilih saya. Jujur, saya juga sangat prihatin dengan pemilu tahun ini, tapi saya setuju banget sama Mas Eka bahwa pemilu tdk usah diulang, sayang uang kita…Lebih baik dipakai utk yang lebih jelas dan bermanfaat. Ciayo Mas… Mudah2an nama kita ada di daftar pemilih presiden nanti ya.

  7. darmanto says:

    Bahwa sesungguhnya, menjadi “bukan siapa-siapa'” bukanlah merupakan pengalaman yang terlalu asing dan seringkali menguntungkan. Contohnya, berdiri sampai pegal-pegal di Gramedia, baca beberapa buku sampai habis…gratis-tis-tis. Modalnya hanya muka setebal kulit pohon pinus dan kaki-kaki yang sanggup berdiri berjam-jam. tak ada yang peduli. Paling hanya Pak Satpam yang terkadang melintas dan sinar matanya seakan berkata: ‘Mbok ya bukunya dibeli, Mas. Emangnya perpus??” He-he-he…

    tetapi untuk urusan pemilu yang pilu ini, pengabaian hak sipil dan politik seperti ini sangat K-E-T-E-R-L-A-L-U-A-N. Benar-benar keterlaluan. saya juga tak terdaftar sebagai pemilih, dan konsekuensinya jelas-jelas tak bisa memilih. Sebagaimana jutaan orang biasa yang di-golput-kan di negeri ini, saya bukanlah tahanan politik atau eks tahanan politik yang hak-hak sipil dan politiknya diabaikan oleh negara secara sistematis (seperti di rezim yang “katanya” sudah tumbang itu).

    saya tak tahu harus memaki siapa lagi, sebab kalau ditelusur ada banyak pihak (bukan hanya KPU) yang berperan dan harus bertanggung-jawab dalam dagelan politik ini. Pemilu ini memang kaco kali pun (kata orang medan)

    saya hanya ingin katakan, dalam pemilu kali ini, menjadi “bukan siapa-siapa” terasa sungguh menyakitkan. itu berarti, orang-orang seperti saya yang dipaksa golput dianggap tidak ada. Suaranya tak perlu didengar. Tidak eksis di negara ini. lalu apa? hantu??? Hiihhh…tatut. hehehe

    Salam Hormat Mas Eka, terimakasih untuk kesempatan ikut menuangkan uneg-uneg ini.

  8. setiawan says:

    pa kabar sobat…….!

  9. neeena says:

    to Darmanto:
    menjadi hantu kyaknya lebih asyik tuh dr pada masuk DPT tapi ga tau pilih sapa secara semua mengklaim klo meraka yg paling oke?

    Pemilu emang seru…banyak pandangan dari berbagai pandangan!! Free will !!! Free interpretation!!!!

  10. johan konco says:

    aku setuju dengan mas eka, pemilu kali ini bejat. tapi perlu ditambahkan, pemerintahan sekarang tidak lebih baik bahkan sepuluh kali lebih buruk dari pemerintahan soeharto. buruk mungkin kata yang terlalu halus, jahat lebih pas.

    yang paling aku benci lagi adalah presiden yang sekarang terlalu banyak omong. pertunjukan ‘aku pintar ngomong jadi pilih aku jadi presiden selanjutnya’ itu disiarkan beberapa minggu yang lalu. semua orang pasti tidak lupa, karena saat itu adalah saat yang tepat untuk “AYO CEPAT! GANTI SALURAN TIVINYA KE ACARA YANG LEBIH MENARIK!”

    biar dia berbusa sendirian.

  11. ilhams says:

    Betul bung ,kasian yang cape cape reformasi ,dapet pemilu kaya gini..partai mana sama saja,seperti sales man menjual product murahan di kiranya indonesia barang dagangan,yang kasian rakyat yang jadi korban…semua jadi presiden bukan untuk memajukan bangsa ini,semua cuma ingin kaya dan terkenal,bikin undang undang peraturan nga jelas privatisasi asing?..ini lah kolonialisme gaya baru,kita hanya bisa jadi bangsa kuli di perusahaan perusahaan asing,sumber daya alam kita terus menerus di kuras sampai habis,kita hanya kebagian limbah nya saja,seperti pemulung yang mengais gais sampah ,seperti pengemis yang meminta minta ,tidak ada lagi kata “ini dadaku mana dadamu!” …”di bomb atom hancur lebur bangkit kembali” …ini masa nya “its all about bisnis”..para pemuka agama mengeluarkan fatwa yg tidak masuk akal..mungkin agama mereka kapitalism …dalil di tukar dengan uang dan jabatan?who know….
    cuma satu yang pasti
    “TO REVOLT IN NATURAL TENDENCY OF LIFE.EVEN A WORM TURN AGAINST THE FOOT THAT CRUSHES IT.!”

  12. M Mushthafa says:

    Mas Eka Kurniawan,
    Sudah lama saya mau mengikuti tulisan-tulisan Mas Eka. Dan saya selalu menemukan banyak hal menarik di blog ini – tak hanya soal kepenulisan dan gaya bertutur.
    Mas, saya pamit, mau menautkan blog ini di blog saya.
    Terima kasih.

    M Mushthafa

    1. ekakurniawan says:

      @Mushthafa:
      Silakan.

Comments are closed.