Narasi Hidup Eka Kurniawan

Oleh Linda Christanty

Pengetahuan awalnya tentang fiksi terbangun melalui cerita silat Asmaraman Kho Ping Ho dan cerita horor Abdullah Harahap. Cerita-cerita mereka membuat Eka Kurniawan, yang kelak menjadi sastrawan, mengembara dalam benaknya ke tempat-tempat lain, meninggalkan kota kelahirannya yang beraroma laut, Pangandaran, bahkan ke waktu-waktu lain. “Membaca novel-novel itu membuat aku tiba-tiba terlempar ke daerah yang menyeramkan, ke zaman Mataram atau ke zaman Majapahit,” kenangnya. Ia berterus-terang bahwa kehidupan masa kecilnya agak membosankan, “Pagi berangkat sekolah, pulang main bola atau main di pantai atau berenang.”

Selain membaca novel, Eka juga membaca Hai, majalah remaja yang populer di tahun 1980-an. Ia memuji isi majalah itu, “Kurasa, cerita pendek dan cerita bersambungnya sangat oke.” Ia menyukai karya-karya Hilman, Gola Gong, Arini Suryokusumo dan Zara Zettira, para penulis remaja di masa tersebut. “Saya ingin seperti mereka dan ingin melihat karyaku di majalah itu,” ujarnya. Dari majalah Hai pula ia mengenal karya-karya para sastrawan dunia, seperti Guy de Maupassant, O. Henry, dan Eudora Alice Welty. Tetapi tak satu pun karyanya dimuat Hai. Sejumlah puisinya kemudian terbit di majalah Sahabat, yang sering dibelikan ayahnya. Ia senang, “Satu sekolah tahu.”

Eka pergi dari Pangandaran ketika melanjutkan belajar di SMAN 1 Tasikmalaya. Di sana, ia tinggal dengan bibinya. Di masa ini pula ia mulai menyukai serial petualangan Old Shatterhand karya Karl May dan Balada Si Roy Gola Gong. Ia terinspirasi untuk jadi penulis, karena novel-novel ini. Lebih dari itu, ia ingin bertualang! Selama tiga bulan ia bolos sekolah, berkeliling Pulau Jawa. “Hasilnya, aku dikeluarin dari sekolah,” ujarnya.

Ia pun kembali ke Pangandaran. “Aku nggak pernah suka sekolah,” tuturnya.

Berminggu-minggu di rumah ternyata membosankan. Ia terpaksa menerima tawaran orangtuanya untuk masuk pesantren. Di pesantren ia kembali merasa tertekan, lalu kabur. Akhirnya ia bersekolah di SMA PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). “Sekolah itu sebenarnya nyaris bubar, karena nggak ada siswanya. Meskipun sekolah itu yang bikin guru-guru, tapi yang sekolah di situ murid-murid buangan,” katanya. Di sekolah itu aturan tidak ketat. Bolos satu-dua jam pelajaran tak dipermasalahkan. Bolos tiga hari, hanya dijewer.

Setamat SMA, ia ingin pergi jauh dari rumah. Seorang teman mengajak main musik di Yogyakarta. Ia bersiasat, “Aku bilang ke orangtuaku, aku mau kuliah dan supaya aku nggak kelaparan.“

Dua bulan sebelum tes masuk universitas, ia bingung memilih jurusan dan fakultas untuk ditulis di formulir pendaftaran. Ia lantas teringat kutipan-kutipan kalimat bijak di halaman-halaman buku tulis merek Kiky. Pertimbangannya lugu, “Aku langsung berpikir bahwa jangan-jangan Kahlil Gibran atau siapa-siapa itu filsuf. Aku mau belajar menulis kutipan-kutipan yang bagus gitu ah.”

Ketika ia lulus tes masuk Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, satu sekolahnya gempar. “Karena seumur-umur baru satu orang masuk UGM. Jangankan masuk UGM, yang kuliah aja jarang. Rata-rata yang lulusan situ jadi tukang ojek, jadi tukang foto di pantai,” ujarnya. Sejak itu ia menjadi contoh teladan. Namanya disebut tiap kali kepala sekolah berpidato dalam upacara bendera di hari Senin.

Kuliah di filsafat membuatnya tertekan. Ia harus belajar sejarah filsafat Yunani. Ia harus belajar Logika dan Dasar-Dasar Filsafat. Ia memutuskan bolos kuliah selama setahun dan masuk sekolah desain grafis. Lulus dari sekolah desain membuatnya makin yakin untuk bekerja dan meninggalkan filsafat. Tiba-tiba ia berubah pikiran. Ia menemukan sisi menarik dari filsafat. Sejak itu ia mulai rajin ke perpustakaan dan membaca buku-buku filsafat.

Suatu hari ia menemukan novel Knut Hamsun di antara buku-buku lain di rak perpustakaan, Growth of the Soil. Novel ini mengisahkan seorang pemuda usia 20-an yang masuk hutan untuk membuka permukiman baru di lahan yang disangkanya tak bertuan. “Dia membangun rumah, membeli perabot rumah dan menikahi perempuan yang membantunya. Masalah muncul kemudian. Gereja menganggap mereka belum kawin. Tiba-tiba tanahnya juga mau diambil dan membuat dia jadi terlibat masalah dengan negara. Ini kisah tentang orang yang sebenarnya naïf. Dia merasa telah membuat tanah itu berguna, membangun jalan, tapi negara tiba-tiba mengatakan dia tidak boleh di situ.”

Kelak ia membaca novel Hamsun yang lain, Hunger, yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Yayasan Obor.

Ia menemukan pola dalam novel-novel Hamsun, “Tokoh-tokohnya itu selalu agak keluar dari pakem-pakem kemasyarakatan, agak soliter. Kalau nggak pergi ke hutan, ya di kota, tapi hidup sendiri. Berumur sekitar 20 sampai 30-an, di Hunger seorang calon penulis, di Growth of the Soil meskipun lebih tua, tapi ketika tokoh ini datang ke hutan umurnya juga masih segitu. Dan aku merasa spirit Hamsun adalah spirit kebebasan. Dia juga punya selera humor yang agak gelap dan suka mengejek tokohnya sendiri. Kurasa humor dalam karyaku itu pengaruh dari dia.”

Selain Hamsun, Eka merasa Gabriel Garcia Marquez, Toni Morisson, Yasunari Kawabata dan Cervantes ikut bermakna dalam penciptaan karyanya.

Perkenalannya dengan karya Hamsun membawa Eka pada titik penting, “Aku merasa seperti sudah ada kepastian aku mau jadi penulis.”

Novelnya yang pertama Cantik Itu Luka terbit pada 2002, setelah ia sempat ditolak oleh empat penerbit. Ada tiga tokoh penting dalam novel ini, yakni Dewi Ayu, Shodanco dan Maman Gendeng. Apakah ia mempunyai model untuk sosok rekaannya?

“Dewi Ayu itu nama temanku, meskipun cerita di situ bukan kehidupan dia. Namanya menarik, jadi aku pakai saja. Aku membaca beberapa buku tentang Jugun Ianfu, perempuan-perempuan penghibur untuk tentara Jepang. Salah satu buku punya cerita unik, karena perempuannya adalah Indo-Belanda. Meskipun ceritanya tentang Indonesia, tapi bukan tentang perempuan pribumi. Tokoh Shodanco terinspirasi oleh sosok Supriyadi. Kita ingat tahun 1944 ada pemberontakan PETA pertama kali yang dipimpin Supriyadi di Blitar. Aku membayangkan menulis tentang dia, dengan cara Marquez menulis tentang jenderal Simon Bolivar di The General in His Labyrinth, tokoh Amerika Latin. Selain itu, novel Pramoedya Perburuan, juga tentang satu kompi PETA yang memberontak. Pram juga terinspirasi oleh Supriyadi. Tokoh Maman Gendeng itu awalnya pendekar, kemudian dia gabung dengan tentara republik. Sesudah itu tentara ‘kan dirasionalisasi karena terlalu gemuk. Dia dipecat dan akhirnya jadi preman. Aku menemukan sambungan ke tahun 1980-an, waktu preman-preman jadi sasaran penembak misterius. Jadi sesuatu yang awal tanpa terencana, begitu menulis menjadi berkembang dengan melihat konteks sejarahnya,” jawabnya.

Novel keduanya, Lelaki Harimau, terbit pada 2004. Pemicunya, peristiwa pembunuhan di Pangandaran.

“Pelaku ditahan di kantor polisi, tapi lalu dikepung oleh warga. Polisi sampai ketakutan. Akhirnya tahanan itu disuruh kabur lewat belakang, lalu berhasil dikejar dan dibunuh oleh massa. Tapi aku tambahkan dengan legenda manusia harimau. Seperti aku katakan, aku suka novel-novel horor. Meskipun dalam novelku tidak menjadi cerita horor, tapi psikologis,” ujarnya.

Dua kumpulan cerita pendeknya, Gelak Sedih dan Cinta Tak Ada Mati terbit pada 2005. Bersama Ugoran Prasad dan Intan Paramaditha, ia meluncurkan antologi cerita horor Kumpulan Budak Setan (2010), sebagai penghormatan terhadap penulis cerita horor Abdullah Harahap.

Karya-karyanya juga tak lama lagi bakal menghampiri para pembaca berbagai bahasa. Versi bahasa Jepang dan bahasa Melayu Cantik Itu Luka telah beredar lebih dulu. Pada musim semi 2015, Cantik Itu Luka akan diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh New Directions di Amerika Serikat. Novelnya Lelaki Harimau akan diterbitkan Verso di Inggris dan Sabine Wiesper Editions di Prancis. Kini ia tengah menyelesaikan penulisan tiga novelnya dalam bahasa Indonesia, yang salah satunya beredar pada bulan Maret nanti.

Kami bercakap-cakap di kedai kopi. Udara terasa dingin. Secangkir Espressonya hampir tandas. Eka bercerita tentang putrinya, Kidung Kinanti. Kelahiran Kinan membuat ia ingin menulis cerita anak-anak. Kadangkala ia mengajak putrinya bermain di playground di mal-mal Jakarta atau berenang. Ia sendiri suka berenang, lalu memberi penjelasan ini, “Kurasa Hemingway pernah bilang bahwa syarat pertama untuk menjadi penulis adalah kamu harus sehat.”

Dimuat di rubrik “Dunia Pria” Majalah Dewi edisi Februari 2014.