Multi-Bakat

Seperti lembaga bisnis, seseorang (individu), juga bisa merambah bidang pekerjaan maupun kegiatan ke sana-kemari. Jika perusahaan semacam itu menyebut dirinya sebagai “konglomerasi”, maka individu bolehlah kita sebut sebagai “multi-bakat”. Bukankah pada dasarnya begitu? Seseorang yang bisa mengerjakan banyak hal, di jenis-jenis yang berbeda, kita sebut sebagai multi-bakat?

Julukan ini bisa terdengar negatif maupun positif, tentu saja. Tergantung bagaimana kita melihatnya. Kadang-kadang saya merasa bahwa orang semacam ini serakah (saya sering merasakan keserakahan semacam ini di dalam diri saya sendiri). Kadang saya berpikir bahwa sebenarnya tak ada bakat sama sekali dalam diri orang semacam ini: ia hanya mencoba berbagai hal untuk menutupi ketidakmampuan dirinya dalam segala hal itu. Hal begini ada juga di dalam diri saya, dan sering membuat saya berpikir-pikir sendiri dan ngedumel sendiri. Tapi lain kali timbul pula pikiran positif saya. Seperti dalam bisnis, konglomerasi timbul untuk efisiensi diri. Mungkin begitu pula dalam diri individu.

Baiklah, mari kita lihat dari sudut pandang positif dulu. Perusahaan sepatu yang besar, barangkali akan lebih efisien jika ia memecah dirinya dalam banyak perusahaan yang lingkup kerjanya berbeda-beda, tapi berkesinambungan. Pertama-tama, ia tentu punya perusahaan induk, yang barangkali hanya mengurus bisnis sederhana: mengelola uang dan brand. Ia kemudian mendirikan perusahaan manufaktur; biasanya ditempatkan di negara-negara berkembang agar ongkos kerja murah, demikian juga barangkali pajak.

Perusahaan manufaktur ini seringkali merupakan joint-venture dengan perusahaan lokal. Nah, agar perusahaan lokal tidak macam-macam (mengurangi spesifikasi, membuat produk lebih banyak daripada yang dipesan), perusahaan induk harus mengontrol bahan baku produk yang masuk manufaktur. Agar terkontrol, dibuatlah perusahaan-perusahaan yang menghasilkan bahan baku sepatu: perusahaan garmen untuk memasok kain, perusahaan karet untuk memasok sol, perusahaan pengelolaan kulit untuk memasok kulit.

Hmm, barangkali mereka juga menguasai perusahaan perkebunan kapas, perusahaan perkebunan karet, dan perusahaan peternakan untuk menghasilkan kulit. Itu untuk menjamin pasokan bahan baku mereka. Ini untuk hulu. Di hilir: mereka mendirikan perusahaan merchandise, menguasai jaringan toko, kalau perlu mal.

Konglomerasi tidak selalu dari hulu ke hilir dalam proses produksi barang. Bisa juga bersifat keuangan. Perusahaan sepatu ini barangkali memiliki perusahaan bank. Tentu saja itu untuk menjamin arus modal yang lancar. Mereka juga mungkin punya perusahaan properti. Dunia bisnis memang sudah lama berubah petanya, tapi lokasi toko yang baik masih sering menjadi faktor keberuntungan. Saya tak akan heran jika ada perusahaan sepatu yang mengalokasikan dana luar biasa besar untuk mengelola properti. Bisa juga untuk tujuan praktis: investasi.

Baiklah, saya bukan ahli ekonomi. Saya tak akan ngomong lebih banyak soal bisnis sepatu. Tapi bayangkanlah seorang penulis, yang keadaan membuatnya harus merambah ke sana-sini. Seorang penulis novel, barangkali tak lagi hanya perlu menguasai kemampuan berbahasa dan keahlian bercerita. Ia juga perlu menguasai sumber-sumber kreatifnya di hulu. Saya bayangkan, penulis ini keluar dari “core-business”-nya sebagai penulis cerita, dan berinvestasi dengan belajar sejarah, belajar psikologi, belajar antropologi, belajar hukum, belajar apa pun yang menunjang kegiatan utamanya sebagai penulis novel.

Di hilir ia juga barangkali harus menjadi sales, agar novelnya bisa terjual. Kadang-kadang ia harus menjadi pembicara yang baik, harus menjadi stand-up comedian, atau bahkan aktor yang memerankan salah satu tokoh di film yang diangkat dari bukunya. Kenapa tidak? Untuk kebaikan karyanya, untuk menghasilkan penghasilan yang berlipat dari karyanya, itu hal terbaik yang bisa dilakukan oleh seorang penulis (dan profesi lainnya).

Tapi sebagaimana konglomerasi sering juga menjadi tidak efisien, mengerjakan terlalu banyak hal juga bisa menjadi usaha menghambur-hamburkan keringat belaka. Tidak sulit menemukan orang yang diberi label “multi-bakat” (bisa menyanyi, bisa main film, menulis buku, melukis, memasak), tak lebih hanya menghasilkan karya-karya medioker yang hanya bisa dipuji karena kuantitas dan keragamannya belaka.

Dan saya? Jelas tampaknya saya tidak dalam kategori “multi-bakat”. Lebih payah dari itu: saya merasa enggak punya bakat dalam banyak hal, karena itu suka mencoba banyak hal. Tentu saja pekerjaan utama saya (sekali lagi: pekerjaan, bukan bakat) adalah penulis. Di waktu luang saya kadang menggambar, membuat desain, sesekali memasak (jarang sekali), dan pernah berusaha menjadi filsuf dan penyanyi (gagal, tentu saja). Lebih dari itu: semuanya tidak membuat pekerjaan utama saya lebih efisien. Tapi tak apa. Menulis seumur-umur dan tak mengerjakan hal lain di sela-sela waktu menulis, saya jamin, bukan keadaan yang menyenangkan.

Jadi berbahagialah kamu sekalian, yang dianugerahi “multi-bakat” dan bisa menjadikan pekerjaanmu efisien. 

 

One comment on “Multi-Bakat

  1. toto says:

    Tapi memang mencari manusia yang bisa multibakat biasanya sangat susah mas. Mungkin tergantung didikan dimasa kecil juga ya (jadi orang tua ikut mengarahkan). Saya sendiri sepertinya cuma punya bakat jadi pegawai saja. padahal kadang2 pengen jadi wirausahawan. Tapi mungkin karena tidak punya bakat jadi bingung mau apa. Padahal ada temen yang melihat apa-apa bisa jadi uang. Kok aku cuma ngelihat jadi pegawai yang bisa menghasilkan uang ya. he..he..
    tulisan yang bagus mas..

Comments are closed.