Mojave: Perempuan Tua di Belakang Konter

Di sebuah minimarket di pinggiran Mojave Desert, sambil minum soda kaleng seharga satu dolar yang saya beli dari mesin, saya memperhatikan perempuan tua di belakang konter. Ia membungkusi barang-barang yang dibeli pelanggan, mengembalikan uang kembalian, dan bersenda gurau dengan pengunjung. Tiba-tiba saya bertanya kepada diri sendiri tentang “roh” Amerika.

Dimanakah terletak “roh” Amerika? Jika saya boleh berpendapat, salah satunya akan saya sebut Mojave Desert. Itu merupakan padang batu yang membentang dari negara bagian California hingga Nevada, lalu menyambung pula menuju Arizona. Sebagian daerahnya juga terdapat di Utah. Saya tak bisa menyebutnya padang rumput, meski di sana ada belukar tumbuh; tidak pula padang pasir, meski di sana tentu terhampar pasir, di atas batu-batu masif sebesar gunung. Di sini pula kita akan menemukan satu daerah bernama Death Valley atau Lembah Kematian.

Saya melakukan perjalanan darat dari Los Angeles menuju Las Vegas membelah gurun ini di awal Mei, melalui Route 15. Dari Las Vegas berbalik menuju San Fransisco melalui Route 95, sebelum berbelok melalui Tahoe Lake. Dalam perjalanan pertama sekitar lima jam, diseling dua kali istirahat, saya hanya menyaksikan hamparan tanah yang tandus. Anda mungkin akan terkejut oleh fakta bahwa di sana hidup tak kurang dari 1500 jenis spesies tanaman, meski yang mudah dikenali barangkali hanya sejenis pohon Joshua di sana-sini. Barangkali agak konyol, tapi bagi orang yang seumur-umur hidup di kenyamanan tropis, sejujurnya saya agak kasihan membayangkan orang-orang Amerika harus hidup dengan alam yang ganas semacam itu.

Sepanjang jalan tersebut, hanya beberapa permukiman yang tampak. Sebagian besar bergerombol di sekitar pom bensin atau tempat-tempat istirahat bagi kendaraan yang lewat di jalan bebas hambatan tersebut. Di tempat semacam itulah kita bisa melihat sopir-sopir truk, bagai koboi-koboi pengelana yang kesepian, rehat di restoran-restoran siap saji semacam Carl’s Jr. atau Jack in the Box. Kadang-kadang mereka bertukar sapa atau ngobrol dengan sesama sopir truk. Saya membayangkan mereka sebagai pengelana-pengelana yang membawa sekop untuk mencari emas di ladang-ladang California, satu babakan awal yang membawa bangsa Amerika ke kemajuan seperti tampak sekarang.

Lembah Kematian

Menurut statua dan cerita, pada bulan Desember 1849 dua kelompok pemburu emas yang tengah menuju Lembah Emas California melewati Lembah Kematian dalam rangka memperoleh jalur terpendek. Mereka membawa tak kurang dari 100 kereta, ternyata terjebak di sana tanpa memperoleh jalan keluar, memaksa mereka memakan sendiri sapi peliharaan untuk bertahan hidup. Meski berhasil menemukan beberapa sumber mata air, mereka juga dipaksa mempreteli kereta mereka, diambil kayunya untuk bahan bakar.

Meski harus menelantarkan kereta-kereta bawaan, mereka berhasil keluar dari sana. Satu kelompok naik melalui daerah selatan, sisanya melalui pegunungan utara. Saat itu, salah seorang perempuan di antara mereka berbalik dan mengucapkan salam, “Goodbye Death Valley.” Sejak itulah, konon, tempat itu dinamakan Lembah Kematian hingga hari ini. Dan itu bukan omong kosong; beberapa titik merupakan lembah-lembah yang menukik hingga 900 meter di bawah permukaan laut. Beberapa tempat lain, juga merupakan salah satu tempat terpanas dan terkering di Amerika, disebabkan tak adanya air di permukaan tanah. Suhunya bisa mencapai 50 derajat celsius di bawah dan di atas nol.

Fakta bahwa orang-orang sini bisa bertahan hidup di tengah ketandusan semacam itu sejujurnya membuat saya kagum. Bahkan sebenarnya bisa dikatakan, mereka berhasil mengubah sesuatu yang tampak ganas menjadi ladang bisnis yang mencengangkan. Tengoklah misalnya kota semacam Las Vegas. Semua orang tahu, kota itu terletak di tengah hamparan gurun sejauh mata memandang, tanpa apa pun sebagai sumber penghidupan. Namun mereka berhasil menyulapnya menjadi kota dengan kasino, mall, hotel dan aneka hiburan. Para pelancong dari penjuru dunia berdatangan menggelontorkan dolar. Penduduk kota hidup dengan cara seperti itu.

Kisah mengenai Las Vegas pasti sudah banyak orang yang tahu. Namun dalam skala yang lain, kita bisa melihat kisah serupa itu di sepanjang jalan yang membelah-belah Mojave Desert. Selain sopir-sopir truk yang harus melintasi daerah kering hanya berteman deru roda truknya sendiri, angin gurun, atau barangkali radio AM yang secara ajaib terus bisa tertangkap entah dari Nevada atau California, kita juga bisa melihat orang-orang yang bertahan tinggal di kantung-kantung kota kecil laksana oase. Mereka umumnya membuka pom bensin, minimarket, restoran cepat saji, atau motel; meski kebanyakan berupa usaha jaringan.

Itulah mengapa saya mengatakan Mojave Desesrt sebagai salah satu “roh” Amerika, karena ia menggambarkan dengan nyata semangat, atau “impian” Amerika, yang tertanam sejak masa gold rush dan koboi di masa lampau. Semangat bisnis mereka tetap berkobar-kobar di tengah tanah tandus semacam itu, meski saya tahu mereka juga kedinginan di saat malam, dan seperti saya, beberapa juga mengoleskan lipsgloss untuk menangkal bibir kekeringan.

Mereka tak hanya mengubah tempat-tempat istirahat di pinggir jalan bebas hambatan sebagai oase penghidupan, bahkan di beberapa tempat, daerah-daerah tersebut menjadi resor yang menyenangkan. Di Lembah Kematian sendiri, kita bisa menemukan padang golf yang ditumbuhi pohon-pohon cemara, hijau dan sejuk. Sementara itu di Sungai Colorado, kita bisa singgah ke Hoover Dam. Itu bendungan yang dibangun tahun 1931. Meskipun terletak di kesunyian padang batu, bendungan tersebut merupakan sumber energi utama untuk kota semacam Las Vegas. Sayang dua tahun ke depan bendungan tersebut akan tertutup bagi turis, sebagai gantinya mereka tengah membangun jembatan panjang. Konon karena pemerintah mencemaskan bendungan ini menjadi sasaran teroris.

Tentu saja tidak semua itu diubah fungsinya sebagai tempat usaha belaka. Sebagaimana kita ketahui, Amerika memiliki banyak taman nasional. Di sekitar Las Vegas, kita bisa mampir (penduduk lokal malah menyarankan “wajib” mampir) ke Red Rock. Telah disediakan jalan satu arah yang nyaman, berkelok-kelok, mengelilingi batu-batu cadas yang dibangun oleh alam selama jutaan tahun. Lembah Kematian sendiri juga merupakan taman nasional yang dijaga keberadaannya. Dan di sana-sini kita bisa menemukan tempat berkemah yang dipenuhi muda-mudi, tentu saja jika cuaca mengijinkan seperti bulan Mei.

Have a nice evening

Di setiap minimarket yang saya kunjungi, beberapa merupakan jaringan semacam 7 Eleven, tapi kebanyakan saya berhenti di minimarket pribadi dengan nama pemiliknya, rata-rata saya bertemu dengan pelayan kasir yang ramah. “Have a nice evening,” kata seorang penjaga kasir di sebuah kota kecil, barangkali lebih tepat disebut desa, bernama Lone Pine. Mereka kadang mengajak ngobrol terlebih dahulu, memandang heran kepada saya, seringkali bertanya, “It’s your first trip here?”

Selepas urusan visa yang bertele-tele (di hari yang sama mengurus visa di kedutaan Amerika, Jakarta, dalam antrian saya paling tidak 80% pemohon ditolak), diteruskan oleh imigrasi yang penuh kecurigaan (sebagai orang yang baru pertama kali berkunjung, saya harus masuk Secondary Room dan dipaksa menunggu hampir lima jam), keramahtamahan penduduk Amerika terasa mencengangkan bagi saya. Terutama jika mengingat kasir-kasir minimarket dan supermarket di mall-mall Jakarta cenderung bertampang jutek; jikapun mereka tersenyum, atau menyapa, senyum dan sapaannya seragam bagai terprogram.

Pemerintah Amerika sepatutnya memang berterima kasih kepada penduduknya, yang menampakkan wajah yang berbeda dengan citra pemerintah Amerika yang terkesan arogan dan doyan perang.

Di kota-kota kecil Indonesia, kita sering melihat orang kulit putih, atau hitam, menjadi perhatian penduduk karena “keasingan” mereka. Penduduk biasanya mengcapkan “Hallo“, sebagai salam perkenalan. Saya mengira itu hanya dilakukan orang Indonesia (beberapa teman bahkan mengejeknya sebagai sikap inferior inlander, apa pun maknanya); dan tidak dilakukan orang Amerika. Memang begitulah kejadiannya jika kita berjalan-jalan di kota besar semacam Los Angeles, Holywood atau Las Vegas. Bukankah di Jakarta pun orang tak terlalu peduli dengan orang asing?

Namun jika kita berjalan dan sering-sering berhenti di sepanjang rute-rute Mojave Desert, dimana terdapat kota-kota kecil dan perkampungan, orang Asia yang keluyuran pasti juga menarik perhatian. Karena penduduknya jarang, mereka tak akan mengerumuni kita, namun satu dua barangkali akan menyapa dengan senyum ramah sambil memakan kentang atau burger. Meskipun begitu, jangan kecwa jika kemudian mereka salah menduga dengan menebak, “Are you from Philippine?”

Ah, ya, mereka memang memiliki hubungan baik dengan Filipina, dan barangkali memang lebih mengenal orang Filipina daripada orang Indonesia. Atau mungkin kita tak cukup mempromosikan diri sendiri, dan pemerintah Indonesia masih sibuk membongkar-pasang susunan kabinet. Mereka hanya akan tersenyum jika tak cukup mengenal nama Indonesia. Namun suatu hari sempat juga saya terkejut ada yang mengenal nama Indonesia, dan semakin terkejut ketika dia membalas:

“Indonesia? Ah, ya, Soekarno, heh?”

Orang itu ingat Soekarno sebagai salah satu pemersatu solidaritas Asia dan Afrika. Seorang profesor asal Iran yang mengajar di UCLA, juga menyebut nama Soekarno begitu mendengar nama Indonesia. Tapi ia tak mengenal presiden terakhir kita. “Pernah membacanya, tapi gampang lupa,” katanya.

Barangkali, di Amerika, nama Indonesia hanya dikenal sebagai sesuatu yang jauh dan lampau. Entah kenapa, di atas batu-batu membara Mojave, itulah yang saya pikirkan. Padang batu ini, dengan ajaib bisa menghidupi orang-orang di sana, bahkan meski harus menyiram rumput setiap hari di oase-oase tertentu, demi ternak mereka. Sementara, di negeri saya yang hijau dan “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”, kita kekurangan beras. Saya pikir, kita layak untuk tersenyum kecut. Sekecut-kecutnya.

Kembali melihat perempuan tua di belakang konter, saya juga tiba-tiba teringat perempuan-perempuan tua yang berjualan di sepanjang Malioboro, Yogyakarta. Mereka tak saling kenal, tapi berkecamuk di kepala saya. Entah kenapa.

NB: sila menikmati foto-foto saya dalam perjalanan ini di sini.

2 comments on “Mojave: Perempuan Tua di Belakang Konter

  1. Ali sahrum says:

    Ow, thank a lot for for your story. Very interest and good.

Comments are closed.