Mo Yan, Nobel Kesusastraan 2012

Ah, salah satu penulis favorit saya, Mo Yan, dianugerahi Nobel Kesusastraan! Meskipun setiap tahun, di sekitar pertengahan Oktober saya selalu mengintip siapa yang memperoleh penghargaan ini, tak pernah saya merasa sesenang hari ini. Saya ingin menulis sedikit catatan soal Mo Yan. Sedikit saja.

Mo Yan merupakan salah satu penulis yang menarik minat saya sejak lama. Saya masih di Yogya, awal tahun 2000an, ketika menemukan novel “The Garlic Ballads”. Di sampul buku, Kenzaburo Oe berkomentar, “Jika saya boleh memilih pemenang Nobel, saya akan memilih Mo Yan.” 11 Oktober 2012, Akademi Swedia mengumumkan, Nobel Kesusastraan diberikan kepada penulis ini. Nama aslinya Guan Moye, ia memakai nama pena Mo Yan yang artinya “Tutup Mulut”.

Saya sudah tergila-gila dengannya sejak “The Garlic Ballads” itu. Bahasanya relatif kasar, konyol, dan adegan-adegannya cenderung brutal. Tabrak sana, tabrak sini, seperti jurus pendekar mabuk. Ia seperti tak suka bermanis-manis. Prosa “The Garlic Ballads” seperti para petani yang diceritakannya: lugu, berlepotan. Di masa ketika saya masih terpesona oleh kesusastraan Amerika Latin, dengan bahasa yang indah dan prosa yang magis, membaca Mo Yan seperti menjungkir-balikkan semua selera itu.

Kebanyakan orang barangkali akan mengingat novelnya yang paling terkenal, “Red Sorghum”. Kisah epik ini, terutama mencuat setelah adaptasi filmnya oleh sutradara Zhang Yimou (diperankan oleh Gong Li) memperoleh sambutan luar biasa di dunia. Film itu seperti membuka pintu bagi sutradara, artis, dan juga penulis novelnya. Tapi bagi saya, “Red Sorghum” barangkali epik biasa saja. Ada gaya realisme magis di sana, yang barangkali dicomot dari para penulis Amerika Latin atau dari William Faulkner. Saya tetap memuja Mo Yan, justru karena “The Garlic Ballads”. Bukan karena itu kisah perjuangan para petani bawang melawan para pejabat korup, bukan karena itu kisah sepasang anak muda yang dimabuk cinta, tapi karena apa yang disebut saya sebelumnya: novel ini menyajikan bahasa dan prosa yang “meracau”. Sesuatu yang saya pikir, itulah yang membuat Mo Yan menarik.