Mimpi Basah Cara Manusia Sumur: Haruki Murakami

Pernah baca Haruki Murakami? Salah satu cerpen saja! Uh, dia sekarang ini mungkin pengarang hebat yang masih hidup dan masih rajin menerbitkan buku. Tidak sembarang buku, tapi buku yang asyik. Tahun lalu saya baca bukunya yang paling baru After Dark. Kejadiannya cuma semalam (ini sih biasa), tentang orang yang tidur nggak bangun-bangun (nah, yang ini gayanya Murakami, kira-kira kayak menyeret kisah al-kahfi si manusia gua yang tidur lama itu, ke setting modern; di Jepang pula!).
 
Seperti biasa pembaca yang malas, saya membaca Haruki Murakami awalnya hanya cerpen-cerpennya. Lumayan pendek untuk dibaca sambil makan donat, meskipun nggak bisa dibilang lebih pendek dari cerpen kebanyakan di Indonesia (yang sejujurnya cuma sepanjang satu jengkal setengah agar bisa dimuat di koran dan dapat honor 300rb sampai 1,5 juta tergantung korannya).

Jadi, apa boleh buat, saya baru baca buku-buku tebalnya agak lebih belakangan, ketika (saya kira) sudah ada waktu. Yang paling terakhir, ini dia, The Wind-up Bird Chronicle. Kayaknya ini buku dia yang paling tebel, deh. Dua bulan saya baca, sebelum tidur dan bangun tidur. Siang hari harus mengerjakan hal lain. Malam hari … mu favorite job: tidur. Nah ngomong-ngomong, saya terkagum-kagum dengan si tokoh Toru Okada yang bisa nyaman tinggal di sumur (ugh, ini lagi yang aneh dari Murakami).

Jujur saja, awalnya saya agak nyari-nyari bagian yang ngeseks-ngeseks. Biasa, Murakami jagonya soal beginian. Ternyata nggak banyak … tapi ada, lah! (tunggu dulu, saya ngomong soal sumur belakangan, ya!). Yang paling seru adalah mimpi basahnya. Nggak asyik, ya? Tunggu dulu. Si Toru Okada ini suatu hari (dua ato tiga kali) mimpi basah gara-gara dia mimpi make-love sama seorang perempuan yang beberapa kali datang ke rumahnya untuk jadi semacam cenayang. Eh, ternyata si perempuan ini tahu kalo Toru Okada memimpikannya, bahkan sampai orgasme. (Ah, bayangkan, pasti memalukan, ya?) Ternyata perempuan itu mengaku sebagai: pelacur dalam pikiran! Ya, ia sengaja datang ke dalam mimpimu untuk membuatmu “keluar” (ouch!). Keren, ya?

Sebenarnya novel ini jauh lebih berat daripada yang saya coba bayangkan … tapi tahu sendirilah, saya lebih tertarik bagian-bagian yang asyiknya: salah satunya tentang kebiasaan Toru Okada masuk sumur. Saya nggak tahu darimana Murakami dapat gagasan semacam itu: seorang lelaki yang ditinggal istrinya, masuk ke “dunia lain” dengan cara duduk di dalam sumur kering sambil menggenggam tongkat bisbol. Pikir-pikir, apakah ada hubungannya dengan kecenderungan pendekar Jawa yang suka semadi di gua untuk cari ilmu, ya? Eh, bahkan Nabi pun bukannya dapat wahyu dengan menyepi di gua? Nah … maksud saya itu: sebenarnya itu kan kelakuan yang sudah biasa dari zaman-ke-zaman … tapi menjadi sangat lain ketika dibawa kembali ke satu sudut kota Tokyo.

Kalau dalam film, saya selalu membayangkan bahwa film yang baik paling tidak memiliki sesuatu yang mendasar: menampilkan gambar yang berbeda! Ya, ya, kita tahu, there’s nothing new under the sun, tapi itu dia, gimana sesuatu yang udah kita akrabi menjadi sesuatu yang unik dan berbeda (saya mau kasih tau kebosanan saya dengan salah satu adegan film Hollywood yang paling klise: anak kecil main teater atau bisbol, tapi ternyata bapak/ibunya nggak bisa nonton karena sibuk … aduh … basi!). Di novel, apa yang membuat Murakami asyik adalah: apa yang sebenarnya klise dia bikin menjadi sesuatu yang tak lagi basi. Contohnya ya itu, manusia sumur! Jangan tanya karakter-karakter lain semicam komputer geek yang bisa memecahkan berbagai kode. Selain itu, tema-tema ceritanya, juda settingnya, adalah dunia keseharian urban kota (tepatnya Tokyo), yang saya yakin dialami oleh kebanyakan orang di dunia global ini (tentu saja orang-orang urban — jangan keterlaluan membandingkannya dengan penduduk, misalnya, di pedalaman Tasikmalaya selatan!).

Salah satunya lagi, adalah mimpi basah yang sudah saya ceritakan. Berapa banyak sih novel yang menceritakan mimpi basah? Barangkali semua novel menyinggung persetubuhan, tapi mimpi basah? Padahal itu kan pengalaman umum semua lelaki (perempuan juga, kalau kebetulan mimpi kena tumpahan minyak). Buat saya ini jadi semacam tantangan: menemukan sesuatu yang saking biasanya, tak pernah terpikirkan oleh orang lain (terutama penulis!). Hmm… apa, ya?

9 comments on “Mimpi Basah Cara Manusia Sumur: Haruki Murakami

  1. chiclinda says:

    haha jd tertarik bcnya =p

    chiclinda:
    haruki murakami emang asik, kok! :)
    (ekakurniawan)

  2. sloth says:

    haruki murakami halus dan menghatukan seperti ledakan

  3. dobby says:

    saya juga ngefans tuan Murakami, mas. Tapi baru baca yang edisi indonesia-nya, Norwegian Wood dan Kafka on the Shore. Salut sama penulis hebat ini. Katanya After Dark bakal diterjemahin juga ya? kapan ya?

  4. “It’s not a question of better or worse. The point is, not to resist the flow.” – Mr. Honda

    Kutipan favorit sementara. Baru baca sampe Bab 8 seh :)

  5. uchi says:

    waaahh.. senengnya bs nemuin para penggemar Haruki Murakami. aq lagi mulai nulis skripsi dari Novel Norwegian Wood’y nih…Rencananya sih mw nagmbil Aspek Erotismenya…Ada yang bsa bantu?????!!!

  6. desi says:

    emang mantap mas eka, buku-bukune haruki…wah aku kudu hunting dulu ke gramed jogja dari purwokerto demi bisa membaca (dan akhirnya membeli) buku haruki…..susahnya cari buku-bukunya kalo ga ke kota besar langsung……

  7. Sisya says:

    Waduuuuh baru tau Haruki Jagoan soal menceritakan sesuatu yang ngeseks-ngeseks segala. Kirain selama ini cuma jago surrealisme saja. :)

  8. gibb says:

    saya suka banget dengan cara haruki murakami menceritakan adegan seks. Nggak norak gitu, diceritakan dengan cool dan dingin

  9. teru says:

    Ada yang punya cerpen haruki murakami nggak yang dalam bahasa indonesia? (atau bukunya dalam bentuk e-book mungkin?)
    Tolong share ke sini donk dotacoholic23@yahoo.com

    Thanks banget, ya!

Comments are closed.