Merayakan Kembali Kekuatan Dongeng

oleh Kurniawan, detik.com
Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya
Gramedia Pustaka Utama, 2005

Kekuatan dari sebuah cerita pendek (cerpen) adalah kemampuannya untuk melukiskan seringkas mungkin sebuah peristiwa secara padu dalam ruang sempit yang tersedia. Cerpen-cerpen Eka Kurniawan yang dikumpulkan dalam buku Corat-coret di Toilet ini nampak mampu memanfaatkan ruang yang terbatas tersebut. Meski, dalam beberapa cerpennya, Eka masih belum cukup hemat dalam menyusun kalimat dan membangun cerita.

Misalnya, dalam “Kisah dari Seorang Kawan” yang berbentuk cerita berbingkai. Bingkainya adalah kisah percakapan beberapa aktivis mahasiswa tentang orangtua masing-masing. Inti cerpen ini adalah kisah seorang mahasiswa tentang ayahnya yang pedagang beras kecil tapi dipenjara karena membunuh seorang pedagang besar yang berhasil menguasai pasar beras dan merebut pelanggan-pelanggan para pedagang kecil itu.

Sebenarnya, inti cerita ini cukup kuat dan bermakna. Tapi, bingkai utama cerita jadi kehilangan kekuatan dan terkesan hanya mendramatisir “kemiskinan” dan “orang-orang kalah” yang menjadi tema utamanya.

Pemborosan kalimat -kalau boleh diistilahkan begitu- muncul pula dalam “Corat-coret di Toilet”. Disini banyak peristiwa pencoretan dinding toilet oleh beragam orang jadi perulangan adegan yang semestinya bisa dipadatkan sehingga bisa menyeruakkan tema utamanya.

Secara umum, cerpen Eka ini merayakan kembali kekuatan dongeng. Bahkan, beberapa cerpennya “meminjam” dongeng-dongeng yang sudah familiar. Perhatikan kemiripan gagasan antara “Dongeng Sebelum Bercinta” dengan Kisah 1001 Malam, juga “Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam” yang mirip Cinderella.

Meminjam istilah yang sering muncul dalam cerpen-cerpennya, Eka nampaknya tengah mencoba jadi “subversif”. Teks atau dongeng yang ada dilawan dengan teks baru yang merupakan versi lain dari tafsirnya. Bagaimana sosok Peter Pan disubversikan dalam cerpen Peter Pan menjadi sosok mahasiswa yang “tak mau tua”, seorang mahasiswa abadi dan aktivis yang tak putus asa meski akhirnya jadi korban penculikan. Namun, apa yang dilakukannya nampak belum cukup subversif sehingga bisa menggetar pembaca.

Cerpen-cerpen disini pernah dimuat di Hai, Bernas, Media Indonesia, Terang, dan Terompet Rakyat. Buku ini adalah buku kedua Eka, setelah bukunya yang laris di pasar, Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (Aksara Indonesia, 1999).

Tulisan ini pernah diterbitkan di detik.com, 25 Agustus 2000.